Pasuruan, 27 Mei 2026 – Dalam khutbah Iduladha yang disampaikan di hadapan jamaah salat Id di Stadion Untung Surapati, khatib Drs. Arifin Ahmah, mengajak umat Islam untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya secara sungguh-sungguh. Menurut khatib, pesan takwa selalu disampaikan dalam setiap khutbah agar menjadi pengingat bagi umat Islam untuk senantiasa taat dan patuh kepada Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan.
Pada kesempatan tersebut, khatib mengangkat tema tentang keteladanan Nabi Ibrahim Alaihissalam dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan kehidupan. Ia menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS merupakan salah satu figur utama yang diperintahkan Allah SWT untuk diteladani oleh umat Islam. Hal itu sebagaimana firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 123 yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk mengikuti agama Nabi Ibrahim yang lurus (hanif).
Khatib kemudian menguraikan perjalanan Nabi Ibrahim AS dalam mencari Tuhan di tengah masyarakat yang saat itu masih menyembah berhala. Nabi Ibrahim memperhatikan bintang, bulan, dan matahari, namun semuanya terbenam dan tidak kekal. Dari peristiwa itu, Nabi Ibrahim menyimpulkan bahwa Tuhan sejati bukanlah sesuatu yang muncul dan tenggelam, melainkan Allah SWT, pencipta langit dan bumi. Menurut khatib, kisah tersebut mengajarkan pentingnya memperkuat keyakinan dan akidah melalui perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta.
Selain itu, khatib juga mengisahkan keberanian Nabi Ibrahim AS ketika berdakwah kepada Raja Namrud. Dalam dialog yang terjadi, Nabi Ibrahim menyampaikan bahwa Allah adalah Dzat yang mampu menghidupkan dan mematikan. Raja Namrud berusaha membantah dengan menunjukkan kekuasaannya terhadap dua orang budaknya. Namun Nabi Ibrahim kemudian menantang Namrud untuk menerbitkan matahari dari barat apabila benar memiliki kekuasaan seperti Tuhan. Tantangan tersebut membuat Raja Namrud terdiam karena manusia tidak akan mampu mengubah ketetapan Allah SWT.
Dalam khutbahnya, khatib turut menyinggung kisah Nabi Ibrahim AS yang meminta kepada Allah SWT agar diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan makhluk yang telah mati, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 260. Allah kemudian memerintahkan Nabi Ibrahim mencincang empat ekor burung dan meletakkan bagian-bagiannya di beberapa tempat. Setelah dipanggil atas izin Allah SWT, burung-burung tersebut hidup kembali dan datang kepada Nabi Ibrahim. Menurut khatib, peristiwa itu menunjukkan bagaimana Nabi Ibrahim terus berusaha meneguhkan keyakinannya kepada Allah SWT.
Bagian penting khutbah membahas kisah penyembelihan Nabi Ismail AS yang menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban. Nabi Ibrahim menyampaikan kepada putranya bahwa dirinya mendapat perintah Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih sang anak. Nabi Ismail dengan penuh keikhlasan meminta ayahnya menjalankan perintah tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk bersabar.
Khatib menilai jawaban Nabi Ismail menunjukkan keberhasilan pendidikan keluarga yang dibangun di atas kejujuran, amanah, dan keteladanan orang tua. Menurutnya, seorang anak akan mudah mempercayai dan menaati orang tuanya apabila sejak kecil dididik dengan nilai-nilai kebenaran dan kejujuran.
Khatib juga menjelaskan bahwa Allah SWT kemudian mengganti Nabi Ismail dengan seekor kibas, yang menjadi asal mula disyariatkannya ibadah kurban hingga saat ini. Ia menyebutkan adanya perbedaan pendapat ulama mengenai hukum kurban. Mazhab Abu Hanifah memandang kurban sebagai kewajiban bagi yang mampu, sementara mayoritas ulama lainnya menilai kurban sebagai sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan.
Selain ibadah kurban, khutbah tersebut juga mengingatkan pentingnya menjaga perilaku selama menjalankan ibadah haji. Khatib mengutip ayat Al-Qur’an yang melarang perbuatan fasik, berkata kotor, dan bertengkar saat berhaji. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak hanya berlaku ketika menunaikan ibadah haji, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di akhir khutbah, khatib mengajak seluruh jamaah menjadikan Nabi Ibrahim AS sebagai teladan dalam memperkuat akidah, meningkatkan ketakwaan, membangun keluarga yang baik, serta menjaga hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Khutbah kemudian ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan, ampunan, dan kesejahteraan umat Islam di dunia maupun akhirat.












