Menjadi warga Muhammadiyah bukan hanya tentang identitas. Ia bukan sekadar nama yang tercantum dalam struktur organisasi, keanggotaan, atau keterlibatan dalam kegiatan pengajian dan acara persyarikatan. Menjadi warga Muhammadiyah seharusnya berarti memiliki keberanian untuk hadir, mengambil peran, dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.
Bulan Agustus memberikan ruang yang menarik bagi anak-anak muda Muhammadiyah untuk membuktikan hal tersebut. Perayaan kemerdekaan mungkin terlihat sederhana: memasang bendera, mengadakan lomba, membuat panggung hiburan, mengatur perlombaan anak-anak, atau mengadakan kegiatan di lingkungan RT dan kampung. Namun, justru di ruang-ruang sederhana seperti inilah kebermanfaatan seorang kader dapat terlihat secara nyata.
Ada satu panggilan sederhana untuk anak muda Muhammadiyah: jadilah warga Muhammadiyah yang berdampak.
Tidak harus menunggu acara besar Muhammadiyah. Tidak harus menunggu menjadi ketua organisasi. Tidak harus menunggu memiliki jabatan strategis. Mulailah dari lingkungan sekitar. Salah satunya dengan menjadi bagian penting dalam kepanitiaan kegiatan Agustusan.
Memang terkesan sederhana. Bahkan bagi sebagian orang, menjadi panitia Agustusan mungkin dianggap tidak terlalu bergengsi. Tetapi cara pandang seperti itu perlu dikoreksi. Sebab kebermanfaatan tidak selalu ditentukan oleh seberapa besar nama kegiatan, melainkan seberapa besar kontribusi yang kita berikan di dalamnya.
Ketika acara Agustusan sukses, pastikan ada anak muda Muhammadiyah yang menjadi salah satu juru kunci keberhasilan acara tersebut.
Bukan untuk mencari pujian. Bukan pula untuk menunjukkan bahwa Muhammadiyah paling hebat. Tetapi karena di sanalah nilai-nilai Muhammadiyah diterjemahkan menjadi tindakan nyata: bekerja sama, melayani, membantu, menggerakkan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Anak muda Muhammadiyah memiliki banyak kemampuan yang sebenarnya sangat dibutuhkan dalam kegiatan masyarakat. Yang memiliki kemampuan desain, misalnya, dapat membantu membuat poster, banner, sertifikat, atau konten media sosial. Yang memiliki kemampuan menulis dapat menjadi copywriter untuk menyusun pengumuman, narasi acara, hingga materi publikasi. Mereka yang memiliki kemampuan komunikasi dapat menjadi humas. Yang memahami media sosial dapat membantu dokumentasi dan publikasi.
Bahkan mereka yang memiliki kemampuan marketing dapat mengambil peran yang sangat strategis.
Kegiatan Agustusan tentu membutuhkan dana. Di sinilah anak muda Muhammadiyah dapat belajar mencari dukungan dari masyarakat maupun pelaku usaha. Mereka bisa menawarkan kerja sama, sponsorship, atau bentuk dukungan lainnya secara profesional dan santun.
Bukankah kemampuan marketing yang selama ini kita pelajari akan jauh lebih bermakna ketika digunakan untuk kepentingan masyarakat?
Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap kaderisasi. Kaderisasi tidak hanya terjadi di ruang rapat, forum perkaderan, atau diskusi organisasi. Kaderisasi juga terjadi ketika seorang anak muda belajar mengelola acara kampung, bernegosiasi dengan sponsor, menyelesaikan konflik antarpanitia, membuat desain publikasi, mengatur keuangan, atau berdiri di depan masyarakat untuk memastikan sebuah kegiatan berjalan dengan baik.
Semua itu adalah sekolah kehidupan.
Ada nilai lain yang juga penting untuk dihidupkan: nyahnyoh, atau semangat suka menolong dan ringan tangan. Dalam kehidupan bermasyarakat, orang yang paling diingat bukan selalu orang yang paling banyak berbicara, tetapi orang yang ketika dibutuhkan selalu hadir dan membantu.
Semangat seperti inilah yang seharusnya menjadi karakter warga Muhammadiyah.
Jangan sampai masyarakat mengenal kita hanya karena atribut Muhammadiyah yang kita kenakan, tetapi tidak merasakan manfaat dari keberadaan kita. Jangan sampai kita bangga mengatakan sebagai bagian dari Muhammadiyah, tetapi ketika lingkungan membutuhkan tenaga, pikiran, atau kemampuan kita, justru kita memilih tidak terlibat.
Identitas harus melahirkan tindakan.
Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam membangun masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dakwah, dan berbagai bentuk amal usaha. Spirit yang sama seharusnya diteruskan oleh generasi mudanya dalam konteks kehidupan hari ini.
Maka, ketika bulan Agustus tiba, jangan melihat kegiatan masyarakat hanya sebagai acara biasa. Lihatlah sebagai ruang dakwah sosial. Lihat sebagai kesempatan untuk membangun hubungan dengan tetangga. Lihat sebagai ruang untuk memperkenalkan wajah Muhammadiyah yang ramah, terbuka, kolaboratif, dan bermanfaat.
Anak muda Muhammadiyah tidak harus selalu membawa nama organisasi secara formal. Kadang-kadang cukup dengan membawa nilai-nilainya.
Datang ketika masyarakat membutuhkan.
Bantu ketika ada pekerjaan.
Gunakan keahlian untuk menyelesaikan masalah.
Bangun kolaborasi tanpa banyak sekat.
Dan setelah acara selesai, tinggalkan kesan bahwa keberadaan kita memang membawa manfaat.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang warga Muhammadiyah bukan hanya seberapa sering ia hadir dalam kegiatan internal persyarikatan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kehadirannya dirasakan oleh masyarakat.
Karena itu, bulan Agustus ini mari membuat sebuah panggilan sederhana untuk anak muda Muhammadiyah: jangan hanya menjadi penonton kemeriahan kemerdekaan. Jadilah bagian dari orang-orang yang membuat kemeriahan itu terjadi.
Jika ada kegiatan Agustusan di lingkungan kita, ambil peran.
Jika dibutuhkan desain, bantu dengan desain.
Jika dibutuhkan tulisan, bantu dengan tulisan.
Jika dibutuhkan dana, bantu mencari dukungan.
Jika dibutuhkan tenaga, hadir dan bekerja.
Jika dibutuhkan ide, sumbangkan gagasan.
Dan jika tidak ada yang meminta kita, jangan selalu menunggu. Tanyakan saja: “Apa yang bisa saya bantu?”
Sebab menjadi warga Muhammadiyah memang sebuah kebanggaan. Tetapi kebanggaan itu akan menjadi lebih bermakna ketika berubah menjadi kebermanfaatan.
Bangga menjadi warga Muhammadiyah. Lebih bangga lagi ketika masyarakat merasakan dampak dari keberadaan kita.
Agustus adalah momentum kecil. Tetapi dari momentum kecil itulah karakter besar dibentuk: karakter anak muda Muhammadiyah yang ringan tangan, suka menolong, mampu bekerja sama, dan selalu hadir menjadi bagian dari solusi.
Karena Muhammadiyah tidak hanya membutuhkan anak muda yang pintar berbicara.
Muhammadiyah membutuhkan anak muda yang mau bergerak, mau membantu, dan mau memberi dampak.











