Pagi yang penuh ketenangan mewarnai suasana Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim No. 202, Pasuruan, Sabtu (15/8/2026). Dalam kajian kuliah subuh yang diikuti para jamaah, Ust. Muhammad Said Mahfudz mengupas makna kemerdekaan secara lebih mendalam, tidak hanya dalam konteks kebangsaan, tetapi juga sebagai bentuk pembebasan diri untuk semakin dekat dan tunduk kepada Allah SWT.
Penyampaian materi diawali dengan muqaddimah yang penuh keberkahan, mengumandangkan salam, serta memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Tak lupa, shalawat serta salam tercurah kepada Baginda Nabi Agung Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah sepanjang zaman.
Dalam uraiannya, Ust. Muhammad Said Mahfudz mengajak jamaah untuk merenung dan mengoreksi diri: Sejauh mana kita telah mengisi kemerdekaan secara sejati?
Menurut pandangan Islam, kemerdekaan sejati tidak hanya sebatas bebas dari penjajahan fisik, melainkan ketaatan total kepada Sang Pencipta. Dalam menentukan arah dan teladan terbaik untuk mengisi kemerdekaan tersebut, tidak ada contoh yang lebih sempurna selain langkah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW saat peristiwa besar Hijrah dari Makkah ke Madinah (Yatsrib)—sebuah momentum perjuangan yang dibimbing langsung oleh Allah SWT.
Masjid sebagai Fondasi Peradaban
Ust. Muhammad Said Mahfudz menekankan bahwa hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW setibanya di Madinah bukanlah membangun benteng pertahanan atau pusat ekonomi, melainkan mendirikan Masjid. Keputusan monumental ini mengandung hikmah mendalam bagi umat dalam membangun bangsa dan mengisi kemerdekaan.
Mengapa harus masjid yang menjadi prioritas utama? Beliau merinci empat alasan mendasar:
Membangun dan Mempersatukan Hati Umat: Masjid menjadi tempat meluruhkan sekat-sekat perbedaan, menyatukan hati warga dalam ikatan ukhuwah yang kokoh.
Pusat Menuntut Ilmu: Tempat mengajarkan syariat, akhlak, dan ilmu pengetahuan guna mencetak generasi yang beradab dan berwawasan.
Pusat Solusi Problematika Masyarakat: Tempat bermusyawarah dan menyelesaikan berbagai persoalan keumatan maupun sosial secara adil.
Sarana Silaturahmi dan Gotong Royong: Ruang untuk saling mengenal (ta’aruf), menumbuhkan empati, serta memperkuat budaya saling membantu antar sesama.
Melalui spirit tersebut, mengisi kemerdekaan hendaknya dimulai dari memakmurkan masjid dan menjadikan nilainya sebagai landasan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Kegiatan kuliah subuh ini kemudian diakhiri dengan panjatan doa bersama untuk kebaikan bangsa, kemakmuran umat, serta ditutup secara tertib dengan doa kafaratul majlis.












