Setiap tahun, peringatan Hari Kartini hadir dengan wajah yang serupa, kebaya, upacara, dan berbagai atribut budaya. Namun jika kita mau menyelami lebih jauh, semangat Raden Ajeng Kartini sesungguhnya tidak pernah berhenti di lapisan simbol. Akarnya justru terletak pada sesuatu yang lebih fundamental, literasi dalam pengertian yang paling menyeluruh, bukan sekadar mampu membaca huruf, melainkan mampu memahami makna dan mewujudkannya dalam tindakan.
Di sinilah kita perlu mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan literasi. Selama ini pemahaman kita tentang literasi terlalu sempit, seolah cukup berhenti pada kemampuan membaca teks. Padahal hakikat literasi jauh melampaui itu, kemampuan menangkap makna secara mendalam, mempertanyakan isi secara kritis, lalu mengubahnya menjadi aksi nyata. Membaca tanpa pemahaman hanya menghasilkan hafalan yang kosong dari makna; memahami tanpa bertindak hanya melahirkan wacana yang menggantung tanpa dampak. Kartini tampaknya sudah melampaui semua tahap ini, jauh sebelum zamannya memungkinkan hal tersebut.
Ada satu kisah yang luput dari sorotan banyak orang, hubungan Kartini dengan gurunya, Kyai Haji Sholeh Darat. Dalam tatanan masyarakat Jawa kala itu, mempertanyakan seorang ulama adalah tindakan yang hampir tak terpikirkan. Namun Kartini dengan berani mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar, apa gunanya membaca kitab suci bila tidak satu pun kata di dalamnya dipahami? Pertanyaan ini bukan sikap memberontak, melainkan cerminan dari refleksi kritis atas praktik beragama yang cenderung terjebak pada formalitas belaka.
Yang menarik, Kyai Sholeh Darat tidak menutup diri terhadap pertanyaan itu. Alih-alih menolak, beliau justru menerimanya sebagai kritik yang membangun. Dari dialog inilah lahir sebuah inovasi penting, aksara Arab Pegon, yakni penulisan bahasa Jawa menggunakan huruf Arab. Ini bukan semata adaptasi bahasa, melainkan sebuah strategi budaya dan intelektual yang cerdas. Lewat Arab Pegon, masyarakat Jawa dapat mengakses makna Al-Qur’an tanpa terhalang oleh bahasa Arab yang tidak mereka kuasai.
Lebih dari sekadar urusan linguistik, Arab Pegon juga menyimpan dimensi politis yang dalam. Di masa penjajahan, upaya menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa daerah kerap mendapat pengawasan ketat dari penguasa kolonial, karena dianggap berpotensi membangkitkan kesadaran dan perlawanan rakyat. Dengan format Arab Pegon, pesan-pesan itu bisa tetap mengalir tanpa menarik perhatian penjajah. Ini membuktikan bahwa literasi bukan hanya urusan pengetahuan semata, ia adalah alat pembebasan.
Dari sini tampak jelas bahwa gagasan Kartini tentang literasi tidak berdiri di ruang kosong. Ia terhubung dengan tradisi intelektual yang lebih besar, tradisi yang mendorong manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya. Karena itu bukan kebetulan jika frasa paling ikonik dari pemikiran Kartini, Door Duisternis tot Licht atau “Habis Gelap Terbitlah Terang”, memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan ungkapan dalam Al-Qur’an, minadzulumati ilannur (مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ), yang bermakna “dari kegelapan menuju cahaya”. Ungkapan Qur’ani ini merujuk pada hidayah Allah yang menuntun manusia keluar dari segala bentuk kegelapan, kebodohan, kesesatan, maupun ketidaktahuan, menuju cahaya iman dan kebenaran, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 257. Ini bukan sekadar kesesuaian kata-kata, melainkan bukti dari proses pemahaman yang benar-benar mengendap dalam diri Kartini.
Relevansi pemikiran Kartini justru semakin terasa kuat di zaman ini. Kita hidup di tengah banjir informasi, namun pemahaman yang kita miliki sering kali hanya mengapung di permukaan. Banyak yang membaca, tapi tidak sungguh-sungguh mengerti. Banyak yang tahu, tapi enggan bertindak. Dalam kondisi seperti ini, krisis literasi yang kita hadapi bukan lagi soal sulitnya akses, melainkan soal dangkalnya kedalaman.
Kartini mengajarkan bahwa literasi sejati membutuhkan keberanian untuk bertanya, bahkan terhadap hal-hal yang sudah terlanjur dianggap baku dan mapan. Ia juga menunjukkan bahwa pemahaman saja belum cukup, pemahaman harus berbuah perubahan yang nyata. Tanpa itu, literasi kehilangan kekuatan transformasinya dan hanya menjadi hiasan intelektual.
Namun ada tantangan lain yang tak kalah serius. Dalam kehidupan modern, simbol kerap menggeser substansi. Kartini dirayakan besar-besaran sebagai ikon, sementara pemikirannya jarang benar-benar digali. Akibatnya, semangat kritis yang justru menjadi inti perjuangannya perlahan terpinggirkan. Kita lebih nyaman merayakan sosok Kartini daripada meneladani keberaniannya untuk berpikir dan bertanya.
Padahal menjadi “Kartini masa kini” tidak harus dimulai dari langkah yang megah. Cukup dari hal yang sederhana namun konsisten, membaca dengan penuh kesungguhan, memahami dengan kejernihan pikiran, lalu bertindak dengan tanggung jawab. Dalam dunia pendidikan, ini berarti tidak hanya mengejar angka di rapor, tetapi juga mengejar makna di balik pelajaran. Dalam kehidupan sosial, ini berarti tidak hanya ikut arus, tetapi berani mengambil pendirian.
Pada akhirnya, Kartini bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Ia adalah simbol dari proses pencerahan yang tidak pernah selesai. Ia mengingatkan kita bahwa tujuan manusia bukan semata menumpuk pengetahuan, melainkan memahaminya secara utuh dan membebaskan diri dari segala bentuk kegelapan, baik kegelapan kebodohan maupun kegelapan ketidakadilan.
Maka cara paling tulus untuk merayakan Kartini hari ini adalah dengan menghidupkan kembali semangat literasi yang ia perjuangkan, bukan literasi yang berhenti di teks, melainkan literasi yang melahirkan kesadaran dan mendorong tindakan. Sebab hanya dengan cara itulah kita benar-benar bergerak, dari gelap menuju terang.












