• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Koperasi Desa Merah Putih, Harapan Baru atau Sekadar Proyek Besar?

Aman Ridho oleh Aman Ridho
20 jam yang lalu
in Opini
1
Presiden Prabowo Menyapa Rakyat saat Kunjungan ke Jawa Timur/indobangkit.com

Presiden Prabowo Menyapa Rakyat saat Kunjungan ke Jawa Timur/indobangkit.com

11
SHARES
26
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Sabtu pagi, 16 Mei 2026. Ribuan warga berjubel di pinggir jalan-jalan Nganjuk dan Tuban. Sebagian sudah berdiri sejak subuh, menunggu iring-iringan kendaraan kepresidenan melintas. Para ibu melambaikan tangan, anak-anak berdiri di atas bahu ayahnya, petani berseragam koperasi berbaris rapi. Antusiasme itu nyata, bukan rekayasa, bukan sekadar protokol.

Presiden Prabowo Subianto bahkan meminta PT Pindad merancang mobil kepresidenan khusus agar ia bisa lebih leluasa menyalami warga. “Rakyat kita itu mau kasih tangan, masa kita nggak kasih tangan,” katanya. Sebuah gestur kecil yang, bagi rakyat yang menunggu berjam-jam di bawah terik matahari, terasa seperti pengakuan bahwa mereka benar-benar dilihat.

Tapi di balik keharuan itu, ada pertanyaan yang lebih besar dan lebih penting dari sekadar jabat tangan: apa yang sesungguhnya mereka harapkan? Dan apakah harapan itu akan menemukan jawabannya di lapangan?

Tiga Simbol dalam Satu Hari

Kunjungan kerja Prabowo hari ini ke Jawa Timur membawa tiga agenda yang, bila dibaca bersama, menyusun sebuah narasi keberpihakan yang utuh.

Related Post

Jejak Darah Pahlawan Indonesia yang Mengalir dari Rahim Muhammadiyah

16 Agustus 2025

Pertama, peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk. Marsinah, buruh perempuan yang terbunuh pada 1993 karena memperjuangkan hak-hak pekerja, kini telah dianugerahi gelar pahlawan nasional. Kehadiran presiden di tempat itu bukan sekadar seremonial.

Ini adalah pernyataan simbolik bahwa negara akhirnya mengakui utangnya kepada mereka yang selama ini berjuang dari bawah. Sekitar 7.000 buruh dari berbagai penjuru Jawa Timur hadir menyaksikan. Bagi mereka, momen ini adalah penegasan bahwa perjuangan tidak selalu sia-sia.

Kedua, peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Desa Nglawak, Kertosono. Ini agenda yang paling strategis dan paling berat bebannya. Di sinilah janji ekonomi kerakyatan pemerintahan Prabowo dipertaruhkan.

Ketiga, panen raya jagung serentak di Tuban, yang melibatkan 36 polda seluruh Indonesia dengan total potensi panen lebih dari 1,23 juta ton. Sebuah angka yang berbicara tentang keseriusan pemerintah dalam mengejar swasembada pangan di tengah ancaman krisis pangan global.

Ketiganya bukan agenda yang berdiri sendiri. Ketiganya adalah janji kepada buruh, kepada warga desa, dan kepada petani. Dan ketiga kelompok itulah yang hari ini berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan.

Taruhan Besar Bernama Koperasi Desa Merah Putih

Di antara ketiga agenda tersebut, Koperasi Desa Merah Putih adalah yang paling layak mendapat perhatian serius, karena potensi dampaknya paling luas, sekaligus paling rentan terhadap kegagalan.

Skalanya memang luar biasa. Dari total dana desa tahun 2026 sebesar Rp60,57 triliun, sebanyak 58 persen atau sekitar Rp34,57 triliun dikunci secara khusus untuk mendukung program ini. Setiap unit koperasi mendapat pembiayaan hingga Rp3 miliar dengan tenor hingga 72 bulan. Rekrutmen 30 ribu manajer profesional sedang dijalankan. Target akhirnya: lebih dari 75 ribu koperasi desa beroperasi di seluruh Indonesia.

Gagasan dasarnya sederhana namun menggugah. Selama ini, rakyat kecil di desa menghadapi ketimpangan yang mencolok dalam akses pembiayaan. Prabowo menyebutnya secara terang-terangan: pengusaha besar mendapat bunga kredit 9 persen, sementara emak-emak di kampung bisa menanggung bunga 22 hingga 24 persen.

“Nggak benar itu. Kita ubah,” tegasnya.

Koperasi Desa Merah Putih dirancang sebagai jalan keluarnya, pusat distribusi, akses modal, dan penggerak rantai pasok pangan dari tingkat desa.

Jika berjalan sesuai rencana, setiap desa akan memiliki lembaga ekonomi mandiri yang mengelola simpan pinjam, perdagangan, dan kemitraan usaha. Petani tidak lagi terjebak harga tengkulak. Warga tidak lagi bergantung pada rentenir. Perputaran uang terjadi di dalam desa, bukan mengalir ke luar.

Sebuah cita-cita yang indah. Dan justru karena indah, ia perlu diuji dengan kejelian.

Baca Juga:

  • Dari Mimbar ke Konten Pendek, Tantangan Dakwah atau Peluang di Era Algoritma?

Di Mana Jebakan Biasanya Tersembunyi

Sejarah panjang program ekonomi kerakyatan di Indonesia mengajarkan satu pelajaran berulang: program yang hebat di atas kertas sering kali kandas di tataran pelaksanaan. Bukan karena gagasannya keliru, tapi karena apa yang ada di antara kebijakan dan realitas lapangan, tata kelola, kapasitas SDM, dan komitmen jangka panjang kerap luput dari perhatian.

Para pengamat ekonomi sudah memberikan catatan kritis yang perlu didengar. Tanpa penguatan kapasitas sumber daya manusia, tanpa penerapan prinsip-prinsip koperasi yang sehat, dan tanpa integrasi dengan pelaku usaha lokal yang sudah ada, program ini berisiko berakhir sebagai sekadar koperasi papan nama. Gedungnya berdiri, papan namanya terpasang, tapi rodanya tidak berputar.

Ada juga kerentanan struktural yang perlu diwaspadai: koperasi yang terlalu bergantung pada anggaran dan program pemerintah rentan terhadap perubahan kebijakan. Saat prioritas politik bergeser, saat anggaran direkonstruksi, koperasi yang tidak memiliki akar kemandirian akan ikut goyah. Sebaliknya, koperasi yang benar-benar hidup adalah koperasi yang tumbuh dari kebutuhan nyata anggotanya, bukan dari instruksi atas.

Peringatan ini bukan pesimisme. Ini adalah kondisi yang harus dijawab oleh pemerintah dengan keseriusan yang sama besarnya dengan antusiasme saat peresmian.

Rakyat Berhak Berharap, dan Karena Itu, Harus Mengawal

Kembali ke wajah-wajah di pinggir jalan tadi. Mereka datang bukan karena mobilisasi semata. Mereka datang karena dalam diri setiap petani, buruh, dan ibu rumah tangga itu, ada harapan yang sudah lama menunggu untuk dijawab.

Harapan itu sah. Bahkan perlu. Rakyat yang berharap adalah rakyat yang masih percaya bahwa perubahan mungkin terjadi dan kepercayaan itu adalah modal sosial yang tidak ternilai bagi sebuah pemerintahan.

Tapi harapan yang baik seharusnya tidak berhenti pada tepuk tangan saat peresmian. Rakyat termasuk para pemimpin desa, tokoh masyarakat, dan elemen-elemen sipil, perlu mengambil peran aktif dalam mengawal apakah program ini berjalan sebagaimana dijanjikan. Apakah manajer koperasi benar-benar profesional dan berintegritas? Apakah anggota koperasi betul-betul diberdayakan, bukan sekadar dijadikan penerima manfaat pasif? Apakah dana yang mengalir sampai ke tangan yang tepat?

Mengawal bukan berarti mencurigai. Mengawal adalah bentuk partisipasi warga yang bertanggung jawab, cara rakyat menunjukkan bahwa mereka serius dengan harapannya sendiri.

Antara Mimpi dan Mesin yang Harus Dijalankan

Hari ini, Jawa Timur menjadi panggung bagi serangkaian gestur yang penuh makna: pengakuan terhadap perjuangan buruh, peluncuran mesin ekonomi kerakyatan, dan penegasan komitmen ketahanan pangan. Semuanya berbicara tentang satu hal yang sama, keberpihakan kepada mereka yang selama ini berada di pinggir.

Presiden Prabowo menyatakannya dengan lugas di Nganjuk: “Tiap desa tidak akan tergantung dari mana-mana lagi dan akan punya kekuatan dia sendiri.” Kalimat itu bukan sekadar retorika. Itu adalah janji yang harus bisa dipegang.

Rakyat bisa, dan harus berharap lebih. Tapi harapan yang kuat bukan harapan yang diam menunggu. Ia adalah harapan yang ikut bekerja, ikut mengawasi, dan ikut memastikan bahwa apa yang hari ini diresmikan di Nganjuk dan Tuban benar-benar hidup, berputar, dan pada akhirnya sampai ke tangan yang paling membutuhkannya.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: indonesiaPemerintahPrabowo
Share4Tweet3Share1
Aman Ridho

Aman Ridho

Aman Ridho. H, SE,MM adalah dosen STIT Muhammadiyah Ngawi dan peneliti di The Republic Institute. Aktif menulis di berbagai media, menyuarakan gagasan dan analisis atas beragam persoalan yang berkembang di tengah kehidupan masyarakat.

Related Posts

Opini

Jejak Darah Pahlawan Indonesia yang Mengalir dari Rahim Muhammadiyah

oleh Marjoko
16 Agustus 2025
Next Post
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

Comments 1

  1. Agus Supriyono says:
    58 detik yang lalu

    Berita menguatkan dunia maya, bisa menambah wawasan dlm dunia Medsos. Semoga Pasmu bisa dinikmati oleh semua kalangan… Bravo utk Fasmu

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Cemerlang! Nanda Arkana, Siswa SD Al Kautsar Kota Pasuruan, Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Nasional

27 April 2026
Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026

KB-TK ABA 6 Peringati Hari Kartini dengan Literasi di Perpustakaan Kota Pasuruan

21 April 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
SD Muces rindang ada mini zoo nya/foto Suyatno pasmu.id

Bikin Betah Belajar! SD MuCES Pasuruan Punya Mini Zoo Unik di Dalam Sekolah

18 Mei 2026
Pak Jayadi bergembira di samping motornya yang sudah normal/foto: Agus pasmu.id

Bukan Hanya Tempat Sholat! Saat Motor Muadzin Mogok, Masjid Baitul Huda Langsung Action

18 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Presiden Prabowo Menyapa Rakyat saat Kunjungan ke Jawa Timur/indobangkit.com

Koperasi Desa Merah Putih, Harapan Baru atau Sekadar Proyek Besar?

17 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan