Pasuruan, 28 Juni 2026 – Kajian Ahad Pagi di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, menghadirkan Ustadz Arifin Achmad sebagai pemateri. Dalam kajian tersebut, jamaah diajak memahami tata cara shalat berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, khususnya mengenai posisi tangan saat berdiri, bacaan dalam shalat, hingga adab membaca Al-Qur’an.
Ustadz Arifin menegaskan bahwa ibadah shalat merupakan ibadah yang bersifat tauqifiyah, yaitu tata caranya harus mengikuti tuntunan Rasulullah SAW tanpa menambah ataupun mengurangi berdasarkan kreativitas pribadi.
“Shalat tidak boleh dikreasikan. Semua gerakan dan bacaannya harus memiliki landasan dari Al-Qur’an maupun hadis,” jelasnya.
Pada kesempatan itu, ia menerangkan posisi tangan setelah takbiratul ihram. Menurutnya, praktik yang umum dilakukan masyarakat Indonesia mengikuti mazhab Syafi’i, yakni meletakkan tangan di antara dada dan pusar dengan tangan kanan memegang pergelangan tangan kiri secara proporsional.
Selain membahas gerakan, Ustadz Arifin juga mengulas beberapa doa iftitah yang sahih. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan beberapa redaksi doa iftitah sehingga umat Islam diperbolehkan memilih salah satunya sesuai riwayat yang benar.
Materi kemudian berlanjut pada pentingnya membaca ta’awudz sebelum membaca Al-Qur’an dalam shalat. Ia mengutip firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 98 sebagai dasar anjuran memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan sebelum membaca Al-Qur’an.
“Setan selalu berusaha mengganggu kekhusyukan orang yang sedang shalat. Karena itu jangan meremehkan bacaan ta’awudz sebelum membaca Al-Fatihah,” ujarnya.
Pembahasan berikutnya menyinggung bacaan basmalah. Ustadz Arifin menjelaskan adanya perbedaan riwayat mengenai apakah basmalah dibaca dengan suara keras (jahr) atau pelan (sirr). Menurutnya, kedua cara tersebut memiliki dasar hadis sehingga tidak perlu menjadi sumber perselisihan di tengah umat.
Ia juga mengingatkan agar membaca Surah Al-Fatihah secara perlahan dengan berhenti pada setiap ayat sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW. Dengan cara tersebut, seorang muslim dapat lebih menghayati makna bacaan dan merasakan dialog spiritual dengan Allah SWT.
Dalam penutup kajian, Ustadz Arifin mengajak jamaah membaca surat atau ayat Al-Qur’an yang paling dikuasai ketika shalat. Ia menekankan bahwa tujuan utama bukan menunjukkan hafalan, melainkan menjaga kekhusyukan dan menghindari kesalahan bacaan.
“Allah memerintahkan membaca Al-Qur’an sesuai yang paling mudah dan paling dihafal. Jangan memaksakan membaca surat panjang jika belum benar-benar menguasainya,” pesannya.
Kajian berlangsung dengan suasana penuh perhatian. Setelah penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di mana jamaah berkesempatan mengajukan berbagai pertanyaan seputar praktik shalat sesuai tuntunan Rasulullah SAW.













