Pasuruan, 21 Juni 2026 – Pengajian Ahad Pagi yang berlangsung di Masjid Al Ukhuwah, Sekarsono, Kota Pasuruan, menghadirkan Ustadz M. Farihin sebagai pemateri. Dalam kajiannya, ia mengajak jamaah mengambil hikmah dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW serta memahami pentingnya dakwah yang dilakukan dengan hikmah dan keteladanan.
Ustadz Farihin mengawali ceramahnya dengan mengingatkan bahwa umat Islam baru saja memasuki Tahun Baru Hijriah 1448. Ia menjelaskan bahwa penanggalan Hijriah ditetapkan berdasarkan peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, sebuah momentum penting dalam sejarah Islam yang menandai perubahan besar dalam perjuangan dakwah.
Menurutnya, hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu sering melakukan khalwat atau menyendiri di Gua Hira untuk beribadah dan merenungkan kehidupan.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Farihin juga mengulas turunnya wahyu pertama, Surah Al-‘Alaq ayat 1-5, yang diawali dengan perintah “Iqra” atau membaca. Ia menegaskan bahwa perintah membaca tidak hanya dimaknai secara tekstual terhadap tulisan, tetapi juga secara kontekstual dengan membaca fenomena dan realitas kehidupan di sekitar manusia.
“Seorang muslim harus mampu membaca dua hal sekaligus, yaitu teks dan konteks. Apa yang terjadi di lingkungan sekitar juga merupakan pelajaran yang harus dipahami,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa setelah turunnya wahyu kedua dalam Surah Al-Muddatstsir, Nabi Muhammad SAW mulai diperintahkan untuk berdakwah. Pada tahap awal, dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi karena jumlah pengikut yang masih sedikit. Fokus utama dakwah saat itu adalah penguatan tauhid dan keimanan para sahabat.
Ustadz Farihin menekankan bahwa dakwah merupakan kewajiban setiap muslim. Namun, dakwah harus dimulai dari diri sendiri dengan menjadi teladan dalam menjalankan ajaran Islam.
“Jangan sampai seperti lilin yang menerangi orang lain tetapi dirinya sendiri terbakar. Sebelum mengajak orang lain, kita harus terlebih dahulu melaksanakan apa yang kita sampaikan,” katanya.
Ia kemudian mengutip Surah At-Tahrim ayat 6 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Menurutnya, tanggung jawab seorang muslim tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap keluarga yang dipimpinnya.
Dalam menyampaikan dakwah, Ustadz Farihin mengingatkan pentingnya mengikuti tuntunan Al-Qur’an sebagaimana tercantum dalam Surah An-Nahl ayat 125, yaitu berdakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.
“Dakwah tidak boleh dilakukan dengan kata-kata kasar atau bertujuan menjatuhkan orang lain. Diskusi dalam Islam bertujuan mencari solusi, bukan mencari kemenangan,” tegasnya.
Selain membahas dakwah, ia juga mengingatkan pentingnya perhatian orang tua terhadap pendidikan generasi penerus. Mengutip Surah An-Nisa ayat 9 dan nasihat Luqman kepada anaknya, Ustadz Farihin menegaskan bahwa pendidikan tauhid harus menjadi prioritas utama dalam keluarga.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan penggunaan gawai oleh anak-anak harus mendapat pengawasan yang serius dari orang tua agar tidak menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan akhlak dan keimanan mereka.
Menutup kajiannya, Ustadz Farihin mengajak jamaah untuk menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana evaluasi diri, memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas dakwah, serta membangun keluarga yang berlandaskan nilai-nilai Islam.












