Surat Ad-Dhuha merupakan salah satu surat pendek yang sangat akrab di telinga umat Islam. Ia berada pada urutan ke-93 dalam mushaf, terdiri atas 11 ayat, dan menurut mayoritas ulama tergolong surat Makkiyah. Namun, di balik jumlah ayatnya yang singkat, tersimpan pesan yang sangat dalam tentang kehilangan, kesunyian, harapan, pertolongan Allah, dan kewajiban mengubah pengalaman menerima nikmat menjadi kepedulian kepada sesama. Surat ini turun pada masa awal kenabian ketika Rasulullah Muhammad SAW sempat tidak menerima wahyu dalam suatu masa. Situasi tersebut menjadi berat secara psikologis, terlebih ketika kaum Quraisy memanfaatkannya untuk meragukan kenabian beliau. Dalam keadaan seperti itu, Ad-Dhuha hadir bukan hanya sebagai jawaban terhadap ejekan, tetapi juga sebagai pelukan spiritual dari Allah kepada Rasul-Nya: bahwa diamnya wahyu bukan berarti Allah meninggalkan beliau.
وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Demi waktu duha dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
(QS. Ad-Dhuha: 1–3)
Bayangkan posisi Rasulullah SAW pada saat itu. Beliau telah menerima wahyu, memikul tugas kenabian, menghadapi penolakan masyarakat, kemudian datang masa ketika wahyu tidak turun. Bagi seorang manusia, keadaan semacam itu dapat melahirkan pertanyaan dan kegelisahan. Di tengah situasi tersebut, muncul ucapan yang menyakitkan dari orang-orang yang menentang dakwah. Mereka menganggap Tuhan telah meninggalkan Nabi Muhammad SAW. Riwayat yang disebutkan dalam literatur asbabun nuzul mengisahkan adanya perempuan Quraisy yang melontarkan ucapan semacam itu. Maka turunlah ayat-ayat awal Ad-Dhuha sebagai penegasan bahwa keterlambatan wahyu bukan tanda kebencian Allah. Ini menjadi pelajaran penting bagi manusia: masa sunyi dalam kehidupan tidak selalu berarti Allah sedang meninggalkan kita. Ada kalanya manusia memang harus melewati fase sepi agar belajar memahami bahwa pertolongan Allah tidak selalu hadir sesuai jadwal yang diinginkan manusia.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ
“Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak pula membencimu.”
(QS. Ad-Dhuha: 3)
Para ulama berbeda pendapat mengenai berapa lama wahyu sempat tidak turun ketika itu. Ada riwayat yang menyebut 40 hari, sementara pendapat lain menyebut waktu yang lebih singkat. Perbedaan mengenai durasi tersebut tidak menghilangkan inti pesan surat. Yang jauh lebih penting adalah keadaan yang hendak dijawab Al-Qur’an: manusia dapat merasa sendiri ketika pertolongan belum terlihat. Rasulullah SAW pun mengalami fase tersebut sebagai bagian dari perjalanan kenabian. Artinya, kesunyian bukan sesuatu yang selalu harus ditakuti. Dalam kehidupan kita, ada masa ketika doa belum memperoleh jawaban yang diharapkan, usaha belum menghasilkan, pendidikan belum membawa perubahan, pekerjaan belum menemukan arah, atau cita-cita terasa semakin jauh. Surat Ad-Dhuha mengajarkan agar manusia tidak buru-buru menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkannya hanya karena keadaan belum berubah.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ
“Dan sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
(QS. Ad-Dhuha: 4)
Setelah menenangkan Rasulullah, Allah memberikan perspektif tentang masa depan. Ayat keempat berbicara tentang sesuatu yang akan datang dan lebih baik. Pesannya seakan mengajak manusia untuk tidak menilai seluruh perjalanan hidup hanya berdasarkan keadaan hari ini. Apa yang sekarang terlihat sebagai kesulitan belum tentu menjadi akhir cerita. Dalam tafsir M. Quraish Shihab, rangkaian Ad-Dhuha juga dapat dipahami sebagai hiburan sekaligus penguatan terhadap Rasulullah berkaitan dengan masa depan risalahnya. Nabi yang saat itu menghadapi penolakan justru kemudian menjadi pembawa risalah yang pengaruhnya meluas ke berbagai penjuru dunia. Dari sini terdapat sebuah prinsip spiritual yang sangat kuat: jangan menilai masa depan berdasarkan kesulitan yang sedang dialami pada hari ini.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau menjadi puas.”
(QS. Ad-Dhuha: 5)
Ayat kelima menghadirkan janji yang menenteramkan: Allah akan memberikan karunia kepada Nabi Muhammad SAW hingga beliau memperoleh keridaan. Janji tersebut kemudian menemukan bentuknya dalam perjalanan dakwah Rasulullah. Islam berkembang, risalah menyebar, dan nama Muhammad SAW dikenang oleh umat manusia sepanjang zaman. Tetapi ayat ini tidak seharusnya dibaca secara sempit sebagai janji bahwa setiap kesulitan manusia akan segera digantikan oleh kekayaan atau keberhasilan duniawi. Karunia Allah jauh lebih luas. Ia dapat berupa keteguhan hati, ilmu, kesehatan, keluarga, kesempatan berbuat baik, kemampuan memaafkan, ketenangan, maupun kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain. Karena itu, seseorang yang membaca Ad-Dhuha seharusnya tidak hanya bertanya, “Kapan masalah saya selesai?”, tetapi juga bertanya, “Karunia apa yang sebenarnya telah Allah berikan kepada saya dan belum saya syukuri?”
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”
(QS. Ad-Dhuha: 6)
Kemudian surat ini mengajak Rasulullah SAW menengok kembali perjalanan hidupnya. Beliau dilahirkan dalam keadaan yatim. Ayahnya, Abdullah, wafat sebelum beliau lahir. Ibunya, Aminah, kemudian meninggal ketika beliau masih kecil. Dalam keadaan demikian, Allah menghadirkan perlindungan melalui orang-orang yang merawat dan menyayangi beliau, mulai dari kakeknya Abdul Muthalib kemudian pamannya Abu Thalib. Ayat ini memperlihatkan satu metode pendidikan spiritual yang menarik: ketika manusia sedang cemas menghadapi masa depan, ia perlu mengingat pertolongan Allah pada masa lalu. Mengingat perjalanan hidup bukan sekadar bernostalgia, melainkan cara untuk menyadari bahwa banyak fase sulit ternyata telah berhasil dilewati karena adanya pertolongan yang kadang baru terlihat setelah semuanya berlalu.
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ
“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan belum mengetahui jalan, lalu Dia memberikan petunjuk.”
(QS. Ad-Dhuha: 7)
Ayat ketujuh kemudian berbicara tentang petunjuk. Para mufasir menjelaskan ayat ini dalam konteks bahwa Rasulullah SAW sebelum menerima wahyu belum mengetahui secara terperinci syariat dan petunjuk wahyu yang kemudian Allah turunkan kepadanya. Kata dhallan dalam ayat ini tidak tepat dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berada dalam kesesatan akidah seperti orang musyrik. Justru ayat ini menunjukkan bahwa Allah membimbing beliau menuju petunjuk wahyu dan risalah. Dari sini terdapat pelajaran penting bahwa manusia tidak dilahirkan dalam keadaan mengetahui seluruh jawaban kehidupan. Belajar adalah perjalanan menuju petunjuk. Seseorang boleh belum tahu hari ini, tetapi ia harus memiliki kerendahan hati untuk mencari ilmu, bertanya, membaca, dan menerima bimbingan.
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ
“Dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.”
(QS. Ad-Dhuha: 8)
Ayat berikutnya mengingatkan keadaan Rasulullah SAW yang pernah mengalami keterbatasan secara ekonomi, kemudian Allah memberikan kecukupan. Dalam perjalanan hidupnya, Rasulullah SAW pernah berdagang dan memperoleh dukungan dari Khadijah RA. Tetapi kecukupan dalam perspektif Al-Qur’an tidak seharusnya hanya diukur berdasarkan jumlah harta. Seseorang dapat memiliki sedikit tetapi merasa cukup, sementara orang lain memiliki banyak tetapi terus merasa kekurangan. Karena itu, pesan Ad-Dhuha menggeser cara manusia memandang rezeki. Kecukupan adalah karunia yang seharusnya melahirkan syukur, bukan kesombongan. Ketika seseorang pernah berada dalam kesulitan kemudian Allah memberinya kelapangan, pengalaman tersebut semestinya membuatnya lebih peka terhadap orang lain yang masih berada dalam kesulitan.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
(QS. Ad-Dhuha: 9)
Menariknya, setelah menyebut berbagai nikmat yang diterima Rasulullah SAW, surat ini tidak memerintahkan beliau untuk memamerkan keberhasilan. Justru sebaliknya, nikmat tersebut diterjemahkan menjadi kepedulian kepada anak yatim. Ini merupakan salah satu pesan sosial paling kuat dalam Ad-Dhuha. Orang yang pernah merasakan kehilangan seharusnya memahami rasa kehilangan orang lain. Orang yang pernah mendapatkan perlindungan seharusnya melindungi. Orang yang pernah mendapatkan pertolongan seharusnya menolong. Karena itu, kesalehan dalam surat ini bergerak dari pengalaman personal menuju tanggung jawab sosial. Nikmat yang hanya berhenti pada diri sendiri belum menemukan seluruh maknanya; nikmat yang mengalir kepada orang lain menjadi bentuk syukur yang hidup.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ
“Maka terhadap anak yatim, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.”
(QS. Ad-Dhuha: 9)
Pesan ini menjadi semakin kuat apabila dibaca dalam kehidupan masyarakat modern. Anak yatim bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan ekonomi. Mereka juga membutuhkan pendidikan, perhatian, rasa aman, pendampingan, dan kesempatan untuk berkembang. Karena itu, semangat Ad-Dhuha tidak cukup diwujudkan melalui pemberian santunan sesekali. Ia harus hadir dalam sistem pendidikan dan kehidupan sosial yang memastikan anak-anak tanpa orang tua tetap mendapatkan kesempatan yang layak. Surat ini mengajarkan bahwa ukuran kemajuan masyarakat bukan hanya gedung yang tinggi atau teknologi yang maju, tetapi juga bagaimana masyarakat memperlakukan mereka yang berada dalam posisi paling rentan. Semakin kuat seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk memastikan orang lemah tidak semakin terpinggirkan.
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ
“Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.”
(QS. Ad-Dhuha: 10)
Ayat kesepuluh kemudian memperluas kepedulian kepada orang yang meminta. Sebagian ulama tafsir memahami as-sa’il sebagai orang yang meminta harta, sementara dalam konteks tertentu juga dapat dipahami sebagai orang yang meminta petunjuk atau pengetahuan. Apa pun cakupan pemahamannya, terdapat satu prinsip etis yang jelas: jangan merendahkan orang yang datang meminta. Jika mampu membantu, bantulah. Jika tidak mampu memenuhi permintaan, tolaklah dengan cara yang baik. Sebab, manusia tidak pernah tahu seluruh cerita hidup seseorang. Orang yang hari ini meminta pertolongan mungkin memiliki perjalanan panjang yang tidak terlihat oleh mata. Islam tidak hanya mengajarkan isi pemberian, tetapi juga mengajarkan adab ketika memberi maupun ketika tidak mampu memberi.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.”
(QS. Ad-Dhuha: 11)
Ayat terakhir menjadi penutup yang sangat indah. Setelah Allah mengingatkan nikmat perlindungan, petunjuk, dan kecukupan, Rasulullah diperintahkan untuk menyebut nikmat Tuhannya. Para ulama menjelaskan bahwa menyebut nikmat Allah bukan berarti membanggakan diri atau memamerkan kekayaan. Maksudnya adalah mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya untuk kebaikan. Karena itu, seseorang yang memiliki ilmu dapat menyebut nikmat tersebut dengan mengajarkannya. Orang yang memiliki harta dapat mensyukurinya dengan berbagi. Orang yang memiliki jabatan dapat mensyukurinya dengan berlaku adil. Orang yang memiliki pengaruh dapat menggunakannya untuk membela kebenaran. Syukur dalam Islam bukan sekadar ucapan “alhamdulillah”, tetapi transformasi nikmat menjadi manfaat.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.”
(QS. Ad-Dhuha: 11)
Jika seluruh surat Ad-Dhuha direnungkan sebagai satu kesatuan, terlihat sebuah alur yang sangat kuat: Allah menenangkan hati, mengingatkan masa lalu, menjanjikan masa depan, kemudian mengarahkan manusia kepada kepedulian sosial. Dari rasa takut menuju ketenangan. Dari kesendirian menuju keyakinan. Dari mengingat nikmat menuju tindakan sosial. Dari pengalaman pribadi menuju tanggung jawab kepada sesama. Inilah yang membuat Ad-Dhuha tetap relevan dibaca oleh manusia di berbagai zaman. Ketika seseorang merasa tertinggal, ia dapat mengingat bahwa Allah tidak meninggalkannya. Ketika seseorang merasa tidak memiliki apa-apa, ia dapat mengingat nikmat yang pernah diterima. Ketika seseorang telah mendapatkan kelapangan, ia diingatkan untuk tidak menghardik orang yang meminta. Dan ketika seseorang merasa memiliki banyak nikmat, ia diarahkan untuk menjadikan nikmat tersebut sebagai jalan kebaikan.
وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Jumu’ah: 4)
Pada akhirnya, Ad-Dhuha bukan hanya surat untuk dibaca ketika hati sedang gelisah. Ia adalah surat tentang cara manusia memahami kehidupan. Ada pagi dan ada malam; ada terang dan ada gelap; ada masa menerima wahyu dan ada masa menunggu; ada masa kekurangan dan ada masa berkecukupan. Semuanya merupakan bagian dari perjalanan manusia. Para ulama dari berbagai mazhab—termasuk Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam al-Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal—sama-sama menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber utama petunjuk dan menjadikan pembacaan serta penghayatan terhadap ayat sebagai bagian penting dari kehidupan seorang Muslim, meskipun rincian fikih mereka mengenai bacaan Al-Qur’an dalam berbagai ibadah memiliki perbedaan. Karena itu, membaca Ad-Dhuha hendaknya tidak berhenti pada pelafalan. Ia perlu dilanjutkan dengan penghayatan: jangan menyakiti yatim, jangan menghardik orang yang meminta, dan jangan lupa menyebut nikmat Allah dengan cara yang menghadirkan manfaat.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari-Ku.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Mungkin inilah salah satu pesan paling menenteramkan dari Ad-Dhuha: gelap bukan berarti ditinggalkan, sunyi bukan berarti dibenci, dan tertundanya sesuatu bukan berarti Allah berhenti bekerja. Rasulullah SAW pernah mengalami masa ketika wahyu tidak turun, tetapi masa itu tidak menjadi akhir dari risalahnya. Justru setelahnya, perjalanan kenabian terus berkembang hingga membawa cahaya Islam kepada dunia. Maka ketika hidup terasa sepi, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan kita. Barangkali kita sedang diajari kesabaran. Barangkali kita sedang dipersiapkan menerima sesuatu yang lebih besar. Atau mungkin kita sedang diajak melihat kembali nikmat yang selama ini terlalu dekat sehingga lupa disyukuri. Sebab sebagaimana Ad-Dhuha mengajarkan, tugas manusia bukan hanya menunggu datangnya cahaya, tetapi ketika cahaya itu tiba, menggunakannya untuk menerangi kehidupan orang lain. Wallahu a’lam.












