• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Meramal Bangsa yang Retak

Nashrul Muminin oleh Nashrul Muminin
2 bulan yang lalu
in Opini
0
Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT

Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT

4
SHARES
10
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Kita terlalu sering berbicara tentang masa depan bangsa seolah-olah itu adalah sesuatu yang bisa ditebak dengan optimisme kosong, padahal yang kita hadapi hari ini justru adalah bangunan rapuh yang retak dari fondasi paling dasar: kesadaran. Meramal masa depan bangsa bukan soal membaca bintang, tetapi membaca luka sosial yang dibiarkan bernanah terlalu lama.

Bangsa ini tampak sibuk bergerak, tetapi sering kali tidak benar-benar maju. Kita menyebutnya pembangunan, tetapi yang tumbuh justru ketimpangan yang semakin telanjang. Yang kaya semakin melayang jauh, yang miskin semakin tenggelam dalam narasi “kesabaran” yang dipaksakan oleh sistem.

Di ruang pendidikan, kita menyaksikan paradoks yang menyakitkan. Sekolah melahirkan generasi yang hafal teori, tetapi gagap menghadapi realitas. Kampus memproduksi gelar, tetapi tidak selalu menghasilkan kesadaran kritis. Akhirnya, kita memiliki banyak orang pintar, tetapi tidak cukup banyak orang yang benar-benar sadar.

Politik pun tidak lebih bersih dari itu. Ia berubah menjadi panggung sandiwara yang penuh jargon, tetapi miskin keberpihakan. Janji-janji besar sering kali hanya berhenti di poster, sementara rakyat tetap berjuang dengan harga hidup yang terus menekan dari segala arah.

Related Post

Cinta bisa tumbuh berbeda, tetapi pernikahan kokoh ketika dibangun di atas akidah yang sama. (ilustrasi: shutterstock.com

Cinta Beda Mazhab antara Muhammadiyah dan NU: Ketika Hati Bertemu, Haruskah Pernikahan Berpisah?

2 Juni 2026
MI Muhammadiyah Pasuruan gelar qurban Idul Adha untuk menanamkan kepedulian, keikhlasan, dan semangat berbagi. (foto: Istimewa/pasmu.id)

MasyaAllah! MI Muhammadiyah Pasuruan Sembelih 5 Kambing Qurban, Siswa Belajar Ikhlas dan Peduli Sesama

29 Mei 2026

Masjid Al-Ukhuwah Himpun 6 Sapi dan 10 Kambing Qurban, Distribusikan Hampir 1.800 Kantong Daging

28 Mei 2026

Kuliah Belasan Juta, tapi Susah Dapat Kerja: Ada yang Salah dengan Kampus Kita?

27 Mei 2026

Ekonomi kita berdiri di atas ilusi stabilitas. Angka-angka pertumbuhan dibanggakan, tetapi tidak selalu menyentuh dapur rakyat kecil. Di balik statistik yang indah, ada realitas getir tentang pekerjaan yang tidak layak, upah yang stagnan, dan masa depan yang makin mahal untuk sekadar dijalani.

Media sosial memperparah semuanya. Kita hidup dalam banjir informasi, tetapi krisis makna. Semua orang bicara, tetapi tidak semua berpikir. Semua merasa tahu, tetapi sedikit yang benar-benar memahami. Akhirnya, kebenaran menjadi relatif, dan kebisingan menjadi norma baru.

Generasi muda berada di persimpangan yang membingungkan. Mereka cerdas, cepat, dan adaptif, tetapi juga rentan terseret arus distraksi tanpa arah. Masa depan bangsa diletakkan di pundak mereka, tetapi tidak selalu diiringi dengan ekosistem yang mendukung pertumbuhan kesadaran kritis.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah normalisasi ketidakadilan. Hal-hal yang dulu dianggap menyimpang kini diterima sebagai “wajar”. Korupsi dibahas seperti gosip harian. Ketimpangan dianggap bagian dari takdir sosial. Perlahan, nurani kolektif kita menjadi tumpul.

Agama dan moralitas pun kadang hanya menjadi simbol, bukan kesadaran hidup. Nilai-nilai luhur sering dikutip, tetapi jarang benar-benar dihidupkan dalam kebijakan dan perilaku. Kita pandai berpidato tentang kebaikan, tetapi lemah dalam mewujudkannya.

Jika masa depan bangsa ingin diramal secara jujur, maka jawabannya tidak akan nyaman. Kita sedang berdiri di atas sistem yang butuh perombakan, bukan sekadar perbaikan kosmetik. Masalahnya bukan di permukaan, tetapi di akar cara berpikir dan cara mengelola kekuasaan.

Namun di tengah semua keretakan itu, masih ada kemungkinan. Masa depan tidak sepenuhnya gelap, tetapi ia menuntut keberanian untuk jujur. Jujur terhadap kegagalan, terhadap kesalahan kolektif, dan terhadap ilusi yang selama ini kita pelihara.

Perubahan tidak akan lahir dari slogan, tetapi dari kesadaran yang menyakitkan. Kesadaran bahwa kita tidak sedang baik-baik saja. Kesadaran bahwa apa yang disebut “kemajuan” sering kali hanya topeng dari problem yang belum terselesaikan.

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tetapi kekurangan keberanian moral untuk menata ulang arah. Kita terlalu sering berkompromi dengan ketidakadilan, terlalu sering diam ketika seharusnya bersuara, dan terlalu sering menerima ketika seharusnya menolak.

Masa depan bangsa pada akhirnya bukan hasil ramalan, melainkan hasil pilihan. Apakah kita terus membiarkan sistem berjalan dengan luka yang sama, atau mulai berani membongkar fondasi yang sudah lapuk dan membangunnya ulang dengan kesadaran yang lebih jernih.

Jika tidak ada keberanian kolektif untuk berubah, maka ramalan masa depan bangsa bukanlah kemajuan, melainkan pengulangan krisis dalam bentuk yang berbeda. Dan sejarah, seperti yang sering terjadi, tidak pernah benar-benar menunggu mereka yang terlambat sadar.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: bangsamuhammadiyahpolitik
Share2Tweet1Share
Nashrul Muminin

Nashrul Muminin

Related Posts

Cinta bisa tumbuh berbeda, tetapi pernikahan kokoh ketika dibangun di atas akidah yang sama. (ilustrasi: shutterstock.com
Opini

Cinta Beda Mazhab antara Muhammadiyah dan NU: Ketika Hati Bertemu, Haruskah Pernikahan Berpisah?

oleh Nashrul Muminin
2 Juni 2026
MI Muhammadiyah Pasuruan gelar qurban Idul Adha untuk menanamkan kepedulian, keikhlasan, dan semangat berbagi. (foto: Istimewa/pasmu.id)
Kabar

MasyaAllah! MI Muhammadiyah Pasuruan Sembelih 5 Kambing Qurban, Siswa Belajar Ikhlas dan Peduli Sesama

oleh PasMu Media
29 Mei 2026
Kabar

Masjid Al-Ukhuwah Himpun 6 Sapi dan 10 Kambing Qurban, Distribusikan Hampir 1.800 Kantong Daging

oleh Yogi Arfan
28 Mei 2026
Next Post
M. Mirdasy (Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur dan Pimpinan Redaksi Maklumat.id)

Kabar Duka: Muhammad Mirdasy, Ketua LHKP PWM Jatim, Tutup Usia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Bahlil jadi lagu bank: pujian ironis yang bikin publik hafal rima, bukan kebijakan. (Ilustrasi: AI)

Lagu Viral Mas Bahlil Versi Nama nama Bank

3 Juni 2026
Iman adalah jangkar jiwa, saat sabar hilang, bahtera rumah tangga akan karam. (foto: Suharsono/pasmu.id)

Menjaga Nahkoda Iman di Tengah Badai Takdir

3 Juni 2026
Image IPM

Presiden Copot Kepala BGN: Harapan Baru Bagi Pelajar

3 Juni 2026
Cinta bisa tumbuh berbeda, tetapi pernikahan kokoh ketika dibangun di atas akidah yang sama. (ilustrasi: shutterstock.com

Cinta Beda Mazhab antara Muhammadiyah dan NU: Ketika Hati Bertemu, Haruskah Pernikahan Berpisah?

2 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan