Tanggal: 1 Mei 2026
Lokasi: Masjid At-Taqwa Jagalan, Kota Pasuruan
Khatib: Ustadz M. Galih Dwi A. (SPEAM)
Khutbah Pertama
Pembukaan
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kita petunjuk ini, dan tidaklah kita mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak memberi petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, tiada Nabi setelahnya.”
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du, wahai hamba-hamba Allah, aku wasiatkan kepada kalian dan diriku sendiri untuk bertakwa kepada Allah, karena sungguh beruntung orang-orang yang bertakwa.”
Isi Khutbah
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT, karena sebaik-baik bekal adalah takwa. Pada kesempatan ini, khatib ingin mengingatkan pentingnya menjaga lisan dan memvalidasi setiap informasi yang kita terima.
Ada sebuah riwayat di mana Umar bin Khattab pernah bertemu dengan seseorang yang membawa berita yang sangat menggembirakan. Namun, Umar segera mengajak orang tersebut menemui Rasulullah ﷺ untuk memastikan kebenarannya. Ketika Rasulullah ﷺ membenarkan berita tersebut, Umar menyarankan agar informasi tersebut tidak disebarkan secara luas kepada sembarang orang. Mengapa? Karena dikhawatirkan masyarakat akan menjadi terlalu berharap (bergantung pada satu kemudahan) dan akhirnya meninggalkan amal utama lainnya.
Hal ini mengajarkan kita sebuah nilai penting: Kebenaran sebuah informasi harus divalidasi, dan penyampaiannya pun harus mempertimbangkan dampak sosialnya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 70:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
Dalam ilmu komunikasi Islam, dikenal pula kaidah:
لِكُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ، وَلِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ
Artinya: “Setiap tempat ada ucapannya yang tepat, dan setiap ucapan ada tempatnya yang tepat.”
Saat ini, kita hidup di era media sosial di mana informasi beredar sangat cepat. Banyak berita yang belum tentu benar (hoaks) langsung memicu opini negatif dan kegaduhan. Oleh karena itu, Allah SWT mengingatkan kita dalam Surah Al-Hujurat ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Pelajaran bagi Kita:
- Tabayyun (Validasi): Jangan mudah menelan informasi mentah-mentah, terutama yang bersumber dari media sosial atau pihak yang tidak jelas otoritasnya.
- Otoritas Keahlian: Serahkan setiap masalah kepada bidangnya. Jika masalah hukum, tanyakan pada ahli hukum. Jangan membesarkan masalah yang sebenarnya biasa saja hanya karena kita berkomentar tanpa ilmu.
- Bijak Berkomunikasi: Jika informasi yang kita miliki tidak membawa manfaat atau justru menimbulkan fitnah, lebih baik diam.
Khutbah Kedua
Penutup dan Doa
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau berselawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Di seluruh alam semesta, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Artinya: “Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, muslim laki-laki dan perempuan, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat.”
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Artinya: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.












