• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Habis Gelap Terbitlah Terang adalah Kutipan Ayat Al-Qur’an

Marjoko oleh Marjoko
52 detik yang lalu
in Opini
0
Literasi sejati bukan sekadar membaca, melainkan memahami makna lalu berani mengubah kegelapan menjadi cahaya.

Literasi sejati bukan sekadar membaca, melainkan memahami makna lalu berani mengubah kegelapan menjadi cahaya.

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Setiap tahun, peringatan Hari Kartini hadir dengan wajah yang serupa, kebaya, upacara, dan berbagai atribut budaya. Namun jika kita mau menyelami lebih jauh, semangat Raden Ajeng Kartini sesungguhnya tidak pernah berhenti di lapisan simbol. Akarnya justru terletak pada sesuatu yang lebih fundamental, literasi dalam pengertian yang paling menyeluruh, bukan sekadar mampu membaca huruf, melainkan mampu memahami makna dan mewujudkannya dalam tindakan.

Di sinilah kita perlu mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan literasi. Selama ini pemahaman kita tentang literasi terlalu sempit, seolah cukup berhenti pada kemampuan membaca teks. Padahal hakikat literasi jauh melampaui itu, kemampuan menangkap makna secara mendalam, mempertanyakan isi secara kritis, lalu mengubahnya menjadi aksi nyata. Membaca tanpa pemahaman hanya menghasilkan hafalan yang kosong dari makna; memahami tanpa bertindak hanya melahirkan wacana yang menggantung tanpa dampak. Kartini tampaknya sudah melampaui semua tahap ini, jauh sebelum zamannya memungkinkan hal tersebut.

Ada satu kisah yang luput dari sorotan banyak orang, hubungan Kartini dengan gurunya, Kyai Haji Sholeh Darat. Dalam tatanan masyarakat Jawa kala itu, mempertanyakan seorang ulama adalah tindakan yang hampir tak terpikirkan. Namun Kartini dengan berani mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar, apa gunanya membaca kitab suci bila tidak satu pun kata di dalamnya dipahami? Pertanyaan ini bukan sikap memberontak, melainkan cerminan dari refleksi kritis atas praktik beragama yang cenderung terjebak pada formalitas belaka.

Yang menarik, Kyai Sholeh Darat tidak menutup diri terhadap pertanyaan itu. Alih-alih menolak, beliau justru menerimanya sebagai kritik yang membangun. Dari dialog inilah lahir sebuah inovasi penting, aksara Arab Pegon, yakni penulisan bahasa Jawa menggunakan huruf Arab. Ini bukan semata adaptasi bahasa, melainkan sebuah strategi budaya dan intelektual yang cerdas. Lewat Arab Pegon, masyarakat Jawa dapat mengakses makna Al-Qur’an tanpa terhalang oleh bahasa Arab yang tidak mereka kuasai.

Related Post

Ustaz M. Farihin isi kajian ahad pagi di Masjid Al-Ukhuwah

Kajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah: Salat Harus Menjadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban

19 April 2026

Khutbah Jum’at: Menyiapkan Bekal Menuju Kepastian Kematian

17 April 2026

Kajian Kamis Malam Jumat: Iman, Kesehatan Mental, dan Mekanisme Tubuh

17 April 2026

Belajar Sambil Bermain, TK ABA 3 Gelar Outing Class Penuh Keceriaan di Kampoenk Kidz Batu

10 April 2026

Lebih dari sekadar urusan linguistik, Arab Pegon juga menyimpan dimensi politis yang dalam. Di masa penjajahan, upaya menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah kerap mendapat pengawasan ketat dari penguasa kolonial, karena dianggap berpotensi membangkitkan kesadaran dan perlawanan rakyat. Dengan format Arab Pegon, pesan-pesan itu bisa tetap mengalir tanpa menarik perhatian penjajah. Ini membuktikan bahwa literasi bukan hanya urusan pengetahuan semata, ia adalah alat pembebasan.

Dari sini tampak jelas bahwa gagasan Kartini tentang literasi tidak berdiri di ruang kosong. Ia terhubung dengan tradisi intelektual yang lebih besar, tradisi yang mendorong manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu bukan kebetulan jika frasa paling ikonik dari pemikiran Kartini, Door Duisternis tot Licht atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”, memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan ungkapan dalam Al-Qur’an, minadzulumati ilannur (مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ), yang bermakna “dari kegelapan menuju cahaya”. Ungkapan Qur’ani ini merujuk pada hidayah Allah yang menuntun manusia keluar dari segala bentuk kegelapan, kebodohan, kesesatan, maupun ketidaktahuan, menuju cahaya iman dan kebenaran, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 257. Ini bukan sekadar kesesuaian kata-kata, melainkan bukti dari proses pemahaman yang benar-benar mengendap dalam diri Kartini.

Relevansi pemikiran Kartini justru semakin terasa kuat di zaman ini. Kita hidup di tengah banjir informasi, namun pemahaman yang kita miliki sering kali hanya mengapung di permukaan. Banyak yang membaca, tapi tidak sungguh-sungguh mengerti. Banyak yang tahu, tapi enggan bertindak. Dalam kondisi seperti ini, krisis literasi yang kita hadapi bukan lagi soal sulitnya akses, melainkan soal dangkalnya kedalaman.

Kartini mengajarkan bahwa literasi sejati membutuhkan keberanian untuk bertanya, bahkan terhadap hal-hal yang sudah terlanjur dianggap baku dan mapan. Ia juga menunjukkan bahwa pemahaman saja belum cukup, pemahaman harus berbuah perubahan yang nyata. Tanpa itu, literasi kehilangan kekuatan transformasinya dan hanya menjadi hiasan intelektual.

Namun ada tantangan lain yang tak kalah serius. Dalam kehidupan modern, simbol kerap menggeser substansi. Kartini dirayakan besar-besaran sebagai ikon, sementara pemikirannya jarang benar-benar digali. Akibatnya, semangat kritis yang justru menjadi inti perjuangannya perlahan terpinggirkan. Kita lebih nyaman merayakan sosok Kartini daripada meneladani keberaniannya untuk berpikir dan bertanya.

Padahal menjadi “Kartini masa kini” tidak harus dimulai dari langkah yang megah. Cukup dari hal yang sederhana namun konsisten, membaca dengan penuh kesungguhan, memahami dengan kejernihan pikiran, lalu bertindak dengan tanggung jawab. Dalam dunia pendidikan, ini berarti tidak hanya mengejar angka di rapor, tetapi juga mengejar makna di balik pelajaran. Dalam kehidupan sosial, ini berarti tidak hanya ikut arus, tetapi berani mengambil pendirian.

Pada akhirnya, Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol dari proses pencerahan yang tidak pernah selesai. Ia mengingatkan kita bahwa tujuan manusia bukan semata menumpuk pengetahuan, melainkan memahaminya secara utuh dan membebaskan diri dari segala bentuk kegelapan, baik kegelapan kebodohan maupun kegelapan ketidakadilan.

Maka cara paling tulus untuk merayakan Kartini hari ini adalah dengan menghidupkan kembali semangat literasi yang ia perjuangkan, bukan literasi yang berhenti di teks, melainkan literasi yang melahirkan kesadaran dan mendorong tindakan. Sebab hanya dengan cara itulah kita benar-benar bergerak, dari gelap menuju terang.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: dakwahislamkartiniliterasipendidikan
ShareTweetShare
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy in every universe.

Related Posts

Ustaz M. Farihin isi kajian ahad pagi di Masjid Al-Ukhuwah
Kabar

Kajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah: Salat Harus Menjadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban

oleh Yogi Arfan
19 April 2026
Khutbah

Khutbah Jum’at: Menyiapkan Bekal Menuju Kepastian Kematian

oleh Firnas Muttaqin
17 April 2026
Kajian

Kajian Kamis Malam Jumat: Iman, Kesehatan Mental, dan Mekanisme Tubuh

oleh Firnas Muttaqin
17 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Takmir Masjid Darul Arqom mulai rehab bertahap, ajak masyarakat dukung donasi demi kenyamanan ibadah bersama

Takmir Masjid Darul Arqom Resmi Mulai Langkah Rehab, Teken Surat Perintah Kerja

8 April 2026
Silaturahmi Idulfitri PDM Pasuruan menegaskan pentingnya kekompakan, menghindari konflik, dan memperkuat komitmen Muhammadiyah.

Silaturahmi Idul Fitri, Ketua PDM Kota Pasuruan Ajak Guru dan Karyawan AUM Jaga Harmoni dan Hindari Konflik

1 April 2026
Outing Class TK ABA 3 Kota Pasuruan di Batu

Belajar Sambil Bermain, TK ABA 3 Gelar Outing Class Penuh Keceriaan di Kampoenk Kidz Batu

10 April 2026

Masjid Baitul Huda Berbenah: Menuju Masjid Transit yang Nyaman dan Ramai Jamaah

7 April 2026
Literasi sejati bukan sekadar membaca, melainkan memahami makna lalu berani mengubah kegelapan menjadi cahaya.

Habis Gelap Terbitlah Terang adalah Kutipan Ayat Al-Qur’an

21 April 2026
Ketua PD IPM Kota Pasuruan

IPM Kota Pasuruan Soroti Bullying: Ancaman Nyata Moralitas Pelajar dan Masa Depan Kota

20 April 2026
Image : MI Muhammadiyah Kota Pauruan

Siswa MI Muhammadiyah Kota Pasuruan Ikuti OLIMPABA Tingkat Jatim 2026 di UINSA Surabaya

20 April 2026
Ustaz M. Farihin isi kajian ahad pagi di Masjid Al-Ukhuwah

Kajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah: Salat Harus Menjadi Kebutuhan, Bukan Sekadar Kewajiban

19 April 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan