Momentum ibadah shalat Jumat di Masjid At-Taqwa, Kelurahan Jagalan, Kota Pasuruan pada Jumat (26/6/2026) berlangsung dengan khidmat. Bertindak sebagai khatib, Ustadz Muhammad Taqiyyudin Yusuf, seorang alumni Pondok Pesantren SPEAM (Sekolah Pesantren Entrepreneur Al-Ma’un Muhammadiyah), menyampaikan khutbah yang mendalam mengenai pentingnya melakukan evaluasi diri atau muhasabah sebelum menghadapi pengadilan akhirat.
Dalam khutbahnya, Ustadz Muhammad Taqiyyudin mengawali wasiat takwa dengan mengutip Al-Qur’an Surat At-Thur ayat 7, yang menegaskan bahwa azab Tuhan pasti akan terjadi. Beliau menceritakan sebuah riwayat dari Imam Ahmad mengenai bagaimana Rasulullah SAW menangis, bahkan hingga jatuh sakit, setelah mendengarkan ayat tersebut.
“Padahal Nabi Muhammad SAW adalah kekasih Allah yang sudah dijamin masuk surga. Namun, begitu besar rasa takut beliau kepada Allah SWT. Lantas, bagaimana dengan kita?” ujar Ustadz Taqiyyudin di hadapan ratusan jamaah Jumat.
Menyambung hal tersebut, khatib juga mengingatkan pesan populer dari sahabat Umar bin Khattab RA, yakni “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah).” Beliau juga mengutip hadis dari Ummul Mukminin Aisyah RA mengenai doa Rasulullah SAW yang meminta agar diberikan hisaban yasira (hisab yang mudah), yaitu kondisi di mana Allah hanya melihat kitab amal seorang hamba lalu memaafkannya.
8 Manfaat Utama Muhasabah Diri
Ustadz Muhammad Taqiyyudin menjelaskan bahwa muhasabah adalah proses evaluasi diri secara jujur yang memiliki dampak besar, baik secara spiritual, emosional, maupun sosial.
Secara rinci, beliau memaparkan 8 manfaat utama jika seorang Muslim konsisten melakukan muhasabah diri:
1. Menyadarkan Diri atas Kesalahan: Menjadi cermin untuk melihat kekurangan dan dosa yang selama ini mungkin diabaikan.
2. Mendorong Perbaikan Diri: Mengarahkan seseorang pada perubahan nyata dalam ibadah, akhlak, dan kehidupan sehari-hari.
3. *Mendekatkan Diri kepada Allah:* Menumbuhkan hati yang luluh untuk bertobat sehingga hubungan dengan Sang Pencipta menjadi lebih tulus.
4. Mengontrol Emosi dan Perilaku: Membentuk pribadi yang tenang, tidak reaktif, dan bijak karena terbiasa mengevaluasi sebelum bertindak.
5. Meningkatkan Kualitas Hidup: Membuat waktu menjadi lebih terarah dan tidak terbuang sia-sia demi menjadi lebih baik setiap harinya.
6. Menumbuhkan Rasa Syukur: Menyadarkan manusia akan banyaknya nikmat Allah yang sering kali terlupakan.
7. Menghindarkan Diri dari Sifat Sombong: Melahirkan sifat rendah hati (tawadhu) karena menyadari diri masih penuh kekurangan.
8. Menjadi Bekal Menghadapi Akhirat: Menyiapkan diri sedini mungkin di dunia sebelum menghadapi hisab yang sesungguhnya.
Mengakhiri khutbahnya, alumni Pesantren SPEAM tersebut mengajak seluruh jamaah untuk berdoa agar senantiasa dibimbing oleh Allah SWT dalam memperbaiki diri di dunia.
“Semoga kelak saat kita dikumpulkan di akhirat, kita semua mendapatkan hisab yang mudah dan dimasukkan ke dalam surga-Nya,” pungkasnya.












