Pasuruan – Para jamaah memenuhi ruang utama Masjid Darul Arqom, Pasuruan, dalam gelaran kajian subuh yang berlangsung khidmat pada Selasa (23/6). Bertindak sebagai penceramah, Ustaz Anang Abdul Malik menyampaikan tausiyah bertajuk rahasia meraih kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Di hadapan jamaah yang tampak antusias menyimak, beliau menegaskan bahwa kunci utama kebahagiaan sejati tidaklah rumit, melainkan bersandar pada dua hal mendasar: menegakkan shalat dengan khusyuk dan membiasakan diri dengan akhlak yang mulia dalam kehidupan sehari-hari.
Mengawali ceramahnya, Ustaz Anang menyitir ayat suci Al-Qur’an yang menjadi fondasi utama kehidupan seorang mukmin: “Yaa ayyuhalladzina amanuu arka’uu wasjuduu… la’allakum turhamuun” (Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah dan sujudlah… agar kamu mendapat rahmat/kebahagiaan). “Jika kita benar-benar menginginkan kebahagiaan, maka dirikanlah shalat. Sebab shalat adalah tiang agama,” tegas Ustaz Anang di hadapan jamaah. Beliau mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW bahwa barangsiapa yang menegakkan shalat, maka sesungguhnya ia telah mengokohkan agamanya. Sebaliknya, mereka yang dengan sengaja meninggalkan shalat, pada hakikatnya sedang merobohkan sendi-sendi agamanya sendiri, bahkan batasannya bisa menjatuhkan seseorang pada kekafiran.
Lebih lanjut, Ustaz Anang mengupas dimensi kesehatan dan ketenangan yang lahir dari ibadah shalat. Secara psikologis dan medis, orang yang mendirikan shalat akan memiliki jiwa yang tenang dan tubuh yang sehat. Aktivitas zikir dan mengingat Allah sepanjang shalat secara langsung memberikan pengaruh positif pada metabolisme dan ketenangan tubuh. Secara anatomis, beliau mencontohkan gerakan sujud. Saat seorang hamba bersujud dengan tumakninah, posisi jantung yang berada di atas kepala mempermudah darah mengalirkan oksigen secara maksimal menuju otak. Proses inilah yang membuat pikiran kembali segar dan jernih dalam menghadapi dinamika kehidupan. “Orang yang shalatnya benar, maka surga menjadi tempatnya. Tidak hanya surga di akhirat kelak, tetapi ia juga akan merasakan ‘surga dunia’ berupa kedamaian hati,” tuturnya.
Namun, kesalehan ritual berupa shalat belumlah sempurna jika tidak diimbangi dengan kesalehan sosial melalui akhlak yang mulia. Faktor kedua inilah yang memegang peranan sangat vital dalam menentukan kebahagiaan hidup seseorang. Untuk menggambarkan betapa krusialnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, Ustaz Anang mengisahkan sebuah hadis di hadapan jamaah. Suatu ketika, seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai perihal seorang wanita yang dikenal rajin shalat, gemar bersedekah, dan rajin berpuasa. Namun, di sisi lain, lisannya seringkali menyakiti hati tetangga dan orang-orang di sekitarnya. “Mendengar pertanyaan itu, apa jawaban Rasulullah? Beliau menjawab dengan tegas: tempatnya di neraka,” urai Ustaz Anang. Beliau mengingatkan bahwa penderitaan atau ‘neraka’ akibat buruknya akhlak dan lisan tidak hanya dirasakan di akhirat, melainkan bisa langsung dirasakan di dunia berupa pengucilan, hilangnya keberkahan, dan konflik sosial yang tiada henti.
Menutup kuliah subuh yang penuh sejuk itu, Ustaz Anang Abdul Malik mengajak seluruh jamaah Masjid Darul Arqom untuk merefleksikan diri dan berkomitmen menjaga keseimbangan antara hubungan kepada Allah (hablum minallah) melalui shalat, dan hubungan kepada sesama manusia (hablum minannas) melalui keluhuran budi pekerti. “Dua faktor inilah—shalat yang khusyuk dan akhlak yang mulia—yang harus benar-benar kita jaga bersama di dalam kehidupan sehari-hari agar selamat dunia dan akhirat,” pungkasnya seraya mengakhiri tausiyah dengan untaian doa dan salam penutup.













