Rabu, 9 September 2026. Di Ruang 205 Pascasarjana FITK UIN Sunan Kalijaga, CIESA menggelar Short Course perdana. Judulnya panjang: “Understanding Islamic Education in Southeast Asia”. Tapi pesannya pendek dan menampar: sudah terlalu lama kita memposisikan diri sebagai “penerima”.
Selama ini narasi pendidikan Islam global selalu dimulai dari Baghdad, Kairo, lalu mampir ke Nusantara. Seolah Asia Tenggara hanya pelabuhan transit. Seolah pesantren, surau, dan aksara Jawi hanya footnote.
CIESA datang untuk membalik meja itu.
- Kita Bukan Konsumen, Kita Produsen
Pernyataan Prof. Dr. Imam Machali paling saya ingat: “Asia Tenggara bukan hanya penerima pengaruh, tapi aktor yang membentuk Islam dunia.”
Ini bukan basa-basi. Lihat jaringan ulama Nusantara abad 17-19. Lihat bagaimana kitab-kitab Jawi dicetak di Mekah dan Madinah dan dipakai jamaah haji sedunia. Lihat bagaimana model pesantren kita diekspor ke Thailand Selatan, Filipina, bahkan Australia.
Tapi ironisnya, di kelas-kelas kita sendiri, sejarah itu tidak diajarkan. Kita lebih hafal nama ulama Timur Tengah daripada ulama Banjar, Patani, atau Mindanao. CIESA mencoba menambal lubang memori kolektif itu.
- Jawi Bukan Pajangan Museum
Yang bikin merinding adalah materi Achmad Fikri tentang aksara Jawi. “Huruf Jawi itu identitas kita. Kalau tidak dibaca ulang, kita kehilangan sejarah pengetahuan sendiri.”
Betul. Berapa banyak naskah dari Sabang sampai Merauke yang berdebu di perpustakaan? Berapa banyak mahasiswa S2 dan S3 yang skripsinya masih berkutat pada teori impor, padahal di kampungnya ada manuskrip 200 tahun yang belum pernah ditransliterasi?
CIESA mengingatkan: riset tidak harus jauh. Kadang jawabannya ada di lemari kakek kita.
- Roadmap, Bukan Euforia
Saya apresiasi pernyataan Prof. Dr. Sigit Purnama. Ia tidak mau CIESA jadi acara seremonial. “Dua tahun ke depan harus ada roadmap. Fokusnya riset, publikasi, database, dan jejaring.”
Ini penting. Pusat studi di kampus sering mati setelah 1-2 kegiatan. Kalau CIESA serius, maka PR-nya berat: bangun database naskah, dorong publikasi internasional, jalin jejaring dengan universitas di Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina. Jadikan Asia Tenggara sebagai satu ruang akademik, bukan sekat negara.
Catatan Dr. Iffah juga relevan: Islam Asia Tenggara itu soal lokalitas, jaringan, dan mobilitas sosial. Artinya, riset CIESA tidak boleh terjebak di menara gading. Harus turun ke pesantren, ke komunitas, ke pasar.
Penutup: Saatnya Ekspor Pemikiran
Pesan terakhir CIESA sederhana: “Kalau mau memahami Islam hari ini, jangan hanya menoleh ke Timur Tengah. Menolehlah ke Asia Tenggara.”
Saya setuju. Dunia Islam sedang mencari model moderasi, pendidikan yang membumi, dan tradisi keilmuan yang tidak otoriter. Semua itu sudah lama dipraktikkan di kawasan kita.
Masalahnya, kita sendiri yang lupa. Kita sibuk mengimpor kurikulum, mengimpor teori, mengimpor label. Padahal kita punya bahan baku.
CIESA baru mulai. Tugas kita sebagai akademisi, mahasiswa, dan masyarakat adalah mengawal agar short course ini tidak berhenti di short. Harus jadi gerakan panjang.
Karena kalau bukan kita yang menulis ulang sejarah pendidikan Islam Asia Tenggara, maka orang lain yang akan menulisnya. Dan kita hanya jadi objek di dalam tulisan itu lagi.
Wallahu a’lam bishshawab.












