Pasuruan – Pengajian Ahad pagi yang berlangsung di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, Ahad (14/6/2026), menghadirkan Ustadz Yusuf Hasyimi sebagai pemateri. Dalam kajiannya, beliau mengupas kandungan Surah Al-Ghasyiyah yang banyak berbicara tentang hari kiamat dan kehidupan akhirat.
Di hadapan jamaah, Ustadz Yusuf menegaskan bahwa tema hari akhir merupakan salah satu tema yang paling sering diulang dalam Al-Qur’an. Menurutnya, pengulangan tersebut menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan kehidupan setelah kematian bagi setiap Muslim.
“Allah mengingatkan manusia secara terus-menerus tentang hari akhir agar kita memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Jangan sampai kita kehilangan arah dan melupakan tujuan utama hidup sebagai hamba Allah,” ujarnya.
Kajian difokuskan pada ayat pertama Surah Al-Ghasyiyah, “Hal ataka haditsul ghasyiyah” (Sudahkah sampai kepadamu berita tentang hari yang meliputi?). Ustadz Yusuf menjelaskan bahwa penggunaan kalimat tanya dalam ayat tersebut bukan untuk meminta jawaban, melainkan sebagai bentuk penegasan agar manusia memberi perhatian serius terhadap peristiwa kiamat.
Beliau juga menerangkan bahwa Al-Qur’an menggunakan berbagai istilah untuk menyebut hari kiamat, seperti Al-Qiyamah, Al-Haqqah, Al-Waqi’ah, dan Al-Ghasyiyah. Masing-masing istilah menggambarkan sisi yang berbeda dari kedahsyatan peristiwa akhir zaman.
Dalam pemaparannya, Ustadz Yusuf menyinggung kondisi manusia ketika dibangkitkan di Padang Mahsyar. Beliau menjelaskan bahwa pada saat itu seluruh manusia akan hadir dengan wajah yang tunduk dan penuh ketakutan di hadapan Allah SWT.
“Pada hari itu tidak ada lagi kesombongan. Semua manusia akan menyadari hakikat dirinya sebagai makhluk yang harus mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, beliau menguraikan gambaran yang diberikan Al-Qur’an mengenai nasib orang-orang yang mengingkari kebenaran. Mereka digambarkan sebagai golongan yang telah bersusah payah beramal di dunia, namun amalnya tidak bernilai karena tidak dilandasi keimanan dan ketaatan kepada Allah.
Ustadz Yusuf juga mengingatkan jamaah agar tidak tertipu oleh gemerlap kehidupan dunia. Menurutnya, kesuksesan materi tanpa iman dan amal saleh tidak akan membawa keselamatan di akhirat.
Dalam penjelasan ayat-ayat berikutnya, beliau menggambarkan berbagai bentuk azab yang disebutkan Al-Qur’an bagi penghuni neraka, mulai dari panasnya api neraka, makanan yang menyakitkan berupa pohon berduri, hingga minuman yang mendidih. Gambaran tersebut, kata beliau, bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi sebagai peringatan agar manusia kembali kepada jalan yang benar.
“Al-Qur’an menghadirkan gambaran surga dan neraka sebagai sarana pendidikan iman. Harapannya, manusia terdorong untuk memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk kemaksiatan,” tuturnya.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Yusuf mengajak jamaah untuk menjadikan keyakinan terhadap hari akhir sebagai pendorong dalam memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak sehari-hari. Ia menegaskan bahwa mengingat kematian dan kehidupan akhirat merupakan salah satu cara efektif untuk menjaga keistiqamahan dalam menjalankan ajaran Islam.
Pengajian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung hangat. Jamaah tampak antusias mendalami berbagai persoalan seputar kehidupan akhirat yang menjadi tema utama kajian pagi tersebut.














