PASURUAN, PasMu.id — Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU) Kota Pasuruan bersama Yatim Mandiri Pasuruan resmi menggelar program kolaborasi bertajuk Amil Match. Program yang dikemas dalam bentuk olahraga bulutangkis persahabatan ini berlangsung di GOR Badminton Bintang Terang, Kota Pasuruan, pada Ahad, 9 Agustus 2026.
Kegiatan persahabatan ini mengikutsertakan sekitar 28 personel dari unsur eksekutif, sekretariat, hingga relawan LAZISMU Kota Pasuruan, serta belasan amil dari Yatim Mandiri. Lebih dari sekadar ajang olahraga, kolaborasi ini dirancang sebagai langkah strategis untuk memperkuat kohesi sosial dan integrasi antar-Lembaga Amil Zakat (LAZ) di wilayah Pasuruan.
Program Manager LAZISMU Kota Pasuruan, M. Muslimaini, menegaskan bahwa pendekatan kolaboratif lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak dalam tata kelola filantrofi modern. Menurutnya, dinamika penanganan masalah sosial tidak lagi efektif jika dilakukan secara parsial.
”Kami mengapresiasi tinggi kolaborasi epik ini. Amil Match bukan sekadar arena olahraga, melainkan instrumen untuk membangun kesadaran kolektif antar-amil zakat. Kita ingin mengubah pola interaksi antar-lembaga dari yang semula berfokus pada kompetisi menjadi sinergi yang berdampak langsung bagi umat, sejalan dengan prinsip ta’awanu ‘alal birri wat taqwa serta fastabiqul khairat,” ujar Muslimaini saat ditemui di sela-sela kegiatan.
Fokus Pilar Kesehatan dan Penanganan Stunting
Muslimaini menambahkan, penguatan silaturahim antar-amil zakat ini menjadi fondasi penting untuk mengeksekusi program-program pemberdayaan yang lebih terintegrasi di Kota Pasuruan. LAZISMU sendiri memberikan perhatian besar pada pilar kesehatan, khususnya intervensi gizi dan penanganan stunting.
Sinergi antar-LAZ ini dinilai krusial apabila merujuk pada indikator pembangunan daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pasuruan, peningkatan kualitas hidup masyarakat sangat bergantung pada efektivitas intervensi di sektor kesehatan dan pendidikan. Solusi atas persoalan mendasar seperti stunting membutuhkan daya dukung kolektif dari seluruh elemen gerakan zakat.
Secara teoritis, pentingnya konsolidasi antar-lembaga zakat ini juga diperkuat oleh kajian ilmiah Zakat Social Fund and Poverty Alleviation (Khasandy & Astuti, 2019). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa fragmentasi dan tumpang-tindih (overlapping) program bantuan sering kali mengurangi efisiensi penyaluran dana sosial keagamaan. Sebaliknya, kolaborasi dan integrasi antar-lembaga amil zakat terbukti dapat meningkatkan benefit impact secara signifikan dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Menuju Integrasi Gerakan Zakat Daerah
Sementara itu, Lead Program Yatim Mandiri Pasuruan, Ahmad Halim, yang hadir bersama 15–17 personelnya, menyambut hangat program kolaborasi ini. Ia menilai kebersamaan dengan LAZISMU Kota Pasuruan dapat memberikan iklim positif bagi gerakan zakat di tingkat lokal.
”Meski secara kelembagaan kita memiliki fokus program yang beragam, tujuan utamanya tetap satu: mengedukasi masyarakat tentang kewajiban berzakat dan mengentaskan kemiskinan. Kolaborasi ini menjadi langkah awal yang sangat baik untuk mempererat persaudaraan,” tutur Halim.
Halim juga berharap kolaborasi semacam ini dapat merekat hubungan antar-lembaga zakat hingga berlanjut pada pembentukan Forum Organisasi Zakat (FOZ) di tingkat Kota Pasuruan.
Melalui keberlanjutan program Amil Match, LAZISMU Kota Pasuruan berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas dengan lembaga-lembaga zakat resmi lainnya. Harapannya, sinergi yang terbangun di lapangan olahraga ini dapat bertransformasi menjadi aksi nyata dalam program kemanusiaan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat Pasuruan.
Editor: Marjoko













