Menjalani kehidupan di dunia sering kali membuat manusia terjebak dalam rutinitas pencarian materi, penyelesaian studi, hingga pemenuhan kebutuhan eksistensial yang mekanis. Namun, bagi seorang mukmin, ada garis batas tegas yang memisahkan antara sekadar bertahan hidup dan hakikat penciptaan.
Pesan mendalam ini menggema dalam khutbah Jumat yang disampaikan oleh khotib M. Muslimaini Errifai di Masjid Baitul Huda pada (31/07).
Dalam khutbahnya, M. Muslimaini Errifai menegaskan bahwa esensi penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. Merujuk pada Al-Quran Surat Az-Zariyat ayat 56, ia mengingatkan jemaah akan tujuan eksistensial tersebut secara absolut.
Namun, pengabdian ini tidak boleh dilakukan secara membabi buta. Ada tuntutan nalar dan metodologi syariat yang menuntut diterapkannya ilmu dalam setiap embusan napas penghambaan.
“Bukan tidak penting kita mencari penghidupan, menyelesaikan studi, atau memikirkan pernikahan. Namun, menjadi catatan krusial bahwa semua hal tersebut hanyalah wasilah, dan puncaknya harus diletakkan dalam bingkai mencari keridaan serta kedekatan kepada Allah,” ujar M. Muslimaini Errifai di hadapan jemaah Masjid Baitul Huda.
Lebih lanjut, ia membedah tiga poin fundamental mengapa ibadah wajib bersanding erat dengan ilmu. Ketiganya menjadi jangkar agar manusia tidak tersesat dalam labirin spiritualitas yang semu atau terjebak dalam formalitas ritual tanpa makna.
1. Penolakan Ibadah tanpa Tuntunan Ilmu yang Sahih
Poin pertama yang disorot tajam oleh M. Muslimaini Errifai adalah bahaya memodifikasi ibadah ritual. Dalam Islam, urusan ritual murni (ibadah mahdah) bersifat tauqifiyah—artinya, jalurnya sudah baku dan tidak membuka ruang bagi kreativitas manusia.
Segala bentuk kreasi spiritual tanpa dalil yang sahih justru akan merusak kemurnian agama. Ia mengutip hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
“Man ‘amila ‘amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa raddun.”
“Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amalan tersebut tertolak. Al-Imam Ibnu Ruslan dalam syairnya yang masyhur juga ditegaskan kembali oleh khotib, bahwa setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka aksi-aksi spiritualnya akan mentah kembali dan tidak diterima.“
2. Bahaya Ikut-Ikutan (Taklid Buta) dan Tren Spiritual Semu
Poin kedua menyasar fenomena sosiologis yang kerap melanda generasi hari ini: ikut-ikutan atau taklid buta—yang dalam istilah kontemporer populer dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Banyak orang melakukan ritual atau gerakan keagamaan semata karena tren, tanpa mengetahui dasar hukumnya.
M. Muslimaini Errifai secara tegas mengingatkan bahwa Islam melarang keras sikap mengekor tanpa dasar pengetahuan. Merujuk Al-Quran Surat Al-Isra ayat 36, manusia diperingatkan bahwa pendengaran, penglihatan, dan hati nurani kelak akan dimintai pertanggungjawaban secara rigid. Ilmu diposisikan sebagai kompas agar keimanan seseorang bersifat kokoh dan mandiri.
3. Ilmu sebagai Kompas Arah Kehidupan
Sebagai pamungkas, khotib memberikan metafora yang kuat mengenai hubungan antara ilmu dan amal. Ilmu diibaratkan sebagai kompas penunjuk arah yang presisi, sementara amal ibadah laksana kapal besar yang mengarungi samudra luas. Kapal sekuat dan semegah apa pun akan mudah tersesat atau karam di tengah badai jika tidak memiliki arah kompas yang jelas.
Bekerja keras atau beribadah tanpa ilmu dipandang sebagai sebuah kesia-siaan yang melelahkan. Sebaliknya, dengan panduan ilmu, setiap persoalan hidup dan dinamika peribadatan dapat diselesaikan secara ringkas, bijak, efisien, dan tuntas. Ilmu memotong kompas kebingungan menjadi kepastian syariat.
Memasuki khutbah kedua, M. Muslimaini Errifai kembali menyerukan jemaah untuk terus menyalakan api literasi keagamaan dan menghadiri majelis ilmu. Menjemput Sang Khalik dengan ilmu berarti mempersiapkan kepulangan dengan kesadaran penuh—sebuah perjalanan spiritual yang rasional, tulus, sekaligus transendental.













