• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
Pasmu
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

CIESA dan Kewajiban Mengembalikan Wibawa Asia Tenggara dalam Peta Islam Global

Nashrul Muminin oleh Nashrul Muminin
27 menit yang lalu
in Opini
0
CIESA gelar short course perdana, tegaskan Asia Tenggara produsen—bukan sekadar penerima, pendidikan Islam dunia.

CIESA gelar short course perdana, tegaskan Asia Tenggara produsen—bukan sekadar penerima—pendidikan Islam dunia.

0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Rabu, 9 September 2026. Di Ruang 205 Pascasarjana FITK UIN Sunan Kalijaga, CIESA menggelar Short Course perdana. Judulnya panjang: “Understanding Islamic Education in Southeast Asia”. Tapi pesannya pendek dan menampar: sudah terlalu lama kita memposisikan diri sebagai “penerima”.

Selama ini narasi pendidikan Islam global selalu dimulai dari Baghdad, Kairo, lalu mampir ke Nusantara. Seolah Asia Tenggara hanya pelabuhan transit. Seolah pesantren, surau, dan aksara Jawi hanya footnote.

CIESA datang untuk membalik meja itu.

  1. Kita Bukan Konsumen, Kita Produsen
    Pernyataan Prof. Dr. Imam Machali paling saya ingat: “Asia Tenggara bukan hanya penerima pengaruh, tapi aktor yang membentuk Islam dunia.”

Ini bukan basa-basi. Lihat jaringan ulama Nusantara abad 17-19. Lihat bagaimana kitab-kitab Jawi dicetak di Mekah dan Madinah dan dipakai jamaah haji sedunia. Lihat bagaimana model pesantren kita diekspor ke Thailand Selatan, Filipina, bahkan Australia.

Related Post

iPhone Duo datang terlambat, tetapi Apple mungkin justru mengubah standar pengalaman smartphone flip.

iPhone Duo, Pendatang Baru di Dunia Flip, tapi Bisa Menjadi Pionir

11 September 2026
PDA kajian lingkungan Q.S. Ar-Rum ayat 41, serukan moral dan ekologi untuk cegah kerusakan bumi.

Pesan Al-Qur’an untuk Kelestarian Lingkungan

7 September 2026

Ketika Allah Meyakinkan Hamba bahwa Setelah Gelap, Ada Cahaya

7 September 2026

Sandiwara Cinta Guru Krian: Dari Melodi Pop ke Pedagogi Digital di SMP Muhammadiyah 6

19 Agustus 2026

Tapi ironisnya, di kelas-kelas kita sendiri, sejarah itu tidak diajarkan. Kita lebih hafal nama ulama Timur Tengah daripada ulama Banjar, Patani, atau Mindanao. CIESA mencoba menambal lubang memori kolektif itu.

  1. Jawi Bukan Pajangan Museum
    Yang bikin merinding adalah materi Achmad Fikri tentang aksara Jawi. “Huruf Jawi itu identitas kita. Kalau tidak dibaca ulang, kita kehilangan sejarah pengetahuan sendiri.”

Betul. Berapa banyak naskah dari Sabang sampai Merauke yang berdebu di perpustakaan? Berapa banyak mahasiswa S2 dan S3 yang skripsinya masih berkutat pada teori impor, padahal di kampungnya ada manuskrip 200 tahun yang belum pernah ditransliterasi?

CIESA mengingatkan: riset tidak harus jauh. Kadang jawabannya ada di lemari kakek kita.

  1. Roadmap, Bukan Euforia
    Saya apresiasi pernyataan Prof. Dr. Sigit Purnama. Ia tidak mau CIESA jadi acara seremonial. “Dua tahun ke depan harus ada roadmap. Fokusnya riset, publikasi, database, dan jejaring.”

Ini penting. Pusat studi di kampus sering mati setelah 1-2 kegiatan. Kalau CIESA serius, maka PR-nya berat: bangun database naskah, dorong publikasi internasional, jalin jejaring dengan universitas di Malaysia, Brunei, Thailand, Filipina. Jadikan Asia Tenggara sebagai satu ruang akademik, bukan sekat negara.

Catatan Dr. Iffah juga relevan: Islam Asia Tenggara itu soal lokalitas, jaringan, dan mobilitas sosial. Artinya, riset CIESA tidak boleh terjebak di menara gading. Harus turun ke pesantren, ke komunitas, ke pasar.

Penutup: Saatnya Ekspor Pemikiran
Pesan terakhir CIESA sederhana: “Kalau mau memahami Islam hari ini, jangan hanya menoleh ke Timur Tengah. Menolehlah ke Asia Tenggara.”

Saya setuju. Dunia Islam sedang mencari model moderasi, pendidikan yang membumi, dan tradisi keilmuan yang tidak otoriter. Semua itu sudah lama dipraktikkan di kawasan kita.

Masalahnya, kita sendiri yang lupa. Kita sibuk mengimpor kurikulum, mengimpor teori, mengimpor label. Padahal kita punya bahan baku.

CIESA baru mulai. Tugas kita sebagai akademisi, mahasiswa, dan masyarakat adalah mengawal agar short course ini tidak berhenti di short. Harus jadi gerakan panjang.

Karena kalau bukan kita yang menulis ulang sejarah pendidikan Islam Asia Tenggara, maka orang lain yang akan menulisnya. Dan kita hanya jadi objek di dalam tulisan itu lagi.

Wallahu a’lam bishshawab.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: islamopinipendidikan
ShareTweetShare
Nashrul Muminin

Nashrul Muminin

Related Posts

iPhone Duo datang terlambat, tetapi Apple mungkin justru mengubah standar pengalaman smartphone flip.
Opini

iPhone Duo, Pendatang Baru di Dunia Flip, tapi Bisa Menjadi Pionir

oleh Marjoko
11 September 2026
PDA kajian lingkungan Q.S. Ar-Rum ayat 41, serukan moral dan ekologi untuk cegah kerusakan bumi.
Kabar

Pesan Al-Qur’an untuk Kelestarian Lingkungan

oleh Nurul Mawaridah
7 September 2026
Ad-Dhuha ajarkan gelap bukan akhir; sunyi bukan ditinggal; nikmat diubah jadi kepedulian sosial.
Opini

Ketika Allah Meyakinkan Hamba bahwa Setelah Gelap, Ada Cahaya

oleh Nashrul Muminin
7 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Jamaah Masjid Al-Ukhuwah healing ke Kota Batu/Pasmu.id

Apresiasi Jamaah yang Istiqamah, Masjid Al-Ukhuwah Ajak Healing dan Menginap di Villa Kota Batu

30 Agustus 2026

Renovasi Klinik SehatMu Dimulai, Muhammadiyah Kota Pasuruan Gelar Tasyakuran dan Doa Bersama

1 September 2026
Image Pasmu.id

Muhammadiyah Gadingrejo Terima Wakaf Rumah untuk Rumah Tahfidz dan Panti Asuhan Al Muttaqin

15 Agustus 2026
Cimory hadirkan edukasi, senam, dan keceriaan untuk ratusan siswa SMP MEKA di Krian. (foto: Nina Tri Wulyo/pasmu.id)

Semarak dan Edukatif, Cimory Hadirkan Pengalaman Berbeda untuk Siswa SMP MEKA

14 Agustus 2026
CIESA gelar short course perdana, tegaskan Asia Tenggara produsen—bukan sekadar penerima, pendidikan Islam dunia.

CIESA dan Kewajiban Mengembalikan Wibawa Asia Tenggara dalam Peta Islam Global

12 September 2026
iPhone Duo datang terlambat, tetapi Apple mungkin justru mengubah standar pengalaman smartphone flip.

iPhone Duo, Pendatang Baru di Dunia Flip, tapi Bisa Menjadi Pionir

11 September 2026
SD Al Kautsar Pasuruan lestarikan budaya Jawa lewat, gamelan, blangkon, gasing, dan gobak sodor dalam program Jawa Lestari. (foto: istimewa)

Lestarikan Budaya Jawa, SD Al Kautsar Gelar Program “Jawa Lestari” dan Permainan Tradisional

11 September 2026

Guru SMP Muhadisa Raih Juara 2 OGN SMP Tingkat Kota Pasuruan, Bawa Gagasan Baru Pembelajaran Bahasa Indonesia

7 September 2026
PasMu

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan