Pasuruan, 7 Juni 2026 – Jamaah yang didominasi warga lanjut usia memadati Masjid Darul Arqom di Jalan KH. Wachid Hasyim, untuk mengikuti kajian ahad pagi. Mereka antusias menyimak kajian kesehatan yang menghadirkan dr. Husni Muzakir Al Habsyi dengan tema “Antisipasi Penyakit Degeneratif Pada Lansia dan Solusinya.” Dalam kesempatan itu, dr. Husni mengupas tuntas bagaimana menjaga sisa umur agar tetap berkah, bugar, dan produktif.
Membuka ceramahnya, dr. Husni mengingatkan jemaah akan hakikat rezeki dan ketetapan Allah SWT tentang kesehatan. “Harta adalah rezeki yang paling rendah, sementara kesehatan adalah rezeki yang paling tinggi,” ungkapnya di hadapan jemaah. Beliau memaparkan bahwa Allah SWT menciptakan setiap penyakit lengkap dengan obat penawarnya. Namun, ada satu ketetapan hukum alam (sunnatullah) yang mutlak dan tidak memiliki obat, yaitu penuaan. Meski penuaan tidak bisa dihindari, penurunan kualitas hidup akibat penyakit degeneratif—seperti stroke, kanker, serangan jantung, dan diabetes—bisa diantisipasi.
Menurut dr. Husni, kriteria sehat tidak boleh dipandang secara sempit hanya pada fisik yang bebas dari rasa sakit. Sehat yang seutuhnya mencakup tiga pilar utama: sehat fisiknya, sehat jiwanya, dan sehat sosialnya. Ketiga aspek ini saling bertautan, di mana jiwa yang tenang dan hubungan sosial yang harmonis akan membentuk imunitas fisik yang kuat. Landasan ini sejatinya telah digariskan dalam Al-Qur’an. Dokter Husni mengutip Surah Asy-Syu’ara ayat 80, “Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,” serta Surah Al-Isra’ ayat 82 yang menegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai penawar dan rahmat.
Di tengah pembahasan spiritual itu, dr. Husni menyampaikan data yang cukup memprihatinkan, bahwa sekitar 72,25% penduduk Indonesia belum bisa membaca Al-Qur’an. Hal ini menjadi tantangan besar, mengingat kedekatan dengan Al-Qur’an merupakan salah satu sumber ketenangan jiwa yang krusial bagi lansia, sebagaimana diisyaratkan dalam Surah Al-Mujadilah ayat 10 dan Surah Ar-Rum ayat 54 tentang fase-fase penciptaan manusia dari lemah, menjadi kuat, lalu kembali melemah dan beruban.
Memasuki materi klinis, dr. Husni menyoroti fenomena meluasnya penyakit degeneratif. Ironisnya, saat ini banyak usia muda yang sudah akrab dengan “penyakit tua” seperti diabetes, stroke, dan asam urat, yang semuanya berakar pada pola hidup tidak sehat dan kurangnya pemenuhan nutrisi. Bagi para lansia, salah satu ancaman nyata yang dibahas adalah sarcopenia atau kondisi penyusutan massa dan kekuatan otot, yang sering kali diikuti oleh penyusutan fungsi otak. Namun, dr. Husni menegaskan bahwa proses penyusutan otak ini bisa diperlambat secara signifikan melalui variasi makanan bergizi, aktivitas fisik yang melatih otot-otot besar seperti otot paha dan bokong, serta aktif menjalin komunikasi sosial agar fungsi kognitif otak tetap terasah.
Dalam sesi penutup, dr. Husni membagikan formula praktis mengenai konsep perawatan kesehatan mandiri di rumah. Kuncinya terletak pada menjaga kebersihan, memberikan ruang bagi tubuh menyerap nutrisi secara optimal, serta mendukung proses regenerasi sel baru. Beliau juga meluruskan kesalahpahaman soal diet. “Diet itu bukan berarti tidak makan, melainkan mengatur pola makan dengan nutrisi seimbang,” jelasnya. Untuk menjaga kebugaran lansia, rumus dasarnya adalah 80% fokus pada pemenuhan nutrisi dan 20% pada kecukupan energi, dengan anjuran konsumsi dua butir telur setiap hari sebagai sumber protein berkualitas tinggi.
Menutup ceramahnya, dr. Husni mengajak seluruh jemaah Masjid Darul Arqom untuk menyeimbangkan pola hidup sehat: menjaga pola makan bergizi, berolahraga sesuai porsi, beristirahat yang cukup, dan senantiasa berpikir positif. Gaya hidup sehat yang aktif dan berserah diri pada ketetapan-Nya adalah modal utama untuk meraih masa tua yang sehat, mandiri, dan bahagia.
Editor: Marjoko













