Ada satu hal menarik dari perkembangan smartphone beberapa tahun terakhir, menjadi yang pertama belum tentu berarti menjadi yang paling berpengaruh.
Samsung sudah lebih dulu bermain di dunia ponsel lipat. Galaxy Z Flip bahkan telah melewati beberapa generasi dan menjadi salah satu perangkat yang membuat konsep smartphone clamshell atau flip semakin diterima oleh pasar. Jadi, ketika Apple akhirnya masuk melalui iPhone Duo, Apple sebenarnya bukanlah pionir dalam arti “perusahaan pertama yang membuat HP flip”.
Namun, Apple bisa menjadi pionir dalam hal yang jauh lebih penting: bagaimana teknologi flip tersebut digunakan dan dipahami oleh pengguna.
Kita bisa melihat pola ini dari sejarah Apple sendiri.
Dynamic Island adalah contoh yang sangat menarik. Pada dasarnya, Apple memiliki area kamera depan dan sensor yang membutuhkan ruang di layar. Alih-alih sekadar membiarkannya menjadi “lubang” yang mengganggu, Apple mengubah keterbatasan hardware tersebut menjadi bagian dari pengalaman software.
Dynamic Island kemudian bukan hanya menjadi tempat kamera, tetapi berkembang menjadi elemen interaktif untuk musik, timer, panggilan, navigasi, notifikasi, hingga berbagai aktivitas lainnya.
Menariknya, konsep-konsep semacam itu kemudian mulai muncul dalam berbagai bentuk di ekosistem Android.
Dan sekarang, pola yang sama mulai terlihat pada iPhone Duo.
Belum genap 24 jam sejak iPhone Duo diperkenalkan, sudah muncul pengguna yang mencoba merecreate salah satu fitur transisi animasinya di perangkat Android, bahkan disebut-sebut bisa dibuat melalui Samsung Galaxy Z Flip 8.
Kalau benar demikian, pertanyaannya menjadi menarik:
Kalau fitur yang dianggap sebagai salah satu keunggulan iPhone Duo saja sudah bisa ditiru dalam waktu kurang dari 24 jam, lalu apa sebenarnya yang membuat iPhone Duo spesial?
Menurut saya, jawabannya bukan sekadar animasi.
Karena pada akhirnya, hampir semua fitur software bisa ditiru. Animasi bisa direkayasa. Gesture bisa dibuat ulang. Tampilan antarmuka bisa dibuat mirip. Bahkan konsep multitasking atau integrasi layar luar sekalipun pada akhirnya bisa diadaptasi oleh kompetitor.
Yang jauh lebih sulit untuk ditiru adalah ekosistem pengalaman secara keseluruhan.
Samsung mempunyai keunggulan sebagai pemain lama di kategori foldable. Mereka sudah memahami mekanisme engsel, durability, layar lipat, desain clamshell, serta kebiasaan pengguna selama beberapa generasi.
Apple datang belakangan.
Tetapi justru karena datang belakangan, Apple punya kesempatan untuk melihat semua kesalahan dan keterbatasan yang sudah terjadi di industri foldable.
Apple tidak perlu menjadi perusahaan pertama.
Apple hanya perlu bertanya:
“Kalau teknologi flip sudah matang, apa yang sebenarnya bisa kita lakukan dengannya?”
Di sinilah iPhone Duo berpotensi menjadi pionir.
Bukan pionir dalam menciptakan HP flip, melainkan pionir dalam mengubah HP flip dari sekadar bentuk perangkat menjadi pengalaman komputasi baru.
Kalau Samsung selama ini menunjukkan bahwa smartphone bisa dilipat, Apple berpotensi menunjukkan bahwa cara kita berinteraksi dengan smartphone juga bisa ikut dilipat.
Layar luar tidak lagi sekadar tempat melihat notifikasi. Layar dalam tidak hanya menjadi layar utama yang lebih besar. Transisi antara kedua layar bisa dibuat terasa natural. Aplikasi dapat memahami kapan perangkat dibuka atau ditutup. Animasi dapat menjelaskan perubahan konteks secara visual. Bahkan aktivitas yang sedang berjalan bisa berpindah dari satu layar ke layar lainnya tanpa terasa seperti dua perangkat berbeda.
Dan kalau Apple berhasil mengintegrasikan semuanya dengan iOS, Apple Watch, AirPods, Mac, iCloud, hingga ekosistem aplikasinya, maka keunggulan iPhone Duo bukan lagi satu fitur tertentu.
Ini juga alasan kenapa saya tidak terlalu khawatir ketika melihat fitur iPhone Duo langsung direcreate oleh Android.
Justru sebaliknya.
Kalau sebuah fitur bisa ditiru dalam waktu kurang dari 24 jam, berarti fitur tersebut memang cukup menarik untuk ditiru. Tetapi meniru tampilan tidak selalu berarti meniru pengalaman.
Dynamic Island juga mengajarkan hal yang sama. Bentuknya dapat ditiru. Animasi dapat dibuat mirip. Tetapi filosofi desain, integrasi sistem, dan konsistensi pengalaman membutuhkan jauh lebih banyak daripada sekadar menyalin UI.
Jadi, menurut saya, cerita iPhone Duo bukanlah “Apple akhirnya membuat HP flip setelah Samsung.”
Samsung lebih dulu menciptakan kategori dan menyempurnakan perangkat flip. Apple datang belakangan, lalu mencoba mendefinisikan ulang apa arti sebuah perangkat flip.
Kalau Samsung adalah salah satu pionir hardware foldable, Apple berpotensi menjadi pionir dalam pengalaman foldable.
Dan mungkin inilah paradoks terbesar iPhone Duo:
Apple datang terlambat ke pesta HP flip, tetapi justru bisa menjadi salah satu perusahaan yang menentukan seperti apa pesta itu akan berlangsung ke depannya.













