Dalam suasana hangat dan antusiasme terasa di Gedung Kuliah Bersama (GKB) 1 Lantai 6 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) saat Yayasan Lentera Insan Kreatif menggelar workshop Notice Ability bersama tamu spesial asal Amerika Serikat, Dean Bragonier dan Bodhi Bragonier. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran inspiratif yang mengajak peserta memahami cara baru memandang perbedaan dalam proses belajar, khususnya terkait disleksia.
Dean Bragonier, pendiri NoticeAbility yang juga penyandang disleksia, hadir membagikan pengalaman hidup sekaligus strategi praktis tentang bagaimana seseorang dapat menemukan kekuatan di balik cara berpikir yang unik. Bersama putranya, Bodhi Bragonier, ia mengajak peserta memahami bahwa disleksia bukan hambatan, melainkan cara kerja otak yang berbeda dan berpotensi menjadi keunggulan jika dikenali serta dikembangkan secara tepat.
Dalam sesi workshop, peserta diajak melihat pendekatan pendidikan yang lebih inklusif melalui aktivitas yang menstimulasi kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan pola berpikir visual. Pendekatan ini memberi gambaran bahwa setiap anak memiliki gaya belajar berbeda yang memerlukan ruang tumbuh sesuai potensinya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Saffanatur Rizqiyyah, M.Pd. Gr., guru inklusi SD Al Kautsar sekaligus salah satu calon Indonesia Dyslexia Specialist Teacher 2026, yang mengikuti kegiatan dengan antusias untuk memperkaya pemahaman serta kompetensi yang nantinya dapat diterapkan kepada peserta didik di lingkungan sekolah.
Workshop juga melibatkan dua siswa dari SD Al Kautsar, Achmad Faiz Rizki Abdullah dan Muhammad Farhan Kelvin Heksananda, dalam berbagai aktivitas interaktif. Keterlibatan mereka menjadi bukti nyata bahwa anak-anak mampu berkembang optimal ketika diberi kesempatan belajar dengan pendekatan yang sesuai karakter dan kebutuhannya.
Kepala SD Al Kautsar, Mustakin, S.Pd.I., S.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat penting untuk memperluas perspektif guru dan orang tua dalam memahami keberagaman cara belajar siswa.
“Pendidikan sejatinya bukan tentang menyeragamkan kemampuan anak, melainkan membantu menemukan potensi terbaik yang sudah dimiliki masing-masing. Workshop Notice Ability ini menjadi pengingat bahwa ketika kita mulai melihat kemampuan, bukan keterbatasan, maka anak-anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri dan semangat belajar yang lebih baik,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah terhadap berbagai kebutuhan peserta didik.
“Setiap anak memiliki cara belajar yang unik. Tugas kita sebagai pendidik adalah memahami, mendampingi, dan membuka ruang agar mereka berkembang sesuai potensinya. Dengan pendekatan yang tepat, anak-anak yang selama ini dianggap memiliki kesulitan justru dapat menunjukkan kemampuan luar biasa,” tambah Mustakin.
Di bawah naungan Yayasan Lentera Insan Kreatif, workshop ini menjadi langkah konkret membangun ekosistem pendidikan yang lebih terbuka terhadap keberagaman kemampuan siswa. Tidak hanya menjadi ruang belajar bagi guru, kegiatan ini juga menghadirkan pengalaman bermakna bagi siswa agar merasa dihargai, dipahami, dan memiliki tempat untuk berkembang.
Lebih dari sekadar pelatihan, Workshop Notice Ability di UMM menjadi pengingat bahwa pendidikan yang inklusif dimulai dari cara pandang: ketika masyarakat mulai melihat kemampuan di balik perbedaan, semakin banyak peluang dan pintu masa depan yang dapat terbuka bagi anak-anak.











