Pasuruan, 9 Agustus 2026 – Kuliah Subuh di Masjid Al-Kautsar, Jl. Ir. H. Juanda, Pasuruan, menghadirkan kajian Sirah Nabawiyah bersama Ustadz Nur Adi Septyanto dengan tema “Perintah Hijrah ke Madinah.”
Dalam kajian tersebut, jamaah diajak menelusuri kembali perjalanan hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat dari Makkah menuju Madinah. Salah satu pertanyaan penting yang menjadi titik refleksi adalah: mengapa hijrah tidak dilakukan sejak awal, tanpa harus melewati berbagai siksaan, ancaman, dan tekanan ekonomi yang begitu berat?
Ustadz Nur Adi menjelaskan bahwa perjalanan menuju pertolongan Allah tidak selalu berlangsung secara instan. Ujian merupakan bagian dari proses untuk menguji kesungguhan dan kejujuran iman seorang hamba.
Para sahabat tidak serta-merta meninggalkan Makkah dalam keadaan mudah. Mereka menghadapi berbagai bentuk tekanan karena mempertahankan keimanan. Bahkan, sebagian di antara mereka harus meninggalkan harta, keluarga, dan kehidupan yang telah dibangun bertahun-tahun.
Hijrah Rasulullah SAW pun bukan sekadar keputusan pribadi untuk mencari tempat yang lebih aman. Hijrah dilakukan sebagai perintah Allah SWT, sehingga segala risiko yang menyertainya dihadapi dengan keyakinan dan ketundukan kepada-Nya.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Taubah ayat 100, yang memberikan penghargaan kepada kaum Muhajirin dan Ansar karena ketulusan mereka dalam mendahulukan keridaan Allah.
Harta dan Ilmu sebagai Ujian
Dalam pemaparannya, Ustadz Nur Adi juga mengingatkan bahwa harta dan ilmu merupakan dua hal yang dapat menjadi ujian bagi manusia.
Seseorang bisa saja memiliki banyak harta, tetapi tanpa ilmu yang benar, harta tersebut justru dapat menyesatkannya. Sebaliknya, kemiskinan bukan hanya berkaitan dengan keterbatasan materi, tetapi juga dapat berupa kemiskinan ilmu dan ketidaktahuan terhadap siapa Tuhannya.
Karena itu, orientasi seorang yang berhijrah karena iman tidak lagi semata-mata mengejar dunia. Seluruh perjalanan hidup diarahkan untuk mendapatkan keridaan dan rahmat Allah SWT.
Ustadz Nur Adi juga mengingatkan kembali hadis tentang tiga hal yang mengiringi seseorang ketika meninggal dunia: keluarga, harta, dan amal. Dua di antaranya, keluarga dan harta, akan kembali meninggalkan manusia. Sementara amal menjadi satu-satunya bekal yang tetap menyertainya.
Hijrah dan Kejujuran Iman
Kajian kemudian diarahkan pada refleksi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap ujian, sekecil apa pun, dapat menjadi sarana untuk mengukur sejauh mana kejujuran seseorang dalam beriman.
Pertanyaannya bukan hanya seberapa besar ujian yang kita hadapi, tetapi seberapa jujur kita tetap memilih Allah ketika berada dalam keadaan sulit.
Dari perjalanan hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat, jamaah diajak memahami bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah proses perubahan dan penyucian diri, yang menuntut kesabaran, pengorbanan, keyakinan, serta keteguhan dalam menjalankan perintah Allah.
Setiap rasa takut, kehilangan, kesulitan, dan pengorbanan yang dilalui para sahabat menjadi bagian dari proses untuk menunjukkan siapa yang benar-benar teguh dalam keimanannya.
Kuliah Subuh kemudian ditutup dengan pembacaan doa Kafaratul Majlis dan salam. Kajian pagi itu meninggalkan pesan penting bagi jamaah: pertolongan dan rahmat Allah memiliki proses yang harus dijalani. Maka, ketika ujian datang dalam perjalanan hijrah kita, jangan terburu-buru menganggapnya sebagai tanda ditinggalkan Allah. Bisa jadi, justru melalui ujian itulah Allah sedang memurnikan iman dan mempersiapkan kita menuju keadaan yang lebih baik.













