KOTA PASURUAN — Pondok Pesantren SPEAM menggelar Haflah Akhirussanah Ad Dirosiyah Tahun Ajaran 2025/2026 pada Sabtu (16/5/2026) di Gedung Serbaguna Rumah Makan Kebon Pring, Kota Pasuruan. Acara berlangsung khidmat dan penuh haru dengan dihadiri jajaran pimpinan Muhammadiyah, tokoh pendidikan, wali santri, serta para santri SPEAM.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PDM Kota Pasuruan Ustaz Abu Nasir beserta jajaran, Majelis Dikdasmen PDM Kota Pasuruan Ustaz Muhammad Fathoni, perwakilan dari berbagai lembaga pendidikan Muhammadiyah Kota Pasuruan, Ketua Badan Pengembangan SPEAM Ustaz Syamsuddin, Sekretaris PWM Jawa Timur Ustaz Biyanto, perwakilan Kementerian Agama Kota Pasuruan, serta wali murid SPEAM.
Acara dibuka dengan berbagai penampilan santri, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah, kemudian doa yang dipimpin Ustaz Umar Effendi.
Prosesi Haflah Akhirussanah menjadi momen emosional bagi para santri yang dinyatakan lulus. Setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan dan tinggal di pondok, mereka kini harus berpisah dengan teman-teman seperjuangan. Tangis haru tampak mewarnai suasana saat para santri bersalaman dengan guru dan orang tua.
Dalam sambutannya, Mudir SPEAM Ustaz Amin, menjelaskan perkembangan program tahfiz di SPEAM yang tahun ini menggunakan metode baru. Ia menyebut terdapat program reguler dengan target hafalan dua juz per tahun dan program takhasus dengan target lima juz per tahun.
“Alhamdulillah, tahun ini ujian tasmi’ dilaksanakan lebih serius dan menyeluruh. Dari 38 santri yang mengikuti tasmi’, terdapat santri dengan capaian hafalan mulai dari tiga juz hingga 15 juz,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa hafalan Al-Qur’an di SPEAM tidak hanya menjadi capaian akademik, tetapi juga diharapkan membentuk karakter generasi Qurani yang berilmu dan berkemajuan sesuai tema “The Golden Generation”.
Sementara itu, perwakilan wali santri, Dian Rahma Santoso, menyampaikan kesan haru selama tiga tahun mendampingi anak-anak mereka mondok di SPEAM. Ia mengenang momen awal ketika harus melepas anak tinggal di pondok dan perjuangan orang tua menahan tangis.
“Sebagai orang tua, melepas anak jauh dari rumah tentu bukan hal mudah. Namun seiring waktu kami melihat perubahan luar biasa pada anak-anak kami. Mereka menjadi lebih mandiri, lebih santun, dan semakin mencintai Al-Qur’an,” tuturnya.
Dian juga mengapresiasi perjuangan para ustaz dan ustazah dalam mendidik santri dengan penuh kesabaran dan perhatian.
Ketua Badan Pengembangan Pesantren SPEAM, Ustaz Syamsuddin, dalam sambutannya menegaskan bahwa pesantren Muhammadiyah memiliki sistem pengawasan yang kuat karena berada langsung di bawah persyarikatan Muhammadiyah.
Menurutnya, SPEAM tidak hanya fokus pada tahfiz, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan bahasa, ilmu pengetahuan, dan pembentukan karakter santri.
“Anak-anak dibekali ilmu alat, bahasa, serta keterampilan hidup agar memiliki kesiapan mental dan intelektual menghadapi masa depan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Sekretaris PWM Jawa Timur sekaligus Staf Ahli Bidang Regulasi dan Hubungan Antar Lembaga Kemendikdasmen, Ustaz Biyanto, menyampaikan tausiyah tentang tantangan generasi muda di era digital.
Ia menyoroti dampak penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan terhadap kesehatan mental anak-anak dan remaja. Menurutnya, ketergantungan terhadap gadget membuat anak-anak kurang berinteraksi di dunia nyata dan rentan mengalami kecemasan hingga tekanan mental.
“Karena itu pendidikan anak tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah atau pesantren. Keluarga tetap menjadi madrasah pertama dan terpenting bagi anak-anak,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi pendidikan dan perkembangan mental anak di tengah derasnya pengaruh media digital.
Selain prosesi kelulusan, SPEAM juga memberikan penghargaan kepada santri berprestasi, mulai dari penghafal Al-Qur’an terbanyak, lulusan terbaik, hingga santri teladan.
Acara semakin meriah dengan penampilan seni para santri, pembacaan puisi, serta peluncuran buku antologi cerpen karya santri-santri SPEAM yang menjadi salah satu bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan literasi santri di lingkungan pesantren.











