إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah, sang Maha dengan skenario yang tidak pernah cacat dalam mengeja logika manusia yang begitu sempit. Sehat raga, kuat jiwa melekat menemani gema takbir. Dialah Allah yang membentangkan padang ujian, bukan untuk menghancurkan kita, melainkan menguji sejauh mana iman kita mampu berpijar ditengah kegelapan. Kita memuji-Nya atas setiap tetes air mata yang berubah menjadi kekuatan, dan atas setiap padang tandus dalam hidup yang Dia janjikan akan berakhir dengan pancaran mata air keberkahan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpahkan kepada uswah terindah kita, Nabi Muhammad SAW. Sosok yang mengajarkan kita bahwa pengabdian tertinggi adalah ketika cinta kepada Sang Khaliq mampu melampaui segala keterikatan duniawi. Beliau adalah pewaris sah keteguhan Ibrahim, kesabaran Ismail, dan resiliensi Siti Hajar, yang membawa risalah cinta dari tanah gersang Makkah hingga cahayanya menyentuh hati kita di pagi yang penuh berkah ini.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jama’ah Ied al adha yang dirahmati oleh Allah,
Pagi ini, gema takbir membelah langit, membawa ingatan kita pada sebuah lembah gersang ribuan tahun silam. Kita seringkali terpesona pada ketajaman pisau Ibrahim dan keteguhan Ismail. Namun hari ini, mari kita menoleh sejenak pada sosok wanita luar biasa yang menjadi tiang penyangga peradaban Makkah, Ibunda Siti Hajar.
Kisah Siti Hajar bukan sekadar drama padang pasir, melainkan sebuah manifesto tentang Resiliensi yakni sebuah kemampuan luar biasa untuk tidak hanya bertahan di tengah tekanan, tapi justru tumbuh menjadi lebih kuat karena tekanan tersebut.
رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim : 37)
Bayangkan sebuah lembah yang Allah sebut dalam Al-Qur’an sebagai Ghayru Dzi Zar’in. Lembah yang tidak memiliki tanaman, tidak ada air, tidak ada kehidupan. Di sanalah Hajar ditinggalkan. Beliau ditinggalkan oleh suaminya sendiri, kekasih Allah, Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Bukan karena benci, bukan pula karena jemu, melainkan karena sebuah perintah langit yang melampaui nalar kemanusiaan. Ibrahim membawa Hajar jauh dari tanah yang subur menuju jantung gurun yang mati, hanya bersama seorang bayi kecil yang masih menyusu, Ismail.
Dalam psikologi kontemporer, resiliensi dimulai dengan Radical Acceptance atau penerimaan paling dasar (Faridah et al., 2025)1. Titik ini bukanlah kepasrahan menyerah, kalah. Ia adalah keberanian untuk menerima kenyataan pahit sepenuhnya, tanpa syarat, dan tanpa membantahnya. Hajar tidak menghabiskan energinya untuk memprotes takdir atau meratapi nasib.
Saat Hajar bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu?” dan Ibrahim menjawab “Iya”, maka selesailah gejolak hatinya. Hajar memiliki Fixed Point. Sebuah titik sauh yang kuat bahwa Tuhan tidak mungkin menyia-nyiakannya. Inilah pesan bagi kita bahwa resiliensi bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan keyakinan bahwa tujuan kita lebih besar daripada ketakutan kita. Ibarat sebuah kapal yang dihantam badai di tengah samudera, ia butuh jangkar yang tertancap kuat ke dasar laut agar tidak terseret arus. Bagi Siti Hajar, Fixed Point-nya bukan pada sosok suaminya, bukan pula pada perbekalan yang ia bawa, melainkan pada kalimat:
”Allahu Ma’iy” (Allah bersamaku)
Seringkali, energi kita habis untuk mengutuk keadaan: ‘Kenapa aku yang diuji? Kenapa harus sekarang? Kenapa sesulit ini?’ Pertanyaan kenapa yang berlebihan justru melemahkan jiwa. Siti Hajar mengajarkan kita untuk berhenti berperang dengan kenyataan. Beliau menerima bahwa ‘saat ini aku di padang tandus, dan ini adalah kehendak Allah’. Dengan menerima sepenuhnya, beliau tidak lagi membuang energi untuk mengeluh, melainkan mengubah energi itu menjadi daya juang untuk mencari jalan keluar.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jama’ah yang dimuliakan oleh Allah,
Mengapa Allah mengabadikan lari Siti Hajar sebagai ritual suci Sa’i?
Karena Allah ingin kita belajar bahwa iman harus memiliki kaki. Resiliensi Siti Hajar mengajarkan bahwa meskipun kita merasa lelah, meskipun solusi belum tampak di depan mata, kita dilarang berhenti bergerak. Bagi para pelajar yang berjuang dengan belajar, bagi pasangan yang mendamba keturunan, bagi para orang tua yang berjuang dengan ekonomi, dan atas nama perjuangan lainnya, teruslah berlari. Pergerakan adalah validasi dari iman kita.
Siti Hajar tidak hanya duduk diam berdoa. Beliau berlari. Shafa ke Marwah, Marwah ke Shafa, hingga tujuh kali. Beliau menunjukkan apa yang disebut sebagai Active Endurance.
إنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah…” (QS. Al-Baqarah: 158)
Resiliensi Hajar adalah Resiliensi yang Bergerak. Inilah yang dalam disiplin ketangguhan mental disebut sebagai Active Endurance (ketahanan aktif)(Mohamad Puzi & Ahmad, 2020)2. Banyak orang salah mengartikan sabar dan tawakal sebagai sikap diam menunggu keajaiban jatuh dari langit. Namun, Siti Hajar mendefinisikan ulang makna sabar dengan cara tetap bergerak.
Mengapa harus tujuh kali? Mengapa tidak cukup satu kali jika Allah mampu menurunkan air kapan saja?
Allah ingin kita belajar bahwa dalam hidup ini, ada proses yang disebut ketahanan aktif. Kita dituntut untuk berupaya hingga batas kemampuan fisik dan mental kita. Allah tidak menilai Siti Hajar dari apakah beliau berhasil menemukan air di puncak bukit itu, tapi Allah menilai daya juang dan ketekunan langkahnya.
Bagi kita hari ini, Active Endurance berarti terus bekerja meskipun ekonomi sedang sulit, terus belajar meskipun hafalan terasa berat, terus berbuat baik meskipun lingkungan tidak mendukung. Karena ‘air Zamzam’ dalam hidup kita hanya akan memancar setelah Allah melihat ketangguhan aktif dalam langkah-langkah yang kita lakukan selama bergerak.
Jama’ah shalat ied al adha yang berbahagia,
Di sinilah letak rahasia resiliensi yang paling mendalam. Air zamzam tidak muncul dari bukit Shafa atau Marwah tempat Hajar kelelahan berlari. Zamzam justru memancar di bawah kaki Ismail.
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya…” (QS. At-Talaq: 2-3)
Seperti teori Antifragility milik Nassim Nicholas Taleb yang berarti lebih dari Tangguh (Nassim Nicholas Taleb, 2012)3. Maknanya jika terkena guncangan, tekanan, dan kegagalan, ia justru menjadi lebih kuat, lebih baik, dan lebih berkembang. Dunia mungkin melihat Hajar sedang dalam kesulitan, namun Allah sedang mempersiapkan ledakan berkah. Zamzam adalah pesan bahwa hasil seringkali datang bukan dari jalur yang kita duga, tapi ia hanya datang kepada mereka yang telah menuntaskan ikhtiarnya. Allah menghargai proses lari Siti Hajar, namun Allah memberikan hasil sesuai dengan kehendak-Nya yang Maha Luas.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Jamaah yang berbahagia,
Iduladha tahun ini adalah momentum untuk menyembelih rasa putus asa. Jika hari ini kita merasa berada di lembah tandus kehidupan, entah itu masalah keluarga, pekerjaan, studi, ataupun masalah lainnya. Ingatlah Siti Hajar. Jangan pernah berkata jalanmu buntu, karena bagi orang yang bertakwa. Setiap dinding yang menghalangi, sebenarnya adalah pintu yang belum terbuka.
Jadilah pribadi yang resiliens. Pribadi yang tidak hancur karena tekanan, tapi justru menemukan sumber mata air kehidupan di tengah gersangnya ujian. Menjadikan Resiliensi Hajar sebagai kemantapan untuk membuat peta jalan hidup terbaik di tengah hidup yang carut marut sebab banyak sektor yang tidak mendukung keberpihakan dan pembebasan kaum-kaum tertintas, termasuk kita sebagai rakyat di sebuah negara berkembang ini.
Untuk menguatkan resiliensi kita seperti Resiliensi Hajar, marilah kita berdo’a dan yakin do’a kita ini akan diamini oleh malaikat juga akan dikabulkan oleh Allah SWT:
للهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
للّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمـُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمـُؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ فيَا قَاضِيَ الحَاجَاتِ
Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim.
Di hari yang mulia ini, di hadapan keagungan-Mu, kami bersimpuh memohon kekuatan. Sebagaimana Engkau telah mengokohkan hati Ibunda Hajar di tengah lembah yang gersang, maka kokohkanlah kaki kami saat melewati padang ujian hidup kami masing-masing.
Ya Allah ya Tuhan kami, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang tangguh menghadapi ujian zaman. Karuniakanlah kami keberkahan Zamzam dalam setiap tetes keringat ikhtiar kami. Anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk menerima setiap takdir-Mu dengan lapang, tanpa mengeluh dan tanpa berputus asa. Jadikanlah Engkau satu-satunya titik sauh dan pegangan kami, sehingga saat dunia berguncang dan rencana-rencana kami runtuh, hati kami tetap tenang karena memiliki-Mu.
Ya Allah, Sang Penggerak Kehidupan.
Jangan biarkan kami menjadi hamba yang pasif dan berputus asa. Berikanlah kami kekuatan untuk terus “berlari” antara Shafa dan Marwah kehidupan kami; terus bekerja, terus belajar, dan terus beramal saleh, meskipun hasil belum tampak di depan mata. Berikanlah kami keyakinan bahwa setiap langkah kaki kami dalam kebaikan adalah ibadah yang Engkau saksikan
Jadikanlah jiwa kami jiwa yang tidak hancur karena tekanan, tidak patah karena beban, namun justru semakin kuat, semakin bijak, dan semakin bercahaya saat ditempa ujian. Ubahlah setiap air mata kesedihan kami menjadi air Zamzam keberkahan. Ubahlah setiap “lembah tandus” persoalan kami menjadi ladang amal yang menumbuhkan peradaban mulia bagi anak cucu kami.
Ya Allah, Tuhan yang menjawab doa di waktu sempit.
Sebagaimana Engkau pancarkan Zamzam dari titik yang tak terduga, pancarkanlah solusi bagi saudara-saudara kami yang sedang dalam kesulitan ekonomi, berikanlah kesembuhan bagi yang sedang sakit, dan berikanlah ketajaman ilmu serta kelapangan hati bagi para santri yang sedang berjuang di jalan-Mu.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Referensi :
- Faridah, Sulfikar K, Ahmad Yasser, & Zakaria Al Anshori, M. (2025). Resiliensi: Menjaga Ketahanan Mental. Jurnal Media Intelektual Muslim Dan Bimbingan Rohani, 11(1), 14. http://journal.iaimsinjai.ac.id/indeks.php/mimbar ↩︎
- Mohamad Puzi, S., & Ahmad, R. (2020). Resiliensi, Religiositi dan Depresi dalam kalangan Mahasiswa Muslim: Satu Tinjauan di Universiti Tempatan (Resilience, Religiosity and Depression among Muslim Students. A Survey at Local University). Jurnal Pembangunan Sosial, 23. https://doi.org/10.32890/jps2020.23.1 ↩︎
- Nassim Nicholas Taleb. (2012). Antifragile Thins that Gain from Disorder. ↩︎
disampaikan dalam Khutbah Iduladha di Lapangan SPEAM Kota Pasuruan oleh dr. M. Khakim Abdillah, M. Biomed.













