Pasuruan, 21 Agustus 2026 – Di atas kertas, dunia pendidikan usia dini kerap diidentikkan dengan deretan angka dan abjad. Namun, di PAUD Al Kautsar Pasuruan, kurikulum mengalami pergeseran paradigma yang cukup radikal: adab dan kepekaan sosial ditempatkan di garis terdepan. Lewat sebuah inisiatif bernama program ‘Jawaben’ (Jawa Bèn), lembaga ini sukses merajut benang merah antara keluhuran budaya lokal dan solidaritas kemanusiaan nasional.
Kepala PAUD Al Kautsar, Rini Kurniati, S.Pd.Gr., M.Pd., menjelaskan bahwa program ini lahir dari kebutuhan untuk mengembalikan esensi pendidikan karakter. “Jawaben itu adalah program yang muncul seiring dengan visi Kota Pasuruan yang saat ini memiliki program pendidikan ‘Sekolah Prime’. Salah satu tujuan utamanya adalah mengenalkan kepada anak-anak terkait budaya, khususnya budaya Jawa,” ungkap Rini saat diwawancarai.
Menurut Rini, program ini dirancang melampaui batas-batas pengenalan budaya seremonial semata. Ia mengamati bahwa banyak sekolah lain yang hanya terjebak pada aspek permukaan. “Perbedaannya mungkin kalau sekolah-sekolah lain yang sudah melakukan lebih dulu program sejenis, itu kebanyakan hanya mengenalkan bahasanya atau lagu-lagu daerahnya. Tetapi untuk PAUD Al Kautsar sendiri, kita memfokuskan ke karakternya. Jadi ke sopan santunnya, sisi lemah lembut orang-orang Jawa itu yang akan kita tanamkan ke anak-anak,” tegasnya.
Menghidupkan Kembali Adab Lewat Maestro Budaya
Transformasi karakter ini tidak dibangun secara instan. Untuk memastikan keotentikan substansi budaya dan dialek Jawa krama, Rini menggandeng praktisi sekaligus budayawan kawakan, Ki Dalang Suyatno.
“Untuk kami menghadirkan secara khusus beliau ke PAUD Al Kautsar itu supaya pembelajarannya otentik. Beliau itu kan dari Jawa Timur bagian barat, jadi ngomongnya, bahasanya, itu paham benar. Budayanya pun paham benar. Beliau kita posisikan sebagai guru sekaligus penasihat terkait bagaimana kita meng-create kegiatan ini agar tidak melenceng dari pakemnya,” jelas Rini.
Kehadiran sosok maestro budaya di lingkungan sekolah memberikan otoritas pedagogis yang kuat. Anak-anak tidak hanya menghafal teori, melainkan dibiasakan mempraktikkan gestur kesopanan dalam keseharian, menjadikan kehalusan budi pekerti sebagai identitas natural mereka.
Menembus Batas: Dari Unggah-Ungguh ke Filantropi NTT
Kekuatan terbesar dari narasi ‘Jawaben’ terletak pada bagaimana program ini mendobrak sekat kelas dan merambah ruang-ruang kemanusiaan. Adab Jawa yang diajarkan tidak berhenti pada kepatuhan personal, melainkan bertransformasi menjadi tindakan nyata kepedulian sosial—sebuah antitesis bahwa pendidikan karakter anak usia dini harus peka terhadap realitas sekitar.
Rini memandang bahwa empati tidak bisa sekadar diajarkan melalui ceramah, melainkan harus dilatih lewat partisipasi langsung. Hal ini dibuktikan ketika PAUD Al Kautsar mengintegrasikan kurikulum kultural tersebut dengan aksi filantropi untuk korban bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aksi nyata ini dijalankan dengan metode pendidikan yang berpusat pada anak:
Edukasi Mitigasi: Sebelum penggalangan dana, pihak sekolah memberikan edukasi dasar mengenai kebencanaan. Tujuannya agar empati anak tumbuh secara organik karena mereka memahami realitas penderitaan yang dilihat melalui media informasi.
Konsistensi Penggalangan Dana: Pengumpulan donasi dilakukan secara harian saat anak-anak selesai berdoa. Rini mengungkapkan alasan di balik metode ini, “Kita berikan kesempatan untuk beramal memasukkan donasinya ke kotak amal. Setiap hari kita laporkan ke wali murid dalam bentuk flyer perolehan hari ini sekian, hari kedua sekian. Itu sebagai bukti transparansi kita.”
Dampak Emosional bagi Orang Tua: Transparansi ini ternyata membuahkan dampak yang luar biasa. Rini menuturkan, “Wali murid itu kalau melihat flyer, mereka bilang ‘Oh, masih dapat sekian nih’, akhirnya mereka berkata, ‘Besok anakku tak bawain lagi’. Ini menunjukkan bahwa apa yang diberikan PAUD Al Kautsar itu bisa benar-benar berdampak.”
Hasil dari pendekatan yang akuntabel dan edukatif ini tercatat luar biasa. PAUD Al Kautsar berhasil mengumpulkan total donasi kemanusiaan sebesar Rp3.744.000 untuk korban gempa NTT. Dana tersebut disalurkan melalui lembaga kemanusiaan tepercaya, Lazismu, untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan memberikan pelajaran bagi anak mengenai pentingnya amanah dalam pengelolaan donasi.
Resonansi Keluarga dan Investasi Masa Depan
Pendekatan hibrida antara kearifan lokal dan aksi sosial ini memicu resonansi positif. Rini menambahkan bahwa banyak orang tua melaporkan anak-anak justru menjadi pengingat bagi orang tua untuk menjaga etika dan bertutur kata halus di rumah.
Ke depan, Rini Kurniati memastikan bahwa Jawaben telah dikunci dalam peta jalan (roadmap) kurikulum tahunan PAUD Al Kautsar. Melalui perpaduan unik ini, PAUD Al Kautsar membuktikan bahwa adab Jawa tidak hanya relevan untuk merawat harmoni lokal, tetapi juga mampu menjadi fondasi kokoh untuk menebar solidaritas bagi sesama yang melampaui batas geografis di penjuru Nusantara.












