Ustadz Umar Efendi mengajak umat Islam untuk memperbanyak munajat, memperbaiki kualitas keluarga, dan mencetak generasi bertakwa sebagai respons terhadap berbagai persoalan bangsa yang tak kunjung usai. Ajakan ini disampaikannya dalam pengajian rutin Kamis malam Jumat di Masjid At-Taqwa, Jagalan, Kota Pasuruan, pada Kamis (4/6/2026).
Dalam ceramah yang mengangkat tema “Pelopor Tradisi Baik dan Buruk”, Ustadz Umar mengaku miris menyaksikan fenomena bangsa dan negara saat ini. Ia menekankan bahwa malam Jumat sebaiknya dimanfaatkan sebagai sarana bermunajat agar doa-doa kebaikan untuk keluarga, lingkungan, hingga bangsa dikabulkan oleh Allah SWT.
Tokoh agama tersebut banyak meneladani kisah Nabi Ibrahim AS yang dikenal sebagai pemimpin dengan akidah kokoh dan rasionalitas tinggi saat menghadapi kekuasaan Raja Namrud. Meski bergelar kekasih Allah atau Khalilullah, Nabi Ibrahim tidak pernah berhenti berdoa agar dirinya dan keturunannya selalu ditetapkan dalam ketaatan, sebagaimana tercantum dalam QS. Ibrahim ayat 40. Ustadz Umar menegaskan bahwa seorang nabi yang istimewa sekalipun masih memohon keteguhan dalam ibadah, maka sudah sepantasnya umat biasa senantiasa berdoa kapan pun dan di mana pun berada. Ia juga mengutip doa Nabi Ibrahim saat membangun Kakbah yang memohon keberlanjutan dakwah untuk generasi penerus dalam QS. Al-Baqarah ayat 129.
Lebih lanjut, Ustadz Umar menyoroti bahwa membentuk anak saleh tidak bisa dilakukan secara instan tanpa ikhtiar nyata. Langkah konkret yang disarankan antara lain mengenalkan anak pada lingkungan masjid, majelis taklim, hingga menitipkannya ke pondok pesantren yang berkualitas. Ia mengutip penggalan akhir QS. Al-Fajr ayat 28-30 mengenai pentingnya berkumpul dengan hamba-hamba Allah yang saleh untuk meraih rida-Nya.
Ustadz Umar juga menyinggung pentingnya kurikulum pesantren tradisional seperti pengajaran Tafsir Jalalain sebagai dasar memahami Al-Qur’an sebelum beralih ke tafsir yang lebih kompleks. Namun demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tetap selektif dalam memilih lembaga pendidikan karena adanya oknum yang mencoreng nama baik pesantren melalui kasus moral belakangan ini. Ia menegaskan bahwa puncaknya adalah membawa anak ke pesantren yang mampu mencerahkan masa depan akhirat mereka.
Mengenai kriteria kepemimpinan, Ustadz Umar menekankan pentingnya hadirnya pemimpin bertakwa di setiap tingkatan, mulai dari RT, RW, kepala daerah, hingga presiden. Ia merujuk pada doa hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih dalam QS. Al-Furqan ayat 74 serta penegasan Allah dalam QS. Al-Anbiya ayat 73 tentang pencetakan figur pemimpin yang memberi petunjuk kebaikan. Menurutnya, jika bangsa ini memiliki pemimpin yang takut kepada Allah dan berkualitas, berbagai masalah bisa dituntaskan dengan cepat karena pemimpin bertakwa akan menjadi penyejuk hati bagi rakyatnya.
Selain persoalan kepemimpinan bangsa, Ustadz Umar memberikan kritik sosial terkait tata kelola keuangan masjid di sejumlah tempat. Ia menyayangkan adanya masjid dengan pendapatan besar namun fasilitas minim, berbeda dengan masjid-masjid modern di daerah Prigen, Malang, Surabaya, hingga Jakarta yang berhasil mengembalikan dana umat dalam bentuk pelayanan luar biasa seperti ambulans mewah, tempat penginapan gratis, hingga penyediaan makanan bagi musafir. Pengajian malam itu ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan keluarga, keturunan, serta keutuhan bangsa dan negara Indonesia dari segala bentuk kemungkaran dan marabahaya.
Editor: Marjoko













