Pelajar hari ini bukan sekadar peserta didik, melainkan cerminan wajah masa depan Kota Pasuruan. Di tangan merekalah arah peradaban lokal akan ditentukan apakah tumbuh menjadi generasi yang berintegritas, atau justru rapuh oleh krisis moral yang dibiarkan sejak dini.
Namun realitas di lapangan tidak selalu seideal harapan. Di tengah semangat belajar dan aktivitas sekolah, praktik bullying masih menjadi persoalan serius yang kerap dianggap sepele. Mulai dari ejekan verbal yang dianggap candaan, tekanan sosial, hingga ancaman yang mengarah pada kekerasan psikis semua itu masih dialami oleh banyak pelajar.
Lebih memprihatinkan lagi, kejadian bullying seringkali terjadi tanpa banyak yang tahu. Kalaupun ada yang mengetahui, tidak sedikit yang memilih diam dan berpura-pura tidak tahu. Sikap pembiaran ini justru memperpanjang umur perundungan dan membuat korban semakin terisolasi.
Sebagaimana disampaikan oleh Wildan, Ketua Umum PD IPM Kota Pasuruan:
“Praktik bullying akan merusak otak, baik pelaku maupun korban. Pada pelaku, akan muncul pola pikir dominasi dan ketidakpekaan. Sementara pada korban, akan tumbuh rasa ingin membalas dendam dengan cara yang sama ini termasuk salah satu bentuk kerusakan pola pikir. Korban juga akan mengalami tekanan mental, gangguan emosi, bahkan trauma jangka panjang.”
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa bullying bukan sekadar persoalan perilaku, tetapi juga ancaman serius terhadap kesehatan mental dan pembentukan karakter pelajar. Jika dibiarkan, ini akan melahirkan generasi yang kehilangan empati dan terjebak dalam lingkaran kekerasan yang terus berulang.
Dalam konteks ini, peran sekolah menjadi sangat krusial. Sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang aman bagi tumbuhnya karakter dan moralitas pelajar.
Sudah saatnya setiap satuan pendidikan di Kota Pasuruan memperkuat sistem pengawasan, menyediakan ruang aduan yang aman bagi korban, serta menghadirkan program edukasi anti-bullying yang berkelanjutan.
Di sisi lain, instansi terkait seperti Dinas Pendidikan Kota Pasuruan juga perlu mengambil langkah konkret dan sistematis. Tidak cukup hanya dengan imbauan, tetapi perlu kebijakan yang tegas, pendampingan psikologis bagi korban, serta pembinaan bagi pelaku agar tidak mengulangi tindakan yang sama. Kolaborasi antara sekolah, dinas, organisasi pelajar, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat.

IPM Kota Pasuruan sebagai organisasi pelajar memiliki posisi strategis dalam menggerakkan kesadaran kolektif ini. Melalui gerakan, edukasi, dan advokasi, IPM dapat menjadi garda depan dalam menumbuhkan budaya saling menghargai dan menolak segala bentuk perundungan.
Lebih dari itu, penting juga untuk membangun keberanian di kalangan pelajar agar tidak menjadi penonton pasif karena diam terhadap bullying sama saja dengan membiarkannya terus terjadi.
Kota Pasuruan membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral. Generasi yang mampu menjaga lisan, menghargai perbedaan, dan menciptakan lingkungan yang aman bagi semua.
Menjaga moralitas pelajar hari ini adalah investasi jangka panjang. Jika bullying terus dibiarkan baik oleh pelaku maupun oleh mereka yang memilih diam maka yang rusak bukan hanya individu, tetapi masa depan kota itu sendiri. Sebaliknya, jika ditangani dengan serius dan bersama-sama, Kota Pasuruan akan melahirkan generasi yang berakhlak, berdaya, dan siap membawa perubahan ke arah yang lebih baik.













