Pasuruan – Sebuah kisah nyata tentang bahtera rumah tangga yang hancur akibat hilangnya kesabaran dan pemahaman terhadap takdir Allah menjadi renungan mendalam dalam Kuliah Subuh di Masjid Darul Arqom, Jalan KH. Wahid Hasyim, Pasuruan, Selasa (3/6/2026). Ustadz Anang bin Abdul Malik, yang menyampaikan ceramah bertajuk “Menjaga Nahkoda Iman di Tengah Badai Takdir”, mengajak jamaah untuk merenungi betapa rapuhnya komitmen jika tidak dilandasi iman yang kokoh kepada ketetapan Ilahi.
Dengan mengutip narasi dari Suharsono, ustadz yang akrab disapa dengan panggilan tersebut mengingatkan bahwa tidak ada satu persoalan pun—sekecil zarah sekalipun—yang luput dari ilmu Allah SWT. Beriman kepada takdir, baik yang manis maupun yang pahit (khairihi wa syarrihi), adalah salah satu pilar fundamental keyakinan seorang muslim. Namun, di mana letak kegagalan banyak pasangan ketika ujian hidup benar-benar datang?
“Jangan pernah bosan mendengar nasihat iman. Sebab, laksana air yang menyirami tanah tandus, nasihat adalah pengingat bagi hati kita yang kerap alpa,” ujar Ustadz Anang membuka ceramah.
Ia lalu membawakan sebuah kisah pilu tentang pasangan muda yang baru menikah tujuh bulan. Pada awal pernikahan, kehidupan mereka berjalan harmonis, penuh tawa dan kebahagiaan. Namun, badai takdir datang tanpa permisi. Sang suami di-PHK karena pabrik tempatnya bekerja bangkrut. Dalam keterpurukan, keduanya berusaha bangkit dengan berjualan kebutuhan pokok di rumah (mracang). Sang suami pun secara diam-diam terus melamar pekerjaan, tetapi gerbang rezeki belum juga terbuka.
Di sinilah ujian sebenarnya dimulai. Sang istri perlahan kehilangan kesabaran. Tutur kata yang lembut berubah menjadi kasar, hangatnya komunikasi berganti dengan keluhan dan makian. Ia lupa bahwa roda kehidupan yang berputar ke bawah adalah bagian dari takdir yang harus dihadapi dengan kelapangan dada dan tawakal. Akhirnya, bahtera rumah tangga yang masih muda itu karam.
Lebih mengejutkan lagi, ustadz Anang menyebutkan bahwa kerapuhan komitmen tidak hanya menimpa pasangan muda. Sepasang kakek (70 tahun) dan nenek (60 tahun) yang semestinya menikmati masa senja dengan kedamaian justru rumah tangganya ikut hancur setelah puluhan tahun berumah tangga. “Logikanya, usia senja adalah masa memanen kedamaian dan beribadah bersama. Namun ironis, mereka pun ikut berantakan,” ungkapnya.
Menurut Ustadz Anang, akar masalah dari semua tragedi ini sederhana: manusia sering kehilangan pemahaman utuh terhadap takdir Allah. “Kita siap menerima nikmat, tetapi gagap dan berontak saat diuji dengan kesempitan. Padahal iman kepada takdir bukan sekadar hafalan di lisan, melainkan jangkar yang menjaga jiwa agar tidak oleng saat badai ujian menerpa.”
Ketika keyakinan itu hilang, sirna pula rasa syukur dan sabar. Dan ketika sabar dan syukur hilang, hancurlah apa yang telah dibangun dengan susah payah—baik itu rumah tangga, karier, maupun ketenangan jiwa. Ustadz Anang mengajak jamaah untuk terus melatih hati agar ridha terhadap segala ketetapan Allah, karena hanya dengan iman yang kokoh seorang nahkoda mampu menjaga kapalnya tetap berlayar meski di tengah badai takdir yang paling dahsyat sekalipun.
Kuliah subuh yang dihadiri puluhan jamaah ini berlangsung khidmat dan ditutup dengan doa bersama, semoga Allah menganugerahkan kesabaran dan keimanan yang mantap kepada setiap hamba-Nya dalam menghadapi segala ujian kehidupan.














