Gemuruh takbir yang baru saja usai menyambut fajar di Masjid Darul Arqom, Jalan KH. Wachid Hasyim, langsung bertransformasi menjadi syiar ilmu yang meresap. Pada Kamis (4/6/2026), usai rakaat terakhir salat subuh, lantunan tahmid dan selawat kepada Rasulullah SAW mengiringi jemaah sebelum Ust. Heru Winarno, M.BA, memulai kuliah subuhnya.
Dalam tausiyahnya, Ust. Heru mengupas peran sentral air bagi kehidupan. Ia menjelaskan bahwa setelah penciptaan Nabi Adam AS dari tanah, generasi manusia berikutnya diciptakan dari sari pati air, menjadikan air sebagai poros utama denyut nadi kehidupan di bumi.
Ust. Heru kemudian mengajak jemaah merenungkan tiga fenomena alam global yang menakjubkan, yaitu titik pertemuan dua arus laut yang meski bertemu namun enggan menyatu. Pertama, di Selat Gibraltar, air Laut Mediterania dan Samudra Atlantik bertemu dengan batas jelas antara warna cokelat dan biru. Kedua, di Teluk Alaska, air lelehan gletser berwarna hijau susu bertemu dengan Samudra Pasifik yang biru tua tanpa melebur. Ketiga, di Tanjung Horn, Chili, Samudra Atlantik dan Pasifik bertemu dengan karakteristik air yang sangat berbeda tanpa saling mendominasi.
Ust. Heru menjelaskan adanya “barzakh” atau zona tipis, yaitu dinding tak kasat mata yang membuat masing-masing air tidak dapat melampaui batas yang lain. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an telah mengabadikan fenomena ini jauh sebelum teknologi manusia mampu memetakan samudra. Beliau menyitir QS. Al-Furqan ayat 53 tentang dua laut yang mengalir berdampingan dengan dinding pemisah yang tidak tembus, QS. An-Naml ayat 61 tentang Allah yang menjadikan batas di antara dua laut, serta QS. Ar-Rahman ayat 19-20 yang menyatakan adanya batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing laut yang bertemu.
Perbedaan kadar garam, kerapatan air, serta suhu yang menciptakan tegangan permukaan menjadi penjelasan saintifik dari fenomena tersebut, yang menurut Ust. Heru menjadi bukti otentik keselarasan Al-Qur’an dengan sains modern.
Membawa ke konteks lokal, Ust. Heru mengajak jemaah bersyukur tinggal di wilayah Pasuruan Raya yang dianugerahi kekayaan sumber air melimpah, mulai dari kawasan Pandaan, Prigen, hingga pemandian alam Banyubiru. Ketersediaan air ini, ujarnya, merupakan tanda cinta Sang Pencipta yang wajib dijaga dan disyukuri.
Kuliah subuh ditutup dengan kesimpulan bahwa alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah yang senantiasa membenarkan ayat-ayat qouliyah di dalam Kitab Suci. Majelis ilmu pun diakhiri dengan pembacaan doa kafaratul majlis demi mengharapkan ampunan dan keberkahan dari Allah SWT. Wallahu a’lam bish-shawab.
Editor: Marjoko












