Sidoarjo, 27 Mei 2026 — Ribuan jamaah memadati Lapangan Wage Taman, Sidoarjo, dalam pelaksanaan Salat Idul Adha yang berlangsung khidmat pada pagi hari. Bertindak sebagai khatib, Ust. Dr. KH. Abu Nasir, M.Ag., Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Pasuruan, menyampaikan khutbah bertema pembangunan peradaban Islam melalui tauhid, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan yang autentik.
Dalam khutbahnya, KH Abu Nasir mengajak umat Islam mensyukuri nikmat kesehatan, kesempatan, dan kesadaran untuk menunaikan Salat Idul Adha serta ibadah kurban sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah SWT.
“Ibadah Idul Adha mengajarkan kepasrahan total manusia di hadapan Allah. Kita hanyalah hamba yang kecil di bawah kebesaran-Nya,” ujarnya di hadapan jamaah.
Haji dan Semangat Pengorbanan
Khatib juga menyinggung besarnya kerinduan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji. Ia mengisahkan perjuangan sejumlah masyarakat kecil yang bertahun-tahun menabung demi bisa berangkat ke Tanah Suci, termasuk seorang nelayan asal Sumatera Utara dan seorang pengumpul sampah yang akhirnya mampu berhaji setelah puluhan tahun menabung.
Menurutnya, kisah-kisah tersebut menunjukkan besarnya daya tarik spiritual ibadah haji sebagai puncak penghambaan seorang muslim kepada Allah SWT.
Peradaban Islam dan Keteladanan Nabi Ibrahim
Dalam khutbahnya, KH Abu Nasir menekankan bahwa Idul Adha dan ibadah haji memiliki keterkaitan erat dengan pembangunan peradaban Islam. Ia mengutip sejumlah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa bumi akan diwariskan kepada hamba-hamba Allah yang saleh.
Ia menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS merupakan prototipe manusia pembangun peradaban. Perjalanan panjang Nabi Ibrahim bersama Siti Hajar dan Nabi Ismail di lembah gersang Makkah disebutnya sebagai fondasi historis lahirnya peradaban besar Islam.
“Peradaban dibangun di atas nilai spiritual, moral, keadilan, ilmu pengetahuan, dan kepemimpinan yang kuat,” katanya.
KH Abu Nasir juga mengutip pandangan sejumlah tokoh seperti Ibnu Khaldun, Malik bin Nabi, hingga Arnold Toynbee mengenai makna peradaban sebagai proses menuju kemajuan dan kemakmuran masyarakat.
Tauhid Membebaskan Manusia dari Mitos dan Kemunduran
Salah satu poin utama khutbah adalah pentingnya tauhid sebagai fondasi kemajuan umat. Menurutnya, ajaran tauhid Nabi Ibrahim membebaskan manusia dari praktik-praktik syirik, pemujaan benda, dan kepercayaan mistik yang menghambat kemajuan berpikir.
Ia mengkritik masih adanya praktik-praktik sesajen, pemujaan tempat-tempat tertentu, hingga keyakinan mistis yang dianggap bertentangan dengan semangat Islam yang rasional dan ilmiah.
“Umat Islam harus menjadi umat yang berpikir menggunakan akal, nalar, dan ilmu pengetahuan. Alam semesta adalah objek kajian untuk kemajuan teknologi dan kemanusiaan,” tegasnya.
Soroti Krisis Kemanusiaan Dunia
Dalam bagian lain khutbahnya, KH Abu Nasir turut menyinggung konflik global dan penderitaan rakyat Palestina. Ia menyatakan bahwa Islam mengajarkan perdamaian, namun juga membolehkan perlawanan terhadap penindasan.
Menurutnya, prinsip tauhid menegaskan kesetaraan manusia dan menolak penjajahan serta dominasi bangsa atas bangsa lain.
Pentingnya Kepemimpinan Otentik
KH Abu Nasir juga menyoroti pentingnya kepemimpinan yang matang melalui proses pendidikan, pengalaman, dan ujian kehidupan. Ia mengingatkan bahaya lahirnya pemimpin “karbitan” yang hanya mengejar kekuasaan dan kepentingan pribadi.
“Pemimpin sejati lahir dari proses panjang, bukan muncul secara instan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemimpin ideal adalah sosok yang jujur, menepati janji, berpihak kepada rakyat, dan menuntaskan amanah dengan baik sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim AS.
Khutbah ditutup dengan doa untuk keselamatan umat Islam, kesejahteraan bangsa, serta kemenangan bagi rakyat Palestina dan kaum muslimin yang tertindas di berbagai belahan dunia.
Pelaksanaan Salat Idul Adha di Lapangan Wage Taman berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan hingga akhir acara.











