Masjid Al-Ukhuwah kembali menggelar kajian rutin Ahad pagi pada minggu pertama bulan Mei 2026, Minggu (03/05). Kegiatan yang diselenggarakan setiap pekan setelah salat subuh ini menghadirkan Ustaz Baidowi sebagai pemateri utama.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Baidowi melanjutkan pembahasan tafsir Surah Al-Baqarah, khususnya terkait kisah penciptaan Nabi Adam dan pelajaran penting dari sikap malaikat serta kesombongan iblis.
Ia menjelaskan bahwa pada saat Allah memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda, para malaikat tidak mampu menjawab. Mereka pun mengakui keterbatasan ilmu dengan berkata, “Subhanaka la ‘ilmana illa ma ‘allamtana”—Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.
Dari ayat ini, Ustaz Baidowi menekankan bahwa seluruh ilmu yang dimiliki manusia sejatinya bersumber dari Allah. Oleh karena itu, manusia tidak boleh sombong atas pengetahuan yang dimiliki, sekaligus harus berhati-hati dalam penggunaannya. Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak bergantung pada praktik-praktik seperti meminta bantuan kepada jin atau dukun, karena hal tersebut bertentangan dengan prinsip tauhid dan menunjukkan lemahnya ketergantungan kepada Allah.
Memasuki pembahasan berikutnya, Ustaz Baidowi mengulas perintah Allah kepada malaikat untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan. Seluruh malaikat menaati perintah tersebut, kecuali iblis yang menolak karena kesombongannya. Iblis merasa dirinya lebih baik, sehingga enggan tunduk kepada perintah Allah.
“Kesombongan sekecil apa pun, meskipun hanya sebesar zarah, dapat menjerumuskan seseorang ke dalam golongan iblis yang dilaknat Allah,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa sujud malaikat kepada Adam bukanlah bentuk penyembahan, melainkan penghormatan atas kemuliaan manusia sebagai ciptaan terbaik (fi ahsani taqwim), sementara ketaatan tetap hanya kepada Allah.
Usai kajian, suasana kehangatan terasa di halaman depan Masjid Al-Ukhuwah. Para jamaah melanjutkan kebersamaan dengan ngopi santai sambil berbincang. Pada kesempatan tersebut, kegiatan juga dirangkaikan dengan program sarapan bersama yang diinisiasi oleh jamaah ibu-ibu.
Beragam hidangan seperti pecel hingga roti disajikan untuk para jamaah. Program ini sepenuhnya berasal dari swadaya jamaah ibu-ibu tanpa menggunakan dana kas masjid. Biasanya, sarapan bersama digelar sebulan sekali pada minggu pertama, atau lebih sering jika ada jamaah yang memiliki hajat sebagai bentuk syukuran.
Puluhan porsi makanan dibagikan kepada jamaah yang hadir, menambah kehangatan kebersamaan usai menimba ilmu. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat interaksi sosial dan penguat ukhuwah di tengah masyarakat.
Reporter:












