السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنَا وَرَزَقَنَا، وَهَدَانَا إِلَى الْإِسْلَامِ، وَجَعَلَنَا مِنْ أُمَّةِ خَيْرِ الْأَنَامِ، سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala nikmat yang telah dianugerahkan kepada kita. Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat kesehatan, nikmat keluarga, nikmat rezeki, serta nikmat kesempatan untuk kembali berkumpul di rumah Allah pada hari Jumat yang mulia ini.
Tidak ada satu pun nikmat yang kita miliki melainkan semuanya berasal dari Allah Swt. Kita dapat berdiri karena kekuatan yang Allah berikan. Kita dapat bekerja karena kesehatan dan kesempatan yang Allah anugerahkan. Kita dapat mencari ilmu karena Allah membuka jalan bagi kita. Bahkan, keinginan untuk memperbaiki diri dan melakukan kebaikan pun merupakan kesempatan berharga yang patut kita syukuri.
Pada Jumat, 9 Oktober 2026 ini, kita berkumpul di Masjid Al-Ikhlas, Sambilegi Lor, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta, dalam suasana ibadah dan semangat Jumat Berkah. Semoga pertemuan kita ini bukan sekadar rutinitas mingguan, melainkan menjadi kesempatan untuk memperbaiki hati, memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan komitmen untuk terus melakukan kebaikan.
Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw., kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umatnya yang berusaha mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah: marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, dan berusaha menghadirkan nilai-nilai Islam dalam seluruh aspek kehidupan kita.
Ketakwaan bukan hanya terlihat ketika kita berada di dalam masjid. Ketakwaan juga harus terlihat ketika kita berada di rumah, di tempat kerja, di sekolah, di kampus, di pasar, di tengah masyarakat, dan di mana pun kita menjalani kehidupan.
Seorang muslim yang bertakwa berusaha menjaga lisannya, meluruskan niatnya, menunaikan amanahnya, menghormati sesama, serta menjadikan setiap kesempatan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib mengajak kita semua untuk merenungkan satu perkara penting yang sering kita dengar, tetapi tidak selalu mudah kita praktikkan dalam kehidupan, yaitu ikhlas dalam setiap amal dan niat yang baik di jalan Allah.
Kita sering berbicara tentang keikhlasan. Kita menasihati orang lain agar ikhlas. Kita mengingatkan sesama agar tidak mengharapkan pujian. Kita juga sering mengatakan bahwa segala sesuatu harus dilakukan karena Allah.
Namun, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya apakah kita memahami arti ikhlas, melainkan apakah kita benar-benar sedang berusaha mengamalkannya?
Apakah kita tetap bekerja dengan jujur ketika tidak ada yang mengawasi? Apakah kita tetap membantu orang lain ketika tidak ada yang mengetahui? Apakah kita tetap bersedekah ketika nama kita tidak diumumkan? Apakah kita tetap menjalankan amanah ketika tidak mendapatkan penghargaan? Dan apakah kita masih mampu mempertahankan kebaikan ketika orang yang kita bantu tidak memberikan balasan sebagaimana yang kita harapkan?
Pertanyaan-pertanyaan ini hendaknya kita tujukan terlebih dahulu kepada diri sendiri.
Sebab, memperbaiki hati merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesungguhan. Kita mungkin mudah menilai niat orang lain, tetapi tidak selalu mudah mengenali kekurangan niat dalam diri sendiri.
Oleh karena itu, marilah kita menjadikan khutbah ini sebagai pengingat bersama. Bukan untuk merasa paling ikhlas, bukan untuk menganggap diri paling baik, melainkan untuk belajar memperbaiki niat dan memohon pertolongan Allah agar setiap amal kita menjadi amal yang diridai-Nya.
Pertama: Ikhlas Merupakan Fondasi Utama dalam Beribadah kepada Allah
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat mendasar bahwa kehidupan beragama tidak cukup hanya ditandai dengan aktivitas lahiriah. Seorang muslim juga harus berusaha menjaga kemurnian niat dan ketulusan hati dalam beribadah kepada Allah.
Ikhlas berarti mengarahkan ibadah dan ketaatan kepada Allah, bukan menjadikan pujian, popularitas, kedudukan, atau pengakuan manusia sebagai tujuan utama.
Kita boleh mendapatkan penghargaan dari manusia. Kita boleh menerima ucapan terima kasih. Kita boleh merasa bahagia ketika orang lain menghargai usaha kita. Semua itu merupakan pengalaman manusiawi yang wajar.
Akan tetapi, jangan sampai penghargaan menjadi satu-satunya alasan kita melakukan kebaikan. Jangan sampai kita hanya mau bekerja ketika dipuji, hanya mau membantu ketika disebut namanya, atau hanya mau berpartisipasi ketika mendapatkan kedudukan tertentu.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Mari kita mengambil contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Ada seseorang yang setiap hari datang ke masjid untuk membantu membersihkan lingkungan. Ia menyapu halaman, merapikan sandal jamaah, membersihkan tempat wudu, dan memastikan masjid nyaman digunakan. Pekerjaan tersebut mungkin tidak selalu terlihat oleh banyak orang. Bahkan, tidak semua jamaah mengetahui siapa yang melakukannya.
Namun, pekerjaan yang tampak sederhana itu memiliki manfaat nyata bagi masyarakat. Jika dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar, pekerjaan tersebut dapat menjadi bagian dari amal kebaikan.
Ada pula seseorang yang membantu tetangganya yang sedang mengalami kesulitan. Ia memberikan bantuan sesuai kemampuan, mendengarkan keluh kesahnya, dan membantu mencarikan jalan keluar. Ia tidak menjadikan kesulitan orang lain sebagai bahan pembicaraan atau alat untuk memperoleh penghormatan.
Begitu pula dengan orang tua yang bekerja keras demi keluarganya, guru yang mendidik dengan penuh kesabaran, pedagang yang menjaga kejujuran, serta pemuda yang meluangkan waktunya untuk kegiatan sosial.
Semua itu mengingatkan kita bahwa keikhlasan tidak selalu hadir dalam peristiwa besar. Keikhlasan justru perlu dilatih melalui kebiasaan kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
Jangan pernah meremehkan pekerjaan yang tidak mendapatkan tepuk tangan. Jangan menganggap rendah amal yang tidak diketahui orang lain. Jangan merasa bahwa sesuatu tidak bernilai hanya karena tidak mendapatkan perhatian.
Manusia mungkin hanya melihat hasil yang tampak, tetapi Allah mengetahui usaha, kesungguhan, dan niat hamba-Nya.
Karena itu, marilah kita terus berusaha memperbaiki kualitas amal. Jangan hanya bertanya seberapa besar kebaikan yang sudah kita lakukan, tetapi tanyakan pula apakah kebaikan itu dilakukan dengan niat yang benar, melalui cara yang baik, dan membawa manfaat bagi sesama.
Kedua: Setiap Amal Bergantung pada Niat
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita sebuah prinsip yang sangat mendasar dalam kehidupan beragama. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Umar bin Khattab r.a.
عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya:
Dari Umar bin Khattab r.a., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.’”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hadis ini sangat penting karena mengajarkan kepada kita bahwa niat merupakan bagian mendasar dari amal. Sebelum melakukan sesuatu, seorang muslim perlu memahami tujuan dari perbuatannya.
Seseorang dapat melakukan pekerjaan yang sama dengan orang lain, tetapi memiliki tujuan yang berbeda. Ada yang bekerja untuk memperoleh rezeki yang halal dan menunaikan tanggung jawab keluarga. Ada pula yang bekerja dengan cara yang tidak jujur demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Ada orang yang membantu kegiatan masjid karena ingin berkontribusi dalam kebaikan. Ada pula yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada kemanfaatan jamaah.
Dari luar, aktivitas seseorang mungkin tampak serupa. Namun, niat dan cara yang ditempuh perlu terus diperiksa.
Oleh karena itu, mari kita membiasakan diri meluruskan niat sebelum memulai pekerjaan.
Ketika bangun pada pagi hari, niatkan untuk menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab. Ketika berangkat bekerja, niatkan mencari rezeki yang halal. Ketika belajar, niatkan memperoleh ilmu yang bermanfaat. Ketika mengurus keluarga, niatkan memenuhi amanah dan memberikan pendidikan yang baik. Ketika mengikuti kegiatan sosial, niatkan membantu masyarakat sesuai kemampuan.
Dengan niat yang baik, aktivitas sehari-hari dapat menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, selama aktivitas tersebut dibenarkan oleh agama dan dilaksanakan melalui cara yang benar.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita perlu memahami bahwa niat baik bukanlah alasan untuk mengabaikan aturan. Tidak cukup seseorang berkata bahwa ia ingin menolong jika caranya justru merugikan orang lain. Tidak cukup seseorang mengatakan bahwa ia ingin berdakwah jika ia menyampaikan pesan dengan fitnah dan penghinaan. Tidak cukup seseorang mengaku memperjuangkan kebaikan jika ia mengambil hak orang lain.
Tujuan yang baik harus disertai cara yang baik.
Jika ingin membantu, bantulah dengan cara yang tidak merendahkan. Jika ingin menasihati, sampaikanlah dengan bijaksana. Jika ingin memperjuangkan kebenaran, peganglah kejujuran. Jika ingin membangun masyarakat, lakukanlah melalui kerja sama dan tanggung jawab.
Niat yang lurus harus terus dijaga bersama perilaku yang benar.
Mari kita tanyakan kepada diri masing-masing: apakah ilmu yang kita miliki sudah bermanfaat? Apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah dijalankan dengan jujur? Apakah kedudukan yang kita miliki sudah digunakan untuk membantu? Apakah harta yang Allah titipkan sudah memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat?
Pertanyaan seperti ini penting agar kita tidak terjebak dalam kesibukan yang hanya terlihat baik dari luar, tetapi melupakan tujuan utama kehidupan sebagai seorang hamba Allah.
Ketiga: Ikhlas Bukan Sekadar Ucapan, Melainkan Perjuangan Sepanjang Kehidupan
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ikhlas sering kali mudah diucapkan, tetapi membutuhkan perjuangan untuk diwujudkan.
Seseorang mungkin berkata bahwa ia melakukan sesuatu karena Allah. Namun, ketika tidak mendapatkan penghargaan, ia merasa kecewa. Seseorang mungkin mengatakan bahwa ia membantu dengan tulus. Namun, ketika bantuan itu tidak dibalas, ia terus-menerus mengungkitnya.
Hal tersebut menjadi pengingat bahwa kita semua perlu belajar mengelola hati.
Jangan terburu-buru menganggap diri sudah ikhlas. Jangan pula mudah menuduh orang lain tidak ikhlas hanya karena kita tidak mengetahui seluruh keadaan hatinya.
Tugas kita adalah memperbaiki niat sendiri dan menilai tindakan berdasarkan hal-hal yang dapat kita ketahui. Adapun isi hati seseorang, penilaian akhirnya berada dalam pengetahuan Allah.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Mulk ayat 2:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya:
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk [67]: 2).
Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan merupakan kesempatan untuk menguji dan memperbaiki amal. Yang menjadi perhatian bukan sekadar banyaknya perbuatan, tetapi juga kualitasnya.
Karena itu, jangan hanya sibuk menghitung berapa kali kita memberikan bantuan, berapa banyak kegiatan yang kita ikuti, atau berapa besar sumbangan yang kita keluarkan. Perhatikan pula apakah kita melaksanakan semuanya dengan tanggung jawab, apakah kita menjaga hak orang lain, dan apakah kebaikan itu membawa manfaat.
Ikhlas bukan berarti seseorang tidak boleh merasa lelah. Orang yang berbuat baik juga dapat merasa lelah. Ikhlas bukan berarti seseorang tidak boleh sedih. Orang yang tulus juga dapat merasakan kesedihan. Ikhlas bukan berarti seseorang tidak membutuhkan dukungan. Setiap manusia tetap membutuhkan dukungan dan hubungan yang baik dengan sesama.
Keikhlasan berarti kita terus berusaha menjaga tujuan yang benar, sekalipun dalam perjalanan kita menghadapi kesulitan.
Apabila kita merasa lelah dalam melakukan kebaikan, beristirahatlah jika diperlukan. Apabila kita merasa kecewa, tenangkan hati dan carilah jalan keluar yang bijaksana. Apabila kita melakukan kesalahan, akuilah dan perbaikilah. Jangan menjadikan kesulitan sebagai alasan untuk meninggalkan seluruh kebaikan.
Teruslah belajar. Teruslah memperbaiki diri. Teruslah memohon agar Allah memberikan hati yang tulus.
Keempat: Tetap Berbuat Baik Meskipun Tidak Selalu Mendapatkan Balasan
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita tidak selalu mendapatkan perlakuan sebagaimana yang kita harapkan.
Ada kalanya kita membantu seseorang, tetapi bantuan itu dilupakan. Ada kalanya kita berusaha menjaga hubungan baik, tetapi justru terjadi kesalahpahaman. Ada kalanya kita memberikan waktu dan tenaga untuk suatu kegiatan, tetapi orang lain tidak mengetahui besarnya usaha yang telah kita lakukan.
Situasi seperti ini dapat membuat seseorang kehilangan semangat.
Namun, marilah kita belajar membedakan antara melakukan kebaikan untuk memperoleh rida Allah dan melakukan kebaikan dengan harapan agar setiap orang selalu membalasnya.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 8–9:
وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Artinya:
“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. (Mereka berkata,) ‘Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.’” (QS. Al-Insan [76]: 8–9).
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Ayat ini menggambarkan ketulusan dalam memberikan pertolongan. Seseorang memberikan makanan kepada yang membutuhkan bukan untuk mempermalukan penerimanya, melainkan karena mengharapkan rida Allah.
Pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan kita saat ini.
Ketika bersedekah, jangan menjadikan penerima sebagai bahan untuk mencari popularitas. Ketika memberikan bantuan, jangan menyebarkan cerita yang merendahkan martabat orang yang dibantu. Ketika memberikan sumbangan kepada masjid, jangan sampai sumbangan itu dijadikan alat untuk menguasai keputusan yang seharusnya dibicarakan bersama.
Kebaikan hendaknya melahirkan rasa syukur, persaudaraan, dan penghormatan terhadap sesama.
Namun, ada hal yang juga perlu kita pahami. Ikhlas bukan berarti kita harus membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Ikhlas tidak mengharuskan seseorang menerima ketidakadilan tanpa usaha memperbaiki keadaan. Kita tetap boleh menolak permintaan yang tidak benar, menjaga batasan, meminta hak yang semestinya, dan menegur tindakan yang merugikan dengan cara yang baik.
Jika seseorang tidak membalas kebaikan kita, kita tidak harus memusuhinya. Namun, kita juga tidak harus terus memberikan bantuan dengan cara yang memungkinkan orang lain memanfaatkan kita secara tidak sehat.
Bersikap ikhlas harus berjalan bersama kebijaksanaan.
Jangan sampai satu pengalaman buruk membuat kita membenci semua orang. Jangan sampai satu kekecewaan membuat kita berhenti peduli kepada masyarakat. Jangan sampai kita menutup pintu kebaikan hanya karena pernah mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan.
Belajarlah dari pengalaman, tetapi jangan kehilangan akhlak. Perbaiki cara kita bertindak, tetapi jangan biarkan kebencian menguasai hati.
Kelima: Jangan Meremehkan Amal Kecil yang Dilakukan dengan Kesungguhan
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Ada yang mempunyai harta melimpah, ada yang memiliki kemampuan terbatas. Ada yang mempunyai banyak waktu, ada yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ada yang mampu membantu dalam jumlah besar, ada pula yang hanya dapat memberikan bantuan sederhana.
Islam mengajarkan bahwa setiap orang dapat berusaha melakukan kebaikan sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Az-Zalzalah ayat 7–8:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
Artinya:
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8).
Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak sepatutnya diremehkan. Kita tidak selalu mengetahui seberapa besar manfaat suatu tindakan bagi orang lain.
Sebuah senyuman yang tulus dapat membuat seseorang merasa dihargai. Sebuah ucapan yang santun dapat mencegah pertengkaran. Sebuah bantuan kecil dapat meringankan beban keluarga yang sedang mengalami kesulitan. Sebuah nasihat yang disampaikan dengan baik dapat menjadi dorongan bagi seseorang untuk memperbaiki diri.
Begitu pula dengan menjaga kebersihan lingkungan, membantu orang tua, mengantarkan tetangga yang membutuhkan pertolongan, menyisihkan sebagian rezeki, atau meluangkan waktu untuk mengajar anak-anak.
Kebaikan-kebaikan tersebut mungkin tidak selalu menjadi pembicaraan banyak orang. Namun, apabila dilakukan dengan benar dan membawa manfaat, semuanya patut dihargai.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Jangan menunggu menjadi kaya untuk berbagi. Jangan menunggu menjadi pemimpin untuk melayani. Jangan menunggu terkenal untuk memberikan manfaat. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk memperhatikan keluarga.
Mulailah dari kemampuan yang ada.
Jika kita mempunyai ilmu, bagikanlah ilmu dengan cara yang baik. Jika kita mempunyai harta, gunakanlah sebagian rezeki untuk kebutuhan yang bermanfaat. Jika kita memiliki tenaga, bantulah pekerjaan yang diperlukan. Jika kita mempunyai kesempatan untuk mendengarkan seseorang yang sedang mengalami kesulitan, berikanlah perhatian dengan tulus.
Akan tetapi, jangan pula meremehkan tanggung jawab utama atas nama berbuat baik. Menolong orang lain harus dilakukan dengan tetap memperhatikan amanah terhadap keluarga, pekerjaan, kesehatan, dan kewajiban yang lain.
Kebaikan yang bijaksana adalah kebaikan yang berusaha memberikan manfaat tanpa mengabaikan tanggung jawab.
Keenam: Jumat Berkah Harus Menjadi Jalan Memperkuat Kepedulian Sosial
Jamaah Jumat yang berbahagia,
Pada hari ini, kita berada di Masjid Al-Ikhlas, Sambilegi Lor, Maguwoharjo, Depok, Sleman, Yogyakarta. Kita berkumpul dalam suasana Jumat Berkah, sebuah momentum yang dapat kita gunakan untuk memperkuat kepedulian terhadap sesama.
Nama Masjid Al-Ikhlas mengingatkan kita pada pentingnya ketulusan. Semoga nilai keikhlasan tidak hanya kita dengar dalam khutbah, tetapi juga kita hadirkan dalam kehidupan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.
Masjid bukan sekadar bangunan untuk melaksanakan salat. Masjid juga dapat menjadi pusat pendidikan, penguatan akhlak, pengembangan kepedulian sosial, dan tempat masyarakat mempererat persaudaraan.
Di masjid, kita belajar bahwa setiap orang memiliki kedudukan sebagai hamba Allah. Tidak sepatutnya seseorang merasa lebih mulia hanya karena memiliki kekayaan, jabatan, pendidikan, atau pengaruh sosial yang lebih besar.
Orang yang memiliki kemampuan lebih hendaknya bersedia membantu. Orang yang memiliki pengetahuan hendaknya bersedia berbagi ilmu. Orang yang mempunyai kesempatan hendaknya bersedia berkontribusi. Sementara itu, orang yang menerima bantuan hendaknya dihormati martabatnya dan tidak dipermalukan.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Ayat ini menjadi landasan penting bagi kita untuk membangun budaya saling menolong dalam kebajikan.
Mari kita jaga kebersihan masjid dan lingkungan sekitar. Mari kita perhatikan tetangga yang membutuhkan bantuan. Mari kita dukung pendidikan anak-anak dan generasi muda. Mari kita hormati orang tua dan menjaga hubungan baik antarkeluarga.
Apabila terjadi perbedaan pendapat, selesaikanlah melalui musyawarah. Apabila terjadi kesalahpahaman, utamakanlah klarifikasi. Apabila ada perselisihan, jangan memperkeruhnya dengan menyebarkan kabar yang belum jelas. Apabila seseorang melakukan kesalahan, berikan nasihat dengan cara yang baik.
Jangan sampai kita rajin mengikuti kegiatan keagamaan, tetapi hubungan dengan tetangga justru memburuk karena ucapan dan perilaku kita. Jangan sampai kita berbicara tentang persaudaraan, tetapi mudah merendahkan orang yang berbeda pendapat.
Keberagamaan hendaknya terlihat dalam akhlak, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama.
Jumat Berkah bukan hanya tentang apa yang kita bagikan hari ini, melainkan tentang bagaimana semangat berbagi itu terus hidup setelah kita meninggalkan masjid.
Ketujuh: Keikhlasan Harus Terlihat dalam Keluarga, Pekerjaan, dan Kehidupan Bermasyarakat
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kita sering berbicara tentang amal saleh dalam bentuk sedekah, salat, pengajian, dan kegiatan sosial. Semua itu penting. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa keikhlasan juga perlu hadir dalam tanggung jawab sehari-hari.
Bagi seorang ayah atau ibu, keikhlasan dapat diwujudkan melalui kesungguhan merawat, mendidik, dan membimbing keluarga. Tanggung jawab tersebut tidak selalu mudah. Ada rasa lelah, ada kebutuhan yang harus dipenuhi, dan ada persoalan yang harus diselesaikan. Namun, semuanya perlu dijalani dengan kasih sayang, kesabaran, dan tanggung jawab.
Bagi seorang anak, keikhlasan dapat dilatih dengan menghormati orang tua, membantu pekerjaan rumah, belajar dengan sungguh-sungguh, serta menjaga perkataan dan perilaku.
Bagi seorang guru, keikhlasan dapat diwujudkan melalui usaha mendidik peserta didik secara adil, sabar, dan bertanggung jawab. Bagi mahasiswa dan pelajar, keikhlasan dapat diwujudkan dengan belajar secara sungguh-sungguh, menjaga kejujuran akademik, dan menggunakan ilmu untuk kemanfaatan.
Bagi seorang pedagang, keikhlasan dapat diwujudkan dengan menjaga kejujuran, tidak menipu, tidak mengurangi hak pembeli, dan mencari rezeki dengan cara yang halal.
Bagi pemimpin dan pengurus masyarakat, keikhlasan harus disertai amanah, transparansi, keadilan, dan kesediaan mendengarkan kebutuhan orang lain.
Bagi siapa pun yang memperoleh kedudukan, ingatlah bahwa kedudukan adalah amanah, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi. Semakin besar tanggung jawab yang dimiliki, semakin besar pula kewajiban untuk menggunakannya bagi kebaikan.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita membangun kebiasaan memeriksa niat setiap kali menjalankan tanggung jawab. Jangan hanya menilai pekerjaan berdasarkan seberapa banyak orang yang memuji. Nilailah juga berdasarkan kejujuran, manfaat, tanggung jawab, dan kesesuaian dengan nilai-nilai agama.
Jika kita melakukan kesalahan, jangan mencari-cari alasan untuk membenarkannya. Akuilah kesalahan dan perbaikilah. Jika kita mendapatkan amanah, jalankanlah sebaik mungkin. Jika kita memiliki kelebihan, gunakanlah untuk membantu. Jika kita mempunyai kekurangan, jangan malu untuk belajar.
Inilah bagian dari perjalanan memperbaiki diri.
Kedelapan: Menjaga Hati dari Riya, Kesombongan, dan Kebiasaan Mengungkit Kebaikan
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu hal yang perlu kita waspadai ketika melakukan kebaikan adalah munculnya keinginan untuk selalu dilihat dan dipuji manusia.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ma’un ayat 4–6:
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
Artinya:
“Maka celakalah orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya, yang berbuat ria.” (QS. Al-Ma’un [107]: 4–6).
Ayat ini merupakan peringatan keras terhadap sikap lalai dalam ibadah dan perilaku riya. Karena itu, kita harus berhati-hati agar ibadah dan amal kebaikan tidak berubah menjadi sarana untuk mencari pengakuan manusia.
Riya bukan sekadar persoalan menampilkan suatu perbuatan. Amal yang dilakukan secara terbuka tidak otomatis merupakan riya. Seseorang boleh memberikan contoh kebaikan, mengajak masyarakat bersedekah, atau melaporkan penggunaan dana kegiatan secara terbuka untuk kepentingan amanah dan pertanggungjawaban.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika keinginan mendapatkan pujian menjadi tujuan utama, atau ketika seseorang melakukan kebaikan demi membangun citra diri sambil mengabaikan ketulusan dan tanggung jawab.
Kita juga perlu menghindari kebiasaan mengungkit pemberian untuk melukai hati penerimanya.
Ketika kita memberikan bantuan kepada seseorang, jangan menjadikan bantuan itu sebagai alat untuk merendahkannya. Ketika kita menyumbang untuk kegiatan masjid, jangan menganggap bahwa kita berhak mengabaikan musyawarah. Ketika kita membantu keluarga, jangan terus-menerus menggunakan bantuan itu untuk membuat mereka merasa berutang secara emosional.
Kebaikan seharusnya membangun hubungan yang lebih baik.
Jika kita merasa muncul keinginan untuk dipuji, jangan langsung berputus asa. Sadari perasaan tersebut, perbaiki niat, dan lanjutkan amal yang memang baik dengan cara yang benar. Kita tidak harus menunggu hati merasa sempurna untuk melakukan kebaikan, sebab memperbaiki hati merupakan bagian dari perjalanan beramal.
Mohonlah pertolongan Allah agar kita tidak terjebak dalam kesombongan. Ingatlah bahwa kemampuan kita, harta kita, ilmu kita, dan kesempatan kita berasal dari Allah dan mengandung tanggung jawab yang harus ditunaikan.
Kesembilan: Tetap Rendah Hati dan Tidak Merasa Paling Ikhlas
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ada satu hal yang sangat penting untuk kita ingat. Ketika berbicara tentang keikhlasan, jangan sampai kita justru merasa paling ikhlas dibandingkan orang lain.
Jangan menganggap bahwa orang yang tidak menceritakan amalnya pasti lebih baik daripada orang yang menceritakan amalnya. Jangan menuduh orang yang menerima penghargaan sebagai orang yang tidak tulus. Jangan pula merasa bahwa amal kita pasti lebih tinggi hanya karena kita tidak mengumumkannya.
Kita tidak mengetahui seluruh isi hati manusia. Kita hanya dapat menilai tindakan berdasarkan bukti yang tampak, sedangkan penilaian akhir tentang niat seseorang berada dalam pengetahuan Allah.
Tugas kita bukan berlomba mengaku paling ikhlas, melainkan berusaha memperbaiki niat dan meningkatkan kualitas amal.
Seseorang yang kaya dapat berbuat baik dengan hartanya. Seseorang yang sederhana dapat berbuat baik melalui tenaga dan waktunya. Seseorang yang berilmu dapat memberikan manfaat melalui pengajarannya. Seseorang yang sedang mengalami keterbatasan tetap dapat berusaha menjaga kejujuran, kesabaran, dan akhlaknya.
Jangan membandingkan seluruh perjalanan hidup kita dengan perjalanan hidup orang lain. Kita mempunyai keadaan, kesempatan, kemampuan, dan tanggung jawab yang berbeda.
Yang perlu kita tanyakan adalah apakah hari ini kita berusaha menjadi lebih baik daripada sebelumnya.
Apakah hari ini kita lebih berhati-hati dalam berbicara? Apakah kita lebih jujur dalam bekerja? Apakah kita lebih menghormati orang tua? Apakah kita lebih peduli kepada tetangga? Apakah kita lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanah?
Perbaikan seperti inilah yang perlu kita perjuangkan.
Semoga Allah melindungi kita dari kesombongan, membimbing kita dalam memperbaiki diri, dan menjadikan kita orang-orang yang bersedia menerima nasihat.
Kesepuluh: Menjadikan Keikhlasan sebagai Bekal Menuju Akhirat
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya. Harta yang kita kumpulkan, jabatan yang kita miliki, popularitas yang kita peroleh, dan penghargaan yang kita terima tidak akan selalu menyertai kita.
Karena itu, marilah kita menggunakan kesempatan hidup untuk memperbanyak amal yang bermanfaat dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Kahfi ayat 110:
فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Artinya:
“Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi [18]: 110).
Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya amal saleh dan menjaga kemurnian ibadah kepada Allah.
Mari kita gunakan sisa umur dengan sebaik-baiknya. Jika selama ini kita kurang memperhatikan keluarga, perbaikilah. Jika kita pernah menyakiti tetangga, mintalah maaf dan perbaiki hubungan. Jika kita mempunyai amanah yang belum ditunaikan, berusahalah menyelesaikannya. Jika kita mempunyai kemampuan untuk membantu, gunakanlah dengan bijaksana.
Jangan menunggu sampai kesempatan berlalu untuk menyadari pentingnya berbuat baik.
Jangan menunggu sampai hubungan memburuk untuk belajar menghargai. Jangan menunggu sampai kehilangan kesempatan untuk mulai berbagi. Jangan menunggu sampai usia bertambah jauh untuk memperbaiki kebiasaan yang buruk.
Mulailah dari hari ini, dari hal-hal yang mampu kita lakukan, dan dari tanggung jawab yang sudah ada di hadapan kita.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita menjadikan keikhlasan sebagai bekal perjalanan menuju akhirat. Bukan karena kita merasa telah menjadi orang yang sempurna, melainkan karena kita menyadari bahwa kita selalu membutuhkan ampunan dan pertolongan Allah.
Kita mungkin belum mampu melakukan kebaikan sebanyak yang kita inginkan. Kita mungkin masih sering merasa kecewa, marah, atau ingin dihargai. Namun, selama Allah masih memberikan kesempatan, kita dapat terus belajar memperbaiki niat dan perilaku.
Jangan menyerah dalam memperbaiki diri. Jangan meremehkan kebaikan kecil. Jangan merasa lebih mulia daripada orang lain. Dan jangan menjadikan kekurangan masa lalu sebagai alasan untuk berhenti melangkah menuju kebaikan.
Semoga Allah menerima amal-amal kita, mengampuni kekurangan kita, dan memberikan kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan iman, kejujuran, kesabaran, serta keikhlasan.
Penutup Khutbah Pertama
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah pertama, marilah kita mengingat kembali bahwa keikhlasan bukan hanya tentang apa yang kita berikan, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga hati ketika memberi.
Ikhlas bukan hanya tentang seberapa besar pengorbanan kita, tetapi juga tentang bagaimana kita menjalankan amanah dengan benar.
Ikhlas bukan hanya tentang seberapa sering kita berbicara tentang kebaikan, tetapi juga tentang kesediaan kita mempraktikkannya dalam kehidupan.
Mari kita perbaiki niat sebelum melangkah, menjaga niat ketika beramal, dan mengevaluasi diri setelah melakukan kebaikan.
Semoga kegiatan Jumat Berkah di Masjid Al-Ikhlas menjadi jalan bagi kita untuk memperkuat iman, membangun persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian kepada masyarakat.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ.
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ.
KHUTBAH KEDUA
Pembukaan Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ.
يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Marilah kita berusaha menjaga iman, meluruskan niat, memperbaiki akhlak, dan menunaikan amanah yang menjadi tanggung jawab kita.
Setelah kita mendengarkan nasihat tentang keikhlasan, marilah kita membawa pulang beberapa tekad penting.
Pertama, kita akan berusaha memperbaiki niat sebelum melakukan pekerjaan. Apa pun aktivitas kita, selama dibenarkan oleh agama dan dilaksanakan dengan cara yang benar, hendaknya kita jalankan dengan tanggung jawab dan tujuan yang baik.
Kedua, kita akan belajar berbuat baik tanpa menjadikan pujian sebagai syarat. Kita tetap boleh menerima penghargaan, tetapi tidak menggantungkan seluruh semangat kebaikan pada penghargaan manusia.
Ketiga, kita akan berusaha menjaga lisan dan perilaku. Jangan sampai bantuan kita melukai hati orang lain. Jangan sampai sedekah kita berubah menjadi kesombongan. Jangan sampai nasihat kita justru menjadi penghinaan.
Keempat, kita akan menjaga persaudaraan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Jika terdapat perbedaan, mari kita selesaikan dengan musyawarah. Jika ada kesalahpahaman, mari kita klarifikasi. Jika ada kesempatan untuk membantu, mari kita lakukan sesuai kemampuan.
Kelima, kita akan berusaha menjadikan masjid sebagai pusat kebaikan, pendidikan, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Semoga Masjid Al-Ikhlas senantiasa menjadi tempat yang menghadirkan manfaat bagi jamaah dan masyarakat di Sambilegi Lor serta lingkungan sekitarnya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Marilah kita menyadari bahwa perjalanan memperbaiki hati tidak selalu mudah. Ada kalanya kita masih ingin dipuji, masih merasa kecewa, atau masih mengharapkan balasan dari manusia. Namun, jangan berhenti berusaha.
Setiap kali kita menyadari kekurangan, perbaikilah. Setiap kali kita melakukan kesalahan, bertobatlah. Setiap kali kita mendapatkan kesempatan berbuat baik, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tulus dalam beribadah, jujur dalam bekerja, sabar dalam menghadapi ujian, dan bermanfaat bagi sesama.
Doa Penutup Khutbah
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.
Artinya: Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, kaum mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا صَادِقًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَعَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا.
Artinya: Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang benar, hati yang khusyuk, lisan yang senantiasa mengingat-Mu, dan amal saleh yang Engkau terima.
اللَّهُمَّ أَخْلِصْ نِيَّاتِنَا، وَأَصْلِحْ أَعْمَالَنَا، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ وَالْكِبْرِ وَالْعُجْبِ.
Artinya: Ya Allah, tuluskanlah niat kami, perbaikilah amal-amal kami, dan bersihkanlah hati kami dari riya, keinginan mencari popularitas, kesombongan, serta membanggakan diri.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَاجْعَلْهَا لِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.
Artinya: Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami sebagai amal yang saleh, jadikanlah amal itu tulus karena mengharapkan rida-Mu, dan janganlah kami menjadikan selain-Mu sebagai tujuan utama ibadah kami.
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلْإِخْلَاصِ فِي أَقْوَالِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَارْزُقْنَا صِدْقَ النِّيَّةِ وَحُسْنَ الْعَمَلِ وَدَوَامَ الطَّاعَةِ.
Artinya: Ya Allah, berikanlah kami kemampuan untuk ikhlas dalam perkataan dan perbuatan. Anugerahkanlah kepada kami niat yang tulus, amal yang baik, dan keteguhan dalam ketaatan.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
Artinya: Ya Allah, berkahilah umur kami, rezeki kami, keluarga kami, dan anak-anak kami. Jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.
اللَّهُمَّ احْفَظْ مَسْجِدَنَا، مَسْجِدَ الْإِخْلَاصِ، وَبَارِكْ فِي جَمَاعَتِنَا وَأَهْلِنَا وَجِيرَانِنَا، وَاجْعَلْهُ مَكَانًا لِلْعِلْمِ وَالْعِبَادَةِ وَالتَّكَافُلِ وَالْمَحَبَّةِ.
Artinya: Ya Allah, jagalah masjid kami, Masjid Al-Ikhlas. Berkahilah jamaah, keluarga, dan tetangga kami. Jadikanlah masjid ini tempat berkembangnya ilmu, ibadah, kepedulian sosial, dan kasih sayang.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا، وَاهْدِ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا، وَوَفِّقْ طُلَّابَنَا وَمُعَلِّمِينَا، وَبَارِكْ فِي جُهُودِ مَنْ يَعْمَلُ لِلْخَيْرِ وَصَلَاحِ الْمُجْتَمَعِ.
Artinya: Ya Allah, perbaikilah keadaan generasi muda kami, berilah petunjuk kepada anak-anak kami, berilah keberhasilan kepada para pelajar dan pendidik kami, serta berkahilah usaha orang-orang yang bekerja untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat.
اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَنَفِّسْ كُرُوبَنَا، وَاقْضِ دُيُونَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا كُلَّهَا.
Artinya: Ya Allah, hilangkanlah kesedihan kami, lapangkanlah kesulitan kami, bantulah kami melunasi utang, sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami, rahmatilah mereka yang telah meninggal, dan mudahkanlah seluruh urusan kami.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْنَا إِخْوَانًا مُتَحَابِّينَ فِيكَ، مُتَعَاوِنِينَ عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى.
Artinya: Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan di antara kami, tunjukilah kami jalan keselamatan, dan jadikanlah kami saudara-saudara yang saling menyayangi karena-Mu serta saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
Artinya: Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya: Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta lindungilah kami dari azab neraka.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Demikian khutbah Jumat yang dapat disampaikan. Semoga nasihat tentang keikhlasan ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus memperbaiki niat, menjaga amal, mempererat persaudaraan, dan menebarkan manfaat bagi sesama.
Semoga Allah menerima ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, memberkahi keluarga dan rezeki kita, serta memberikan kekuatan agar kita tetap istiqamah dalam menjalani kehidupan di jalan-Nya.
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.












