Pasuruan 7 Juni 2026 – Jemaah Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Ukhuwah Kota Pasurunan mendapatkan siraman rohani yang mendalam. Ustadz H.M. Baidowi M.Ag. hadir sebagai penceramah dengan mengangkat tema tentang bahaya kesombongan yang menjadi akar kerusakan moral manusia, serta tantangan menjaga fitrah di tengah derasnya arus digital. Para jamaah tampak antusias mendengarkan tausiyah yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB hingga menjelang waktu duha tersebut.
Ustadz Baidowi membuka kajiannya dengan mengurai sejarah permusuhan abadi antara makhluk dan Penciptanya. Beliau menegaskan bahwa musuh pertama Allah dan sekaligus musuh nyata bagi manusia adalah Iblis. Dosa pertama yang dilakukan di alam semesta bukanlah pembunuhan atau pencurian, melainkan sebuah penyakit hati yang sangat akut, yaitu kibir atau kesombongan. “Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS karena merasa dirinya lebih baik. Khairu minhu, aku lebih baik dari dia. Aku dari api, dia dari tanah,” ujar Ustadz Baidowi di hadapan para jamaah.
Kesombongan itulah yang membuat Iblis terusir secara hina dari surga dan menjauhkan dirinya dari rahmat Allah. Menariknya, Ustadz Baidowi mengingatkan bahwa di era modern ini, warisan sifat Iblis tersebut menjelma dalam bentuk kekufuran, keengganan berterima kasih atas nikmat, serta penolakan terhadap kebenaran atau sunnatullah. Beliau pun mengutip hadis Rasulullah SAW yang sangat bergetar: tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, walau hanya sebesar biji sawi.
Dalam ceramahnya, Ustadz Baidowi menjabarkan bagaimana Iblis bekerja memutarbalikkan fakta demi menggelincirkan manusia. Salah satu contoh paling autentik adalah peristiwa rayuan Iblis kepada Adam dan Hawa di surga. Ketika Allah melarang mereka mendekati sebuah pohon, Iblis menggunakan teknologi propaganda yang sangat canggih pada masanya dengan menamai pohon terlarang itu sebagai Syajarotul Khuldi atau Pohon Keabadian. “Sesuatu yang dilarang oleh Allah diubah informasinya oleh Iblis menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan dan tampak indah,” jelasnya. Strategi ini, menurut sang ustadz, masih sangat relevan dan justru makin canggih di era digital hari ini. Informasi hoaks, kemaksiatan yang dikemas atas nama kebebasan, dan gaya hidup hedonis adalah bentuk-bentuk Syajaratul Khuldi masa kini yang kerap merusak fitrah manusia melalui pori-pori yang sangat halus.
Ustadz Baidowi juga memberikan sorotan tajam pada ketahanan keluarga di era gawai. Hubungan suami istri saat ini diuji lewat alat digital seperti WhatsApp dan telepon. Kuncinya, menurut beliau, adalah mengembalikan kontrol pada nilai syariat dan membangun rasa saling percaya yang tulus agar rumah tangga tidak terjerumus ke dalam kezaliman.
Tidak melulu tegang, pengajian pagi itu juga diselingi oleh humor segar khas Ustadz Baidowi. Beliau menyinggung perilaku manusia yang sering kali lupa diri dan berlebih-lebihan atau isrof, terutama dalam urusan perut. Beliau mencontohkan bagaimana sifat tamak manusia sering kali muncul saat dihadapkan pada hidangan gratis, seperti menu kambing guling. “Silakan makan dan minum, Kulu wasyrobu, tapi jangan berlebihan (wa la tusrifu). Kadang kita ini kalau ketemu makanan gratis langsung lupa kontrol, bahkan sibuk membungkusnya bawa pulang,” selorohnya yang disambut tawa renyah para jamaah. Sifat tamak dan serakah seperti ini, lanjut beliau, menurunkan derajat kemuliaan manusia menjadi seperti hewan yang tidak pernah merasa kenyang dan selalu ingin menguasai kanan-kirinya.
Di akhir ceramahnya, Ustadz Baidowi memberikan formula bagi para jamaah untuk membentengi diri dari bisikan Iblis. Senjatanya tidak lain adalah menjaga fitrah kesucian hati melalui perbanyak istigfar dan menjaga seluruh anggota badan. Nasihat paling berat yang beliau tekankan adalah menjaga lisan, perut, dan terutama kemaluan. Mengutip pesan Rasulullah, beliau mengingatkan bahwa salah satu ujian terberat umat manusia adalah menjaga kesucian di antara dua paha. Jika hal ini tidak didasarkan pada fitrah dan aturan Allah, maka hancurlah tatanan moral sebuah bangsa.
Pengajian Ahad Pagi di Masjid Al Ukhuwah ini ditutup dengan sebuah kesimpulan reflektif bahwa anak-anak kita, generasi masa depan, harus ditanami fondasi akidah, syariat, dan akhlak yang kokoh sejak dini. Hanya dengan benteng itulah, ke mana pun mereka melangkah di dunia yang kian digital ini, fitrah mereka akan secara otomatis menolak segala bentuk kemaksiatan.













