Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali mengukur kemuliaan dari kasatmata materi, pesan menyejukkan hadir dalam Kuliah Subuh di Masjid Darul Arqom, Jalan KH. Wachid Hasyim No. 202, Pasuruan, Kamis (20/8/2026). Dalam tausiahnya, Ust. H. Heru Winarno, M.BA. mengajak jemaah untuk memperdalam rasa syukur dan melatih keteguhan hati agar tidak mudah terperdaya oleh gemerlap duniawi.
Ust. Heru menegaskan bahwa bersyukur atas nikmat Allah SWT yang melimpah membutuhkan jiwa yang kokoh. Rasa syukur sulit bersemayam apabila hati berada dalam kondisi lemah dan jauh dari perenungan. Oleh karena itu, jemaah diajak untuk rutin bertadabur, mendalami hikmah yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Mengutip pertanda dalam Surah Ali ‘Imran ayat 196, beliau mengingatkan agar umat Islam tidak silau atau terperdaya melihat lalu-lalang dan keberhasilan materi orang-orang kafir. Kebebasan mereka beraktivitas, berniaga, hingga melintasi batas-batas negara sering kali memperdaya pandangan manusia, seolah-olah Allah meridhoi jalan hidup mereka dan membiarkan orang-orang beriman berada dalam kekurangan.
“Jangan sampai timbul pandangan keliru bahwa kemewahan adalah tanda kemuliaan dan kemiskinan adalah bentuk kehinaan. Nilai seorang hamba di hadapan Allah tidak diukur dari kedudukan materi semata,” tutur Ust. Heru.
Beliau juga menyoroti realitas kebangsaan saat ini. Secara empiris, penguasaan sumber daya alam dari hulu hingga hilir kerap berada di tangan segelintir pihak, sementara masyarakat lokal seolah hanya menjadi penonton atau pekerja kasar di tanahnya sendiri. Ketimpangan penguasaan tambang dan kekuatan oligarki ini menjadi beban berat yang dihadapi pimpinan negara saat ini dalam mewujudkan keadilan sosial.
Kendati demikian, Kuliah Subuh tersebut ditutup dengan optimisme dan harapan besar. Seluruh jemaah bersama-sama memohon kedamaian, kekuatan hati, serta keberkahan bagi bangsa dan negara melalui doa Kafaratul Majelis sebelum diakhiri dengan salam penutup.
Editor: Marjoko













