Kajian Ahad pagi ketiga di bulan Mei di Masjid Al-Ukhuwah Sekarsono berlangsung penuh antusias dan refleksi mendalam. Pada kesempatan tersebut, Sekretaris PDM Kota Pasuruan, M. Nuryasin hadir sebagai pemateri dengan tema “Hidup Ini Perjalanan Spiritual.”
Sejak awal kajian, suasana terasa berbeda. Ustaz M. Nuryasin tidak hanya menyampaikan materi secara ceramah, tetapi juga membagikan selembar kertas berisi sejumlah pertanyaan reflektif tentang perjalanan spiritual manusia sejak sebelum lahir hingga menuju akhirat. Melalui pertanyaan-pertanyaan itu, jamaah diajak untuk berpikir lebih dalam tentang tujuan hidup, arah perjalanan manusia, serta makna setiap aktivitas yang dilakukan di dunia.
Dalam lembaran tersebut, jamaah diajak merenungkan berbagai hal, mulai dari alasan melakukan perjalanan, tahapan alam kehidupan manusia, hingga hakikat dunia sebagai tempat menanam amal dan akhirat sebagai tempat memanen hasilnya. Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah pertanyaan tentang alasan manusia menjalani berbagai aktivitas, yang menurut beliau jawabannya harus selalu melibatkan Allah SWT.
Dalam kajiannya, Ustaz M. Nuryasin menyampaikan rasa syukur atas perkembangan Masjid Al-Ukhuwah yang dinilainya mengalami kemajuan luar biasa. Ia menilai, masjid yang dahulu sederhana kini tumbuh menjadi pusat kegiatan dakwah dan pembinaan umat yang semakin hidup.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa manusia sejatinya sedang menjalani perjalanan spiritual panjang melalui lima alam kehidupan, mulai dari alam ruh hingga akhirat. Menurutnya, sejak di alam ruh manusia telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan mereka, sebagaimana disebutkan dalam ayat “Alastu birobbikum? Qolu bala syahidna.” Fitrah tauhid itu, kata beliau, sebenarnya tertanam dalam diri setiap manusia, namun sering tertutupi oleh hawa nafsu dan kesombongan ketika hidup di dunia.
Ustaz M. Nuryasin juga mengibaratkan kehidupan dunia sebagai tempat menanam, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Amal saleh yang dilakukan manusia tidak hanya memberi balasan di akhirat, tetapi juga menghadirkan manfaat sejak di dunia, sebagaimana pohon mangga yang meski belum berbuah tetap memberi oksigen dan keteduhan.
Menurut beliau, kehidupan manusia adalah sebuah perlombaan yang disponsori dan diatur langsung oleh Allah SWT. Pada babak pertama, manusia diberi kebebasan memilih jalan taat atau maksiat. Sedangkan bagi mereka yang memilih jalan taat, akan masuk ke babak final berupa perlombaan dalam memberi manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain.
“Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” jelasnya di hadapan jamaah.
Beliau juga menyinggung kisah hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai pelajaran penting dalam kehidupan. Menurutnya, Allah telah menetapkan Madinah sebagai tempat berkembangnya Islam. Karena itu, hijrah ke Habasyah tidak berkembang maksimal, sedangkan dakwah ke Thaif justru mengalami penolakan keras.
Dari kisah tersebut, ia mengajak jamaah untuk memahami bahwa penolakan dalam hidup bisa jadi merupakan cara Allah mengarahkan seseorang menuju tempat terbaiknya. Ia mengibaratkan hal itu seperti perjuangan Siti Hajar yang harus berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali sebelum pertolongan Allah datang melalui air zamzam.
Selain itu, beliau menekankan bahwa umat Islam tidak boleh berhenti hanya pada fase “Mekah”, yakni taat namun tertindas. Menurutnya, umat Islam harus menuju fase “Madinah”, yaitu keadaan ketika umat menjadi kuat, mandiri, dan menang dalam kebaikan.
Menjelang akhir kajian, Ustaz M. Nuryasin kembali mengingatkan pentingnya melibatkan Allah dalam setiap niat aktivitas kehidupan. Menurutnya, pekerjaan dan aktivitas apa pun akan bernilai ibadah apabila dilakukan karena Allah dan untuk mencari ridha-Nya.
Kajian Ahad pagi tersebut ditutup dengan suasana hangat penuh kebersamaan. Seperti biasanya, jamaah tidak langsung pulang setelah kajian selesai. Mereka berkumpul dan berbincang santai di halaman belakang masjid sambil menikmati kopi, teh, susu, bubur kacang hijau, aneka kue, dan roti yang disediakan oleh Masjid Al-Ukhuwah.
Program ngopi bersama setelah kajian Ahad pagi itu menjadi salah satu agenda rutin sekaligus daya tarik Masjid Al-Ukhuwah. Pada kajian kali ini, jumlah jamaah juga terlihat semakin bertambah, terutama dari kalangan ibu-ibu. Takmir masjid menyebutkan bahwa beberapa jamaah baru bahkan datang dari wilayah Tambak Yudan dan Bugul Kidul untuk mengikuti kajian tersebut.
Reporter:













