Pasuruan, Ada suara merdu yang biasa menggema dari pengeras suara Masjid Baitul Huda setiap waktu sholat. Itulah suara Pak Jayadi, muadzin berusia 63 tahun yang tak pernah absen mengumandangkan adzan.
Namun, di balik suara lantangnya, tersimpan perjuangan sunyi yang tak banyak orang tahu.
Setiap hari, pria paruh baya itu harus menempuh perjalanan dari rumahnya yang berada di Jl. Ir. H. Juanda 5, Kelurahan Blandong, Kecamatan Bugul Kidul. Jarak normal rumah ke masjid hanya 1,5 kilometer. Sebuah angka yang terbilang dekat.
Tapi “dekat” menjadi relatif bagi Pak Jayadi.
Sejak Jembatan Bokwedi kontruksi ulang dan akses jalan utama menuju masjid ditutup total, Pak Jayadi tak punya pilihan. Ia harus memutar. Jarak yang dulu 1,5 km kini membengkak menjadi 2,5 kilometer.
Bagi kebanyakan orang, memutar 1 km mungkin bukan masalah besar. Tapi tidak bagi Pak Jayadi.
Sejak lama, kaki kanan Pak Jayadi sakit. Ia tidak bisa berjalan normal. Setiap langkah harus ditopang oleh sebuah tongkat. Di masjid pun, ia tak lagi bisa berdiri lama. Semua sholat wajib ia kerjakan dengan duduk.
Lantas, bagaimana ia bisa terus menjadi muadzin? Jawabannya sederhana: Sepeda motor tua kesayangannya.
Motor Yamaha Mio M3 itulah “kaki kedua” yang mengantarnya melewati jalan memutar sejauh 2,5 km setiap kali waktu sholat tiba. Tanpa motor itu, Pak Jayadi nyaris mustahil sampai ke masjid.
Tapi satu bulan terakhir, “kaki keduanya” itu sakit.
Saat Starter Tak Menyala, dan Hati Hampir Padam
Suatu pagi, Pak Jayadi duduk di teras rumahnya. Keringat dingin membasahi pelipis. Iringan takbir sudah sebentar lagi berkumandang, tapi motornya tak mau hidup saat di starter.
“Starter ndak bunyi, Pak. Kayaknya tekor, akinya” gumamnya pada diri sendiri.
Ia sudah mencoba starter kaki berkali-kali. Tapi tenaga di kaki kanannya yang sakit tak cukup untuk mengayuh kick starter. Double starter (tombol elektrik) juga mati total. Motor itu hanya diam, bisu.
Pak Jayadi hampir putus asa. Untuk sampai ke masjid saja ia sudah menguras tenaga ekstra karena jalan memutar. Kini motor yang menjadi penopangnya mogok.
Namun, takdir berkata lain.
Kabar tentang motor Pak Jayadi sampai ke telinga Takmir Masjid Baitul Huda. Tanpa banyak drama, tanpa pidato panjang, mereka segera bergerak.
“Beliau muadzin kami. Beliau sudah setia dengan adzan di masjid ini puluhan tahun. Giliran beliau kesulitan, masjid ini wajib hadir,” ujar salah satu takmir.
Motor tua Pak Jayadi segera dievakuasi ke Bengkel Pojok Prapatan SMK Mutu—sebuah bengkel yang tak hanya terkenal pintar, tapi juga punya hati.
Mekanik bengkel langsung mendiagnosa. Gejalanya jelas: motor tidak bisa start, baik elektrik maupun manual.
Setelah diperiksa, ditemukan biang keroknya:
- Bostel (brush) dinamo starter sudah habis. Itulah kenapa tombol start tidak berfungsi.
- Kondisi aki awalnya lemah (kurang setrum). Setelah di-charge, dayanya tak mampu mencapai 90 persen.
Akhirnya diputuskan: aki diganti baru. Bostel starter pun diganti. Sebagai bentuk servis ekstra, oli motor juga ikut diganti.
Beberapa jam kemudian, kunci kontak diputar. Tek tombol starter… Bremm… bremm… bremm…
Motor Yamaha Mio M3 itu hidup kembali. Normal. Fit. Siap mengantar muadzinnya melaju lagi.
“Alhamdulillah,” kata Mekanik. “Alhamdulillah,” jawab Takmir dalam hati.
Masjid Baitul Huda ingin menyampaikan satu hal lewat kisah ini: Masjid bukan hanya tempat shalat berjamaah.
Masjid adalah rumah bagi jamaahnya. Ketika ada muadzin yang kakinya sakit, masjid harus menjadi tongkat. Ketika ada motor jamaah yang mogok, masjid harus menjadi bengkel. Ketika ada yang terhambat jalan menuju kebaikan, masjid harus menjadi jembatan.
Pak Jayadi kini bisa kembali bertakbir di pengeras suara. Motornya sudah sehat. Adzan akan kembali berkumandang tepat waktu.
Dan cerita ini menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa ukhuwah itu nyata. Kadang tidak dalam khotbah panjang, tapi dalam sebuah busi, sebuah aki, dan sebuah starter yang kembali menyala.
Terima kasih kepada Bengkel Pojok Prapatan SMK Mutu dan seluruh takmir Masjid Baitul Huda yang telah peduli.
Editor: Marjoko













