Pendidikan dasar seharusnya menjadi tempat pertama seorang anak belajar membaca dunia, menghitung persoalan, bertanya, berpikir, sekaligus membangun karakter. Namun, pertanyaan mendasarnya kini justru harus dibalik: apakah sekolah benar-benar sedang membangun fondasi itu, atau hanya membuat anak semakin sibuk menghafal banyak hal?
Pertanyaan tersebut bukan sekadar kegelisahan. Data terbaru pendidikan Indonesia menunjukkan bahwa persoalan literasi dan numerasi masih menjadi pekerjaan besar. Hasil riset Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2026 menunjukkan capaian kompetensi minimum literasi SD/MI turun dari 59,04 persen pada 2024 menjadi 55,7 persen pada 2025. Pada numerasi, capaian juga turun dari 52,48 persen menjadi 48,25 persen. Lebih jauh, sekitar 35,6 persen siswa kelas IV SD belum mencapai kemampuan dasar numerasi dan 18,8 persen belum mencapai kemampuan dasar literasi.
Angka tersebut semestinya menjadi alarm keras. Sebab pendidikan dasar bukan tempat untuk sekadar mengejar banyaknya materi yang selesai diajarkan. Pendidikan dasar adalah fondasi. Jika anak belum mampu memahami bacaan, menarik makna dari informasi, atau menggunakan angka untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari, maka sebanyak apa pun materi yang berhasil dihafalnya tidak otomatis menunjukkan keberhasilan pendidikan.
Masalahnya bukan berarti menghafal tidak penting. Hafalan tetap memiliki tempat dalam proses belajar. Persoalannya muncul ketika hafalan menjadi tujuan, sementara pemahaman tertinggal. Anak dapat mengingat definisi, rumus, tanggal, bahkan jawaban ujian, tetapi belum tentu mampu menjelaskan mengapa sebuah persoalan terjadi dan bagaimana mencari jalan keluarnya. Di situlah pendidikan kehilangan ruhnya: sekolah sibuk memindahkan pengetahuan, tetapi belum selalu berhasil membentuk kemampuan menggunakan pengetahuan.
Pemerintah sebenarnya telah memiliki instrumen untuk membaca persoalan tersebut. Asesmen Nasional mengukur tiga aspek penting, yakni literasi dan numerasi melalui Asesmen Kompetensi Minimum, karakter melalui Survei Karakter, serta kualitas proses dan lingkungan belajar melalui Survei Lingkungan Belajar. Artinya, negara telah bergerak dari sekadar mengukur nilai menuju upaya membaca mutu pendidikan secara lebih menyeluruh.
Bahkan pada Maret 2026, Rapor Pendidikan diperbarui dengan data capaian mutu layanan pendidikan tahun 2025. Pemerintah menempatkannya sebagai instrumen perencanaan berbasis bukti agar sekolah dan pemerintah daerah dapat mengenali masalah, merefleksikan akar persoalan, lalu menentukan pembenahan yang lebih tepat.
Namun data tidak akan mengubah pendidikan apabila hanya berhenti sebagai laporan. Angka harus diterjemahkan menjadi tindakan di ruang kelas. Jika data menunjukkan kemampuan numerasi melemah, sekolah tidak cukup mengadakan rapat dan membuat dokumen evaluasi. Guru membutuhkan dukungan untuk memperbaiki pembelajaran. Anak membutuhkan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan. Dan pemerintah daerah harus memastikan intervensi benar-benar sampai kepada sekolah yang membutuhkan.
Kabar baiknya, pemerintah mulai menempatkan kelas awal sekolah dasar sebagai titik penting pembenahan. Pada April 2026, Kemendikdasmen bersama sejumlah mitra memperkuat program peningkatan literasi dan numerasi nasional dengan perhatian khusus pada kualitas pembelajaran di kelas awal SD, peningkatan kapasitas guru, serta pemanfaatan asesmen diagnostik untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan murid.
Arah tersebut patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti sebagai program. Tantangan pendidikan Indonesia terlalu besar untuk diselesaikan dengan pergantian istilah, perubahan kebijakan, atau peluncuran gerakan baru tanpa memastikan perubahan nyata di kelas. Anak tidak membutuhkan terlalu banyak slogan pendidikan. Mereka membutuhkan guru yang memiliki waktu untuk memahami kesulitannya, bahan bacaan yang bermutu, lingkungan belajar yang aman, serta metode pembelajaran yang membuat mereka mampu berpikir.
Kita juga perlu berhenti mengukur keberhasilan sekolah hanya dari seberapa banyak materi yang selesai. Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah bertahun-tahun belajar, apakah anak mampu membaca dengan pemahaman? Apakah ia dapat membedakan fakta dan opini? Apakah ia mampu menghitung dan mengambil keputusan berdasarkan data? Apakah ia berani bertanya? Apakah ia mampu menjelaskan pikirannya? Dan yang tidak kalah penting, apakah ia tumbuh menjadi manusia yang jujur, bertanggung jawab, serta mampu hidup bersama orang lain?
Persoalan ini menjadi semakin penting di tengah derasnya informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan. Anak sekarang dapat memperoleh jawaban dalam hitungan detik. Karena itu, pendidikan tidak boleh hanya mengajarkan cara menemukan jawaban. Sekolah harus mengajarkan cara memeriksa apakah jawaban itu benar, memahami konteksnya, mempertanyakan sumbernya, dan menggunakannya secara bertanggung jawab.
Dengan kata lain, tantangan pendidikan masa kini bukan sekadar membuat anak lebih banyak tahu. Tantangannya adalah membuat anak mampu berpikir ketika informasi datang tanpa batas. Di tengah dunia yang dipenuhi mesin pencari dan AI, kemampuan membaca, menalar, menghitung, berkomunikasi, dan membangun karakter justru semakin penting.
Indonesia tidak kekurangan anak yang mampu menghafal. Yang harus kita pastikan adalah lahirnya generasi yang mampu memahami. Sebab bangsa tidak dibangun oleh manusia yang sekadar mampu mengulang jawaban, melainkan oleh manusia yang mampu membaca persoalan, menguji informasi, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Maka, jika fondasi pendidikan dasar masih rapuh, jangan terlalu cepat berbicara tentang generasi emas 2045. Emas tidak lahir dari slogan. Ia ditempa melalui pendidikan dasar yang kuat. Jika anak belum mendapatkan kemampuan paling mendasar hari ini, maka persoalan itu bukan sekadar persoalan nilai ujian, melainkan persoalan masa depan bangsa.
Kita harus berani mengakui: mungkin selama ini kita terlalu sibuk mengajar anak untuk mengetahui banyak hal, tetapi belum cukup serius mengajarkan mereka memahami hal-hal yang paling dasar. Sekolah harus kembali kepada pertanyaan paling sederhana sekaligus paling menentukan: apakah anak benar-benar belajar?
Sebab pada akhirnya, pendidikan dasar bukan tentang seberapa banyak yang dapat dihafalkan seorang anak. Pendidikan dasar adalah tentang seberapa kuat fondasi yang kita bangun agar ia mampu membaca kehidupan, memahami perubahan, berpikir secara jernih, dan menentukan masa depannya sendiri.
Editor: Marjoko












