Pasuruan, 27 Mei 2026 – Pelaksanaan Sholat Idul Adha tahun ini berlangsung khidmat di atas sebidang tanah wakaf milik Bapak H. Sukarlan sekeluarga, yang berada di wilayah PCM Grati, Kabupaten Pasuruan. Tanah wakaf tersebut menjadi simbol nyata semangat pengorbanan dan kepedulian sosial dalam kehidupan umat. Bapak H. Sukarlan sendiri dikenal sebagai salah satu pengurus aktif di lingkungan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Grati.
Dalam khutbah dan refleksi Idul Adha yang disampaikan oleh Drs. Slamet Suharto selaku Pimpinan Harian PDM Kota Pasuruan, menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual tahunan penyembelihan hewan qurban, tetapi momentum spiritual untuk meneguhkan kembali makna pengorbanan dalam kehidupan umat manusia.
Menurut beliau, Nabi Ibrahim AS telah memberikan teladan agung tentang keimanan yang tidak berhenti pada keyakinan konseptual, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata yang penuh keberanian moral, keikhlasan spiritual, dan kepasrahan total kepada Allah SWT.
Puncak keteladanan itu tergambar dalam peristiwa ketika Nabi Ibrahim AS diperintahkan menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa monumental tersebut diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 103:
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ
Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya untuk melaksanakan perintah Allah
Drs. Slamet Suharto menjelaskan bahwa ayat tersebut bukan sekadar kisah sejarah, tetapi simbol puncak kepasrahan spiritual seorang hamba kepada Tuhannya. Kata “falammā aslamā”* menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail telah mencapai derajat ketundukan total kepada kehendak Allah tanpa keraguan sedikit pun.
“Di sinilah pengorbanan berubah menjadi pelajaran abadi bahwa iman sejati menuntut keberanian menempatkan Allah di atas segala cinta duniawi,” ujarnya.
Beliau juga menekankan bahwa qurban memiliki dua dimensi penting, yaitu dimensi vertikal dan horizontal. Secara vertikal, qurban merupakan manifestasi tauhid dan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT. Kata qurban sendiri berasal dari akar kata qoruba–yaqrabu–qurbanan yang berarti mendekat.
Sedangkan secara horizontal, qurban menghadirkan pesan sosial yang sangat mendalam. Spirit qurban harus melahirkan kepedulian terhadap sesama, memperkuat solidaritas sosial, dan menghadirkan keberpihakan kepada kaum lemah dan membutuhkan.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hajj ayat 37:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
“Daging-daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.”
Dalam pandangan beliau, hakikat qurban bukan hanya menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri manusia, seperti keserakahan, keangkuhan, kebencian, dan ketamakan.
“Musuh terbesar manusia sesungguhnya bukan yang berada di luar dirinya, tetapi hawa nafsu dan sifat kebinatangan yang ada dalam jiwanya. Itulah yang harus disembelih dengan ketajaman iman dan kejernihan akal sehat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Drs. Slamet Suharto mengajak umat Islam menjadikan Idul Adha sebagai momentum membangun peradaban melalui amal nyata yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Menurutnya, pengorbanan di era modern dapat diwujudkan melalui dedikasi dalam pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, hingga pemberdayaan ekonomi umat.
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 105:
“Dan katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.”
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
Pelaksanaan Sholat Idul Adha di atas tanah wakaf keluarga H. Sukarlan tersebut menjadi contoh nyata bahwa semangat qurban tidak hanya diwujudkan dalam ibadah ritual, tetapi juga melalui pengorbanan harta dan tenaga demi kemaslahatan umat.
Dengan spirit Idul Adha, umat Islam diharapkan terus memperkuat nilai keikhlasan, kepedulian sosial, dan semangat beramal demi terwujudnya masyarakat yang berkemajuan, berkeadaban, dan diridhai Allah SWT.











