Pondok Pesantren SPEAM (Sekolah Pesantren Entrepreneur Al-Ma’un Muhammadiyah) Kota Pasuruan terus mengukuhkan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan Islam yang mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tidak sekadar mendalami ilmu agama dan melahirkan para penghafal Al-Qur’an, pesantren ini memadukan kurikulumnya dengan keterampilan kewirausahaan serta penguasaan bahasa asing.
Pengasuh Pondok Pesantren SPEAM, Ustadz Umar Efendi, dalam sebuah dialog podcast pada Rabu (3/6/2026), meluruskan persepsi umum masyarakat yang selama ini menganggap pesantren hanya sebagai tempat menitipkan anak untuk belajar membaca kitab suci. Menurutnya, pandangan tersebut sudah tidak relevan karena pesantren masa kini telah berkembang menjadi pusat pendidikan yang menyatukan pembentukan karakter pribadi, pendalaman agama, dan pembekalan keterampilan berusaha.
Keunikan SPEAM terletak pada program Tafsir Qawla, yakni program khusus yang dirancang untuk mencetak santri yang cakap menjadi penerjemah langsung Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Ustadz Umar mengungkapkan bahwa program kelas bahasa dengan model seperti ini masih sangat jarang ditemukan di Indonesia. Selain itu, para santri juga diperkenalkan dengan dunia bisnis praktis sejak dini melalui program Foodpreneur, di mana mereka tidak hanya menerima teori tetapi juga dilatih memproduksi hingga memasarkan produk makanan secara mandiri dalam skala kecil di lingkungan pesantren. Keterampilan berbasis lingkungan seperti pembuatan Batik Ecobrick dan pengelolaan kompos organik pun menjadi kegiatan rutin untuk mengasah kemandirian. Untuk membekali kompetensi digital, pesantren ini juga menyediakan program Jurnalistik dan Public Speaking yang mengajarkan santri berbicara di depan kamera, mengoperasikan peralatan rekam, hingga memproduksi konten kreatif yang bernilai positif.
Meskipun jadwal kegiatan terbilang padat, target hafalan Al-Qur’an tetap menjadi prioritas utama. Bagi program reguler, santri ditargetkan mampu menghafal minimal 6 juz pada saat menyelesaikan pendidikan. Sementara untuk program Takhassus, targetnya jauh lebih tinggi yaitu minimal 5 juz setiap tahunnya.
Padatnya berbagai aktivitas di SPEAM telah diatur dengan matang agar para santri tidak mengalami kelelahan mental atau kejenuhan. Kegiatan formal dibatasi hanya sampai pukul 14.00 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan waktu istirahat. Setelah shalat Ashar, santri diberikan kebebasan untuk mengembangkan bakat melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti Futsal, Basket, Bulu Tangkis, Tapak Suci, hingga olahraga memanah yang bertujuan melatih konsentrasi.
Menanggapi maraknya isu kekerasan dan perundungan di lingkungan pendidikan berasrama belakangan ini, Ustadz Umar menegaskan bahwa SPEAM menerapkan sistem pengawasan yang sangat ketat dan mengedepankan pendekatan humanis selama 24 jam penuh. Pesantren menyiagakan para musyrif atau pembina asrama yang kamarnya sengaja ditempatkan persis bersebelahan dengan kamar para santri. Para musyrif ini bertugas mendampingi, mengatur irama keseharian santri, dan mencegah terjadinya potensi kekerasan. Ke depan, pihak pesantren juga berencana melibatkan psikolog untuk memantau perkembangan mental anak-anak secara berkala.
Apabila terjadi gesekan atau perbedaan pendapat antarsantri, SPEAM mengutamakan pendekatan mediasi yang objektif. Santri dididik untuk menerima perbedaan tanpa harus melibatkan emosi negatif atau tindak kekerasan fisik. Ustadz Umar menegaskan prinsip pesantren bahwa boleh berbeda pendapat tetapi tidak boleh ada kekerasan dalam perbedaan tersebut. Untuk pelanggaran disiplin, pesantren menerapkan sistem Surat Peringatan bertahap dari SP 1 hingga SP 3. Ustadz Umar bersyukur karena sejauh ini dinamika yang terjadi di kalangan santri SPEAM masih dalam batas wajar dan selalu dapat diselesaikan dengan cepat melalui ruang dialog serta komunikasi yang persuasif sebelum masalah berkembang lebih besar.
Dengan visi melahirkan generasi yang Islami, moderat, dan berjiwa wirausaha, Pondok Pesantren SPEAM Kota Pasuruan optimistis dapat terus mencetak lulusan berkualitas yang siap berkarya baik di perguruan tinggi ternama maupun langsung terjun di masyarakat dengan mentalitas yang matang.
Editor: Marjoko













