Pasuruan, 5 Juli 2026 – Kajian Ahad pagi di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, diisi oleh Ustadz Ahmad Baidowi yang mengajak jamaah memperbanyak istigfar dan bertobat kepada Allah SWT selama kesempatan masih terbuka. Kajian kali ini mengulas tafsir Surah Al-Baqarah ayat 37–39 tentang diterimanya tobat Nabi Adam AS setelah melakukan pelanggaran terhadap larangan Allah.
Mengawali kajian, Ustadz Ahmad Baidowi mengingatkan bahwa kehadiran jamaah dalam salat berjamaah dan majelis ilmu merupakan bentuk memenuhi panggilan Allah SWT. Menurutnya, majelis Al-Qur’an menjadi sarana untuk memahami petunjuk Allah sekaligus memperbaiki diri.
Materi utama kajian berfokus pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 37–39:
«”Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah menerima tobatnya. Sungguh, Dialah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)»
Dilanjutkan dengan firman Allah:
«”Kami berfirman, ‘Turunlah kamu semua dari surga. Kemudian jika benar-benar datang petunjuk-Ku kepadamu, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, mereka tidak akan merasa takut dan tidak bersedih hati.'” (QS. Al-Baqarah: 38)»
Serta ayat berikutnya:
«”Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39)»
Dalam penjelasannya, Ustadz Ahmad Baidowi menerangkan bahwa Nabi Adam AS melakukan kesalahan setelah tergoda tipu daya Iblis. Namun, berbeda dengan Iblis yang tetap sombong dan menolak bertobat, Nabi Adam segera mengakui kesalahannya dan memohon ampun kepada Allah.
Ia mengutip doa Nabi Adam yang juga terdapat dalam Surah Al-A’raf ayat 23:
«”Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)»
Menurutnya, doa tersebut menjadi bukti bahwa Allah membuka pintu ampunan bagi siapa pun yang benar-benar menyesali dosanya.
“Tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni Allah selama seseorang sungguh-sungguh bertobat sebelum ajal menjemput,” ujar Ustadz Ahmad Baidowi.
Dalam ceramahnya, ia juga menjelaskan perbedaan antara sikap Nabi Adam dan Iblis. Kesalahan Adam diikuti dengan penyesalan dan permohonan ampun, sedangkan Iblis tetap mempertahankan kesombongannya dengan merasa lebih mulia daripada Adam.
Selain menafsirkan ayat Al-Qur’an, penceramah juga menyampaikan sejumlah kisah tentang perjalanan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi, termasuk kisah mengenai kehidupan keduanya, perjuangan mencari makanan, hingga pertemuan kembali. Kisah-kisah tersebut disampaikan sebagai bagian dari penjelasan tafsir yang banyak ditemukan dalam literatur klasik, meskipun sebagian di antaranya memerlukan kajian lebih lanjut mengenai kekuatan riwayatnya.
Ustadz Ahmad Baidowi juga mengingatkan bahwa kesempatan bertobat hanya berlaku selama seseorang masih hidup. Ia membandingkan diterimanya tobat Nabi Adam dengan kisah Fir’aun yang baru mengaku beriman ketika ajal telah datang sehingga tobatnya tidak diterima.
Mengakhiri kajian, ia mengajak jamaah memperbanyak istigfar, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta saling memaafkan dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.
“Allah Maha Penerima Tobat dan Maha Penyayang. Karena itu, jangan menunda meminta ampun kepada Allah. Perbanyak istigfar, saling memaafkan, dan kembali kepada tuntunan Al-Qur’an dan sunnah sebelum datangnya kematian,” pesannya.
Kajian ditutup dengan ajakan agar setiap Muslim senantiasa mengingat Allah dalam setiap keadaan, sebagaimana perintah-Nya untuk selalu berzikir dan tidak menunda pertobatan, sebab tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan tiba.
Editor: Marjoko












