Pasuruan, 24 Juni 2026 – Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, Dr. Abu Nasir, M.Ag., memberikan pembinaan kepada peserta Rapat Kerja Pesantren SPEAM Tahun Pelajaran 2026/2027. Dalam arahannya, beliau menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang nyaman, aman, dan membahagiakan agar santri dapat belajar dengan optimal serta merasa betah tinggal di pesantren.
Menurut Dr. Abu Nasir, suasana pesantren yang baik harus dimulai dari budaya sederhana, yaitu saling menyapa, saling menghargai, dan membiasakan senyum dalam interaksi sehari-hari. Baik antara ustadz dengan ustadz, ustadz dengan santri, maupun antarsantri, hubungan yang harmonis akan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan penuh kekeluargaan.
Selain itu, beliau menegaskan bahwa pesantren harus menjadi tempat yang terbebas dari segala bentuk perundungan atau bullying. Apabila ditemukan kasus perundungan, maka harus segera diselesaikan secara bijaksana agar tidak menimbulkan rasa takut, tertekan, maupun ancaman bagi santri. Lingkungan yang aman menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan pendidikan.
Dalam pembinaannya, Dr. Abu Nasir juga mengingatkan para ustadz dan ustadzah untuk senantiasa mendengarkan suara santri. Sebagai pengganti orang tua selama di pesantren, pendidik memiliki tanggung jawab untuk memahami kebutuhan, keluhan, dan harapan para santri. Dengan adanya komunikasi yang baik, santri akan merasa diperhatikan dan dihargai.
Beliau juga mendorong adanya budaya apresiasi terhadap santri yang menunjukkan perilaku positif. Santri yang rajin, jujur, disiplin, bertanggung jawab, tepat waktu, dan terus mengalami perkembangan yang baik perlu mendapatkan penghargaan sebagai bentuk motivasi untuk terus meningkatkan kualitas diri.
Lebih lanjut, Dr. Abu Nasir menekankan pentingnya kepedulian ustadz dan ustadzah terhadap seluruh santri dan santriwati. Kepedulian yang tulus akan membangun kedekatan emosional sehingga santri merasa nyaman dan memiliki tempat untuk berbagi ketika menghadapi berbagai persoalan.
Tidak kalah penting, para pendidik di lingkungan pesantren harus mampu menjadi pribadi yang menyenangkan, membahagiakan, serta menjadi teladan dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Keteladanan guru merupakan salah satu faktor utama dalam pembentukan karakter santri.
Melalui pembinaan tersebut, Dr. Abu Nasir berharap seluruh civitas Pesantren SPEAM dapat terus memperkuat budaya pesantren yang ramah, humanis, dan berorientasi pada pembinaan karakter. Dengan lingkungan yang nyaman, aman, dan penuh perhatian, santri tidak hanya betah di pesantren, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat.











