• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Kajian

Renungan Fajar: Ketika Burung Berzikir Mengajarkan Kita Tentang Kematian

Suharsono oleh Suharsono
35 detik yang lalu
in Kajian
0
Burung yang rajin berzikir pun bisa mati dengan suara kreek, bagaimana dengan kita (foto: Suharsono/pasmu.id)

Burung yang rajin berzikir pun bisa mati dengan suara kreek, bagaimana dengan kita (foto: Suharsono/pasmu.id)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Cahaya subuh belum sepenuhnya merambat ketika para jamaah sudah memadati Masjid Darul Arqom, Jalan KH. Wachid Hasyim, Pasuruan, Selasa (2/6/2026). Udara pagi yang sejuk berpadu dengan ketenangan yang meresap ke dalam dada — suasana yang sempurna untuk menyerap ilmu dari Kuliah Subuh bersama Ustaz Anang Abdul Malik.

Hidup Bukan Panggung Kebetulan

Ustaz Anang membuka tausiyahnya dengan satu ajakan sederhana namun berdampak dalam: bersyukur. Bukan sekadar syukur di bibir, melainkan syukur yang berakar pada kesadaran bahwa tidak ada satu detik pun dalam kehidupan ini yang luput dari perhatian Allah SWT.

“Jangan pernah mengira kehidupan kita tanpa makna. Artinya, apa pun aktivitas kita, bahkan baru berupa niat di dalam hati, semuanya berada dalam pengawasan Allah dan pasti akan menemukan balasannya,” ujarnya dengan nada yang tenang namun menghunjam.

Hidup, dalam pandangan beliau, bukanlah panggung kebetulan. Setiap langkah, setiap bisikan niat, setiap kedipan mata — semuanya tercatat dalam buku besar milik Yang Maha Mengetahui.

Related Post

Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dari doa dan ikhtiar berkelanjutan nyata. (foto: Marjoko/pasmu.id)

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

31 Mei 2026
Di usia ke-79, PII ditantang bukan sekadar melahirkan alumni berjabatan, tetapi kader yang mampu menjawab paradoks Indonesia: negeri kaya raya yang rakyatnya belum sepenuhnya sejahtera/foto: Suharsono pasmu.id

Refleksi 79 Tahun PII: Menanti Jiwa Kader di Tengah Kekayaan Negeri yang Tergadai

25 Mei 2026

Lima Anak Panti Darul Arqom Lulus SMK MUTU, Siap Lanjut Kuliah dan Bekerja

23 Mei 2026

Prosesnya Dilakukan Sangat Hati-Hati, Hasil Rehab Masjid Darul Arqom Mulai Terlihat

22 Mei 2026

Zarrah yang Tak Pernah Terlupakan

Beliau kemudian menghamparkan ayat dari Surat Az-Zalzalah bagaikan cermin di hadapan jamaah: Faman ya’mal mithqala dharratin khairan yarahu — siapa saja yang berbuat kebaikan sebesar biji zarrah, kelak ia akan menyaksikan pahalanya.

Dari ayat ini, Ustaz Anang menekankan satu prinsip yang kerap terlupakan: jangan pernah merendahkan amal kecil. Ia mencontohkan kalimat Laa ilaha illallah — dua patah kata yang ringan di lidah, namun menyimpan beban surga di dalamnya.

Hadis sahih menegaskan: siapa yang di penghujung hidupnya mampu mengucapkan kalimat tauhid itu, maka pintu surga terbuka untuknya. Namun di sinilah beliau menancapkan paku kesadaran yang sesungguhnya — kalimat itu tidak akan hadir tiba-tiba di ujung napas terakhir jika ia tidak pernah dirawat sepanjang usia.

“Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan tumbuh di ladang akhir kita,” tegasnya.

Air Mata Sang Kiai dan Suara ‘Kreek’

Puncak ceramah pagi itu hadir dalam wujud sebuah kisah yang dituturkan dengan perlahan — kisah tentang seorang kiai yang terkenal dengan tangisnya yang tak tertahankan setiap kali berceramah. Bukan karena materi yang ia sampaikan selalu menyayat hati, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam yang menghimpit dadanya.

Suatu hari, seorang santri memberanikan diri bertanya, “Apa gerangan yang membuat panjenengan selalu menangis, Kiai?”

Sang kiai pun bercerita.

Ia memiliki seekor burung piaraan — burung istimewa yang begitu piawai melafalkan Subhanallah, Walhamdulillah, Allahu Akbar, Laa ilaha illallah. Zikirnya merdu, fasih, dan mengalir bagaikan air dari sumber yang tak pernah kering.

Namun tibalah hari ketika burung itu meregang nyawa. Dan di saat-saat terakhirnya — ketika yang dinantikan adalah lantunan zikir yang selama ini ia hapalkan — yang keluar dari paruhnya hanyalah: “Kreek… kreek…” Lalu sunyi. Lalu mati.

Sang santri mencoba mengulurkan penghiburan, “Sudah Kiai, jangan bersedih. Nanti saya carikan burung pengganti yang lebih bagus.”

Sang kiai menggeleng. Pelan. Penuh.

“Masalahnya bukan pada burung itu. Tetapi aku merenungkan diriku sendiri. Aku yang biasa ceramah, fasih berbicara agama di depan orang banyak begini, bisakah nanti saat ajal menjemput mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah dengan zikir yang serius dan tulus? Jangan-jangan, ketika saat naza’ tiba, aku sama seperti burung itu — hanya bisa berucap kreek… kreek karena kelalaianku. Na’udzubillahi min dzalik.”

Masjid mendadak sunyi. Beberapa jamaah menundukkan kepala. Ada yang mengusap sudut mata.

Husnul Khotimah: Panen dari Ladang Kebiasaan

Ustaz Anang menutup Kuliah Subuh dengan pesan yang sederhana namun berat untuk diemban: husnul khotimah — akhir hayat yang baik — bukan hadiah yang jatuh dari langit. Ia adalah buah dari kebiasaan yang dipupuk setiap hari, dari niat yang dijaga, dari lisan yang dirawat, dari keikhlasan yang diasah dalam senyap.

Maka sebelum fajar benar-benar terang, para jamaah meninggalkan masjid dengan membawa satu pertanyaan yang semoga terus berdenyut di dalam dada:

Jika hari ini adalah hari terakhir, suara apa yang akan keluar dari lisan kita?

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: darul arqomkajianustaz anang
ShareTweetShare
Suharsono

Suharsono

Related Posts

Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dari doa dan ikhtiar berkelanjutan nyata. (foto: Marjoko/pasmu.id)
Kabar

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

oleh PasMu Media
31 Mei 2026
Di usia ke-79, PII ditantang bukan sekadar melahirkan alumni berjabatan, tetapi kader yang mampu menjawab paradoks Indonesia: negeri kaya raya yang rakyatnya belum sepenuhnya sejahtera/foto: Suharsono pasmu.id
Kajian

Refleksi 79 Tahun PII: Menanti Jiwa Kader di Tengah Kekayaan Negeri yang Tergadai

oleh Suharsono
25 Mei 2026
Bangga 2 anak panti asuhan menunjukkan gordon/ foto Suyatno pasmu.id
Kabar

Lima Anak Panti Darul Arqom Lulus SMK MUTU, Siap Lanjut Kuliah dan Bekerja

oleh PasMu Media
23 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Burung yang rajin berzikir pun bisa mati dengan suara kreek, bagaimana dengan kita (foto: Suharsono/pasmu.id)

Renungan Fajar: Ketika Burung Berzikir Mengajarkan Kita Tentang Kematian

2 Juni 2026
Istri shalihah bukan sekadar pendamping, melainkan benteng yang menggagalkan tipu daya setan. (Ilustrasi: shutterstock.com)

Istri Shalihah, Benteng Rumah Tangga dari Tipu Daya Setan

1 Juni 2026
1 Juni bukan sekadar sejarah; Pancasila adalah kompas persatuan yang menjaga Indonesia tetap utuh. (Ilustrasi: AI)

Juni Bukan Sekadar Juni, Hari Lahir Pancasila yang Penuh Makna dan Misteri Sejarah

1 Juni 2026
Islam membuktikan bahwa iman, sains, dan teknologi dapat tumbuh bersama membangun peradaban manusia. (ilustrasi: shutterstock.com)

Islam dan Dunia Material: Agama yang Tak Pernah Memisahkan Iman dari Peradaban

1 Juni 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan