• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Kabar

Pidato Pak Prabowo, “Ndasmu” dan “Emang Gue Pikirin”

Nashrul Muminin oleh Nashrul Muminin
26 detik yang lalu
in Kabar
0
Diksi kontroversial Presiden mencerminkan pergeseran komunikasi politik dari bahasa formal menuju populisme yang sarat makna kekuasaan. (Foto: Nashrul Mu'minin/pasmu.id)

Diksi kontroversial Presiden mencerminkan pergeseran komunikasi politik dari bahasa formal menuju populisme yang sarat makna kekuasaan. (Foto: Nashrul Mu'minin/pasmu.id)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Penggunaan ungkapan “ndasmu” dan “emang gue pikirin” dalam pidato Presiden Prabowo Subianto memicu perdebatan publik yang menarik untuk dikaji melalui pendekatan Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough. Fenomena ini bukan sekadar persoalan pilihan kata, melainkan cerminan perubahan paradigma komunikasi politik di Indonesia yang bergeser dari bahasa birokratis formal menuju bahasa populis yang mengedepankan kedekatan emosional dengan masyarakat. Dalam perspektif Fairclough, bahasa merupakan praktik sosial yang selalu terhubung dengan kekuasaan, ideologi, dan relasi dominasi, sehingga setiap diksi yang keluar dari mulut kepala negara membawa konsekuensi terhadap cara publik memahami kepemimpinan dan relasi antara penguasa dengan rakyat.

Pada dimensi analisis teks, kata “ndasmu” yang secara harfiah berarti “kepalamu” dalam bahasa Jawa dan “emang gue pikirin” yang merupakan ungkapan ketidakpedulian terhadap kritik memiliki karakter yang sangat berbeda dari bahasa formal kenegaraan. Secara linguistik, kedua ungkapan tersebut menghadirkan kesan spontan, akrab, dan tidak berjarak dengan masyarakat, namun di sisi lain berpotensi mengaburkan batas antara komunikasi informal dengan komunikasi institusional yang membawa otoritas negara. Penggunaan bahasa populer ini menunjukkan strategi komunikasi yang sengaja dipilih untuk membangun citra kepemimpinan yang tegas, berani, dan berbeda dari elite politik sebelumnya, sebagaimana dijelaskan Fairclough bahwa bahasa menjadi alat pencitraan yang memperkuat narasi kepemimpinan tertentu melalui pemilihan diksi yang kontroversial.

Dalam dimensi praktik diskursif, Fairclough menekankan pentingnya memahami bagaimana teks diproduksi dan dikonsumsi di tengah era media digital. Potongan pidato Presiden Prabowo dengan cepat menjadi viral dan menyebar luas melalui berbagai platform seperti TikTok, Instagram, dan media sosial lainnya, sehingga fokus publik bergeser dari substansi kebijakan menuju sensasi bahasa yang digunakan. Fenomena ini menunjukkan bahwa pidato politik saat ini tidak lagi hidup hanya di ruang resmi negara, melainkan bergerak cepat melalui media digital, dipotong, ditafsirkan ulang, dan direproduksi oleh berbagai kelompok dengan kepentingan masing-masing. Dalam konteks ini, bahasa menjadi arena kontestasi makna di mana pendukung menafsirkan diksi tersebut sebagai keberanian dan kejujuran, sementara oposisi membacanya sebagai bentuk arogansi kekuasaan dan ketidaklayakan seorang pemimpin negara menggunakan diksi semacam itu di ruang publik.

Pada level praktik sosial, Fairclough melihat bahwa bahasa selalu berhubungan dengan struktur sosial yang lebih luas, termasuk situasi politik Indonesia saat ini yang ditandai oleh tingginya penggunaan komunikasi populis. Pemimpin tidak lagi berbicara dengan bahasa yang sepenuhnya formal, melainkan berusaha membangun kedekatan emosional dengan masyarakat melalui bahasa sehari-hari yang dianggap lebih efektif dalam menciptakan citra pemimpin yang dekat dengan rakyat. Namun demikian, penggunaan diksi kontroversial dalam ruang resmi negara tetap menghadirkan risiko terhadap perubahan standar komunikasi publik, mengingat apa yang diucapkan pemimpin sering kali menjadi contoh bagi masyarakat. Jika diksi yang keras dianggap lumrah, maka budaya diskusi yang santun dapat perlahan terkikis oleh budaya saling mengejek dan merendahkan, sebagaimana diingatkan Fairclough bahwa setiap teks selalu memiliki hubungan dengan struktur sosial yang lebih besar dan dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap negara, kepemimpinan, dan demokrasi.

Related Post

Presiden Prabowo Menyapa Rakyat saat Kunjungan ke Jawa Timur/indobangkit.com

Koperasi Desa Merah Putih, Harapan Baru atau Sekadar Proyek Besar?

17 Mei 2026
Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT

Meramal Bangsa yang Retak

6 April 2026

Menggugat Kesepian di Era Politik Hukum: Peran Kritis Muhammadiyah

3 Agustus 2025

Bukan Sekadar Nama di KTA: Saatnya Kader Muhammadiyah Bicara, Bukan hanya Membaca

3 Agustus 2025

Perdebatan mengenai diksi Presiden Prabowo ini juga tidak dapat dilepaskan dari dimensi etika komunikasi dalam tradisi Islam yang menekankan pentingnya ucapan yang baik bagi seorang pemimpin. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 83 yang memerintahkan umat manusia untuk mengucapkan kata-kata yang baik kepada sesama, serta sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam. Dalam perspektif ini, kualitas ucapan tidak hanya diukur dari efektivitasnya dalam meraih simpati publik, tetapi juga dari nilai etika yang dikandungnya, terlebih bagi mereka yang memegang amanah kepemimpinan. Ketegasan seorang pemimpin dalam merespons kritik idealnya tetap dibingkai dalam bahasa yang menjaga kehormatan publik dan martabat institusi negara, sebagaimana diajarkan dalam etika komunikasi Islam yang menjadikan ucapan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial setiap manusia.

Pendukung Presiden Prabowo berargumen bahwa masyarakat terlalu fokus pada kata-kata tertentu dan melupakan substansi pidato, dengan menekankan bahwa yang lebih penting adalah hasil kerja pemerintahan dibandingkan gaya bahasa yang digunakan. Dalam kerangka Fairclough, argumen tersebut juga merupakan bagian dari pertarungan wacana, yakni upaya mengarahkan perhatian publik dari bentuk komunikasi menuju isi kebijakan. Namun analisis wacana kritis justru menunjukkan bahwa bentuk komunikasi dan isi kebijakan tidak dapat dipisahkan secara sederhana, karena bahasa yang digunakan oleh pemimpin selalu membawa konsekuensi terhadap cara publik memahami dan merespons kebijakan yang disampaikan. Satu kata dapat melahirkan beragam tafsir tergantung latar belakang sosial, budaya, dan politik pendengarnya, sehingga analisis wacana kritis menjadi penting untuk memahami bagaimana bahasa bekerja dalam membentuk opini publik dan relasi kekuasaan di tengah masyarakat yang semakin terpolarisasi.

Pada akhirnya, diskusi tentang diksi Presiden Prabowo Subianto menunjukkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam fase transformasi komunikasi politik yang kompleks, di mana bahasa populis dan bahasa institusional saling bertemu dan bertarung dalam ruang publik. Penggunaan diksi “ndasmu” dan “emang gue pikirin” bukan sekadar ekspresi spontan melainkan bagian dari praktik wacana yang membentuk citra kepemimpinan tertentu, namun seorang presiden bukan hanya individu melainkan simbol negara yang merepresentasikan kewibawaan dan martabat bangsa. Kebebasan berekspresi dalam komunikasi politik perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral dan etika publik, karena bahasa yang tegas memang diperlukan dalam kepemimpinan namun bahasa yang tegas sekaligus santun akan lebih mampu menjaga kewibawaan pemimpin, memperkuat persatuan masyarakat, serta menghadirkan teladan komunikasi yang sehat bagi kehidupan demokrasi Indonesia. Kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan yang dihasilkan, tetapi juga oleh kualitas bahasa yang digunakan dalam ruang publik, sehingga setiap pemimpin memiliki tanggung jawab untuk memilih diksi yang tidak hanya efektif secara politis tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa dan etika komunikasi yang santun.

Editor: Marjoko

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: PidatopolitikPrabowo
ShareTweetShare
Nashrul Muminin

Nashrul Muminin

Related Posts

Presiden Prabowo Menyapa Rakyat saat Kunjungan ke Jawa Timur/indobangkit.com
Opini

Koperasi Desa Merah Putih, Harapan Baru atau Sekadar Proyek Besar?

oleh Aman Ridho
17 Mei 2026
Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT
Opini

Meramal Bangsa yang Retak

oleh Nashrul Muminin
6 April 2026
Image made by AI Generate
Opini

Menggugat Kesepian di Era Politik Hukum: Peran Kritis Muhammadiyah

oleh Nashrul Muminin
3 Agustus 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Khotmil Qur’an dan Pisah Kenang SD Al Kautsar, 101 Siswa Diwisuda, Cetak Prestasi Akademik Membanggakan (foto: Haedar/pasmu.id)

Khotmil Qur’an dan Pisah Kenang SD Al Kautsar, 101 Siswa Diwisuda, Cetak Prestasi Akademik Membanggakan

6 Juni 2026
MI Muhammadiyah dan TK ABA 1 Pasuruan melepas generasi berprestasi menuju masa depan gemilang.

MI Muhammadiyah dan TK ABA 1 Kota Pasuruan Melepas Generasi Berprestasi Menyongsong Masa Depan Gemilang

21 Juni 2026
TK ABA 2 Kota Pasuruan kembali meraih Juara 1 Soeropati Marching Competition 2026 membanggakan. (foto: istimewa)

TK ABA 2 Kota Pasuruan Raih Juara 1 Soeropati Marching Competition 2026

9 Juni 2026
Diksi kontroversial Presiden mencerminkan pergeseran komunikasi politik dari bahasa formal menuju populisme yang sarat makna kekuasaan. (Foto: Nashrul Mu'minin/pasmu.id)

Pidato Pak Prabowo, “Ndasmu” dan “Emang Gue Pikirin”

26 Juni 2026
Lazismu Kota Pasuruan diaudit eksternal untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi pengelolaan dana umat tahun 2025. (Foto: M. Iqbal Septiawan/pasmu.id)

Lazismu Kota Pasuruan Siap Naik Kelas, Audit 2025 Dorong Pengembangan Hingga Tingkat AUM dan Ranting

25 Juni 2026
Ustaz Heru Winarno di Masjid Darul Arqom mengingatkan kritik tanpa solusi adalah perusakan, pilih mudharat ringan. (Foto: Suharsono/pasmu.id)

Menakar Prioritas Kehidupan Melalui Fiqih Muwazanah

25 Juni 2026
Dr. Abu Nasir: Pesantren bahagia, santri betah, ustadz peduli, apresiasi, aman, anti-perundungan. (foto: Umar Effendi/pasmu.id)

Ketua PDM, Abu Nasir: Ciptakan Pesantren Ramah, Aman, dan Membahagiakan bagi Santri dalam Raker SPEAM

24 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan