Pasuruan, Di tengah derasnya arus modernisasi yang membuat anak-anak semakin akrab dengan layar gawai, pemandangan berbeda tersaji di halaman SD Al Kautsar Pasuruan pada Jumat, 11 September 2026. Ratusan siswa berlarian riang sambil memutar gasing, melompati tali, dan berkejaran dalam permainan gobak sodor. Sementara itu, para guru tampil anggun dan gagah dengan balutan busana adat Jawa. Suasana penuh keceriaan itu bukanlah agenda perlombaan semata, melainkan bagian dari program rutin bertajuk Jawa Lestari yang digelar setiap Jumat minggu kedua.
Program ini merupakan upaya nyata SD Al Kautsar dalam mengenalkan sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya lokal sejak dini. Seluruh warga sekolah, mulai dari jajaran guru hingga para siswa, kompak mengenakan pakaian adat khas Jawa. Ketentuan busana bagi siswa laki-laki meliputi atasan lurik, celana hitam, blangkon, serta sepatu dan kaos kaki berwarna hitam. Adapun siswa perempuan mengenakan atasan lurik, rok hitam, kerudung polos senada, lengkap dengan sepatu dan kaos kaki hitam. Penampilan mereka pun semakin mempertegas identitas budaya yang ingin ditanamkan sekolah.
Penggunaan busana tradisional ini bukan sekadar ajang tampil beda. Melalui program Jawa Lestari, SD Al Kautsar mengusung empat pilar utama, yakni mengenalkan budaya Jawa, melestarikan tradisi, menumbuhkan rasa bangga berbudaya, serta membentuk karakter siswa yang berbudi pekerti luhur. Keempat pilar tersebut diwujudkan tidak hanya melalui busana, tetapi juga melalui kegiatan bermain yang sarat nilai kearifan lokal.
Ayo, Dolanan Rek! Permainan Tradisional Sesuai Tingkatan Kelas
Suasana sekolah kian semarak dengan kegiatan Ayo, dolanan rek! Berbagai permainan tradisional dikelompokkan secara khusus sesuai tingkatan kelas agar seluruh siswa dapat berpartisipasi aktif sesuai usia dan kemampuan mereka:
Kelas 1: permainan bendan dan lompat tali.
Kelas 2: permainan cublek-cublek suweng dan dakon.
Kelas 3: permainan jamuran dan gasing.
Kelas 4: permainan gasing.
Kelas 5: permainan gobak sodor.
Kelas 6: permainan egrang batok kelapa.
Halaman sekolah pun berubah menjadi arena bermain raksasa. Canda tawa para siswa pecah saat gasing berputar, tali dilompati, dan tim gobak sodor saling berkejaran. Kegiatan ini terbukti efektif mengalihkan perhatian anak-anak dari ketergantungan pada gawai modern. Mereka tampak menikmati permainan yang penuh interaksi sosial, kerja sama tim, dan ketangkasan fisik, sesuatu yang jarang ditemui pada permainan digital.
Kepala SD Al Kautsar, Mustakin, S.Pd.I, S.Pd., menegaskan pentingnya mengenalkan akar budaya bangsa kepada generasi muda di tengah gempuran arus modernisasi. Menurutnya, pendidikan karakter tidak cukup hanya dibangun di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang menyenangkan.
Melalui program Jawa Lestari ini, kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Dengan membiasakan mereka mengenakan pakaian adat dan memainkan permainan tradisional, kita sedang membangun generasi yang bangga akan identitas bangsanya, berkarakter, serta berbudi pekerti luhur, ujar Mustakin.
Ia menambahkan, permainan tradisional yang digelar bukan sekadar hiburan, melainkan media pembelajaran yang mengajarkan nilai kejujuran, sportivitas, kesabaran, dan kebersamaan. Nilai-nilai inilah yang dinilai relevan dengan pembentukan karakter siswa di era digital.
Program Jawa Lestari diharapkan dapat terus berjalan secara konsisten. Dengan melestarikan permainan tradisional dan menjaga tradisi lokal, SD Al Kautsar berkomitmen melahirkan generasi penerus bangsa yang hebat, berbudaya, dan tidak melupakan sejarahnya. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa modernisasi tidak harus mengikis jati diri bangsa. Justru, dengan mengenal dan mencintai budaya sendiri, anak-anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri menghadapi tantangan zaman.
Melalui langkah kecil namun konsisten ini, SD Al Kautsar membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata yang dimulai dari lingkungan sekolah.













