Dalam kajian tafsir yang disampaikan oleh Ustadz Yusuf Hasymi di Masjid At-Taqwa Jagalan pada Kamis malam Jumat, 21 Mei 2026, Surah Al-Zalzalah dikaji sebagai fondasi penting dalam membangun kesadaran manusia tentang hari akhir, pertanggungjawaban amal, serta relasi spiritual antara manusia dengan bumi yang dipijaknya.
Kajian tersebut menempatkan Al-Zalzalah bukan sekadar sebagai gambaran kedahsyatan kiamat, melainkan sebagai peringatan moral bahwa seluruh aktivitas manusia pada hakikatnya terekam dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan yang demikian itu kepadanya.”
(QS. Al-Zalzalah: 4–5)
Ayat tersebut menjadi titik sentral penjelasan mengenai fungsi bumi sebagai saksi eksistensial manusia. Dalam perspektif tafsir, bumi tidak diposisikan sebagai benda mati semata, melainkan makhluk ciptaan Allah yang tunduk terhadap kehendak-Nya dan memiliki kemampuan untuk “bersaksi” atas seluruh aktivitas manusia.
Penjelasan ini diperkuat oleh hadis Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa bumi akan memberikan kesaksian terhadap seluruh amal manusia yang dilakukan di atasnya, baik kebaikan maupun keburukan. Dengan demikian, konsep hisab dalam Islam tidak hanya bersifat abstrak, tetapi juga memiliki dimensi nyata, di mana tempat dan lingkungan kehidupan manusia turut menjadi saksi moral atas perilakunya.
Dari sudut pandang keilmuan Islam, ayat tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara akidah, etika, dan hubungan manusia dengan alam. Alam semesta dalam Islam bukan entitas netral yang terpisah dari manusia, melainkan bagian dari sistem ciptaan Allah yang berjalan sesuai ketetapan-Nya. Karena itu, hubungan manusia dengan bumi seharusnya dibangun di atas kesadaran amanah, bukan eksploitasi dan kelalaian.
Ustadz Yusuf Hasymi kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan anjuran Rasulullah ﷺ untuk memperbanyak shalat sunnah di rumah serta berpindah tempat ketika melaksanakan ibadah. Hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim menyebutkan:
“Jadikanlah sebagian shalat kalian di rumah kalian dan jangan jadikan rumah kalian seperti kuburan.”
Secara spiritual, anjuran tersebut mengandung hikmah agar semakin banyak tempat di bumi yang menjadi saksi sujud seorang hamba. Setiap titik tempat manusia beribadah akan menjadi jejak kesalehan yang kelak berbicara di hadapan Allah SWT. Dalam tradisi pendidikan ruhani Islam, konsep ini melahirkan kesadaran bahwa manusia selalu berada dalam pengawasan Allah sehingga terdorong menjaga perilakunya bahkan ketika tidak dilihat orang lain.
Kajian itu juga menyinggung problem utama manusia modern, yakni dominasi cinta dunia yang menyebabkan hilangnya sensitivitas terhadap peringatan akhirat. Fenomena tersebut dijelaskan melalui Surah Al-Muddassir ayat 49–51 yang menggambarkan manusia lalai seperti keledai liar yang lari ketakutan dari singa. Ayat ini menjadi kritik terhadap manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, tetapi menolak kebenaran wahyu karena terikat kepentingan duniawi.
Dalam sejarah Islam, contoh tersebut tercermin pada tokoh Quraisy seperti Walid bin Mughirah yang dikenal cerdas dan terpandang, tetapi menolak dakwah Rasulullah ﷺ. Penolakan terhadap kebenaran bukan disebabkan kurangnya pengetahuan, melainkan karena kesombongan, kepentingan sosial, dan keterikatan terhadap dunia.
Dari penjelasan tersebut tampak bahwa Islam tidak hanya mempersoalkan aspek ritual, tetapi juga orientasi hidup manusia. Shalat, zikir, dan ibadah lainnya tidak cukup dipahami sebagai rutinitas formal, melainkan harus melahirkan perubahan akhlak dan kepedulian sosial. Ketika ibadah kehilangan dampak terhadap kepedulian kepada fakir miskin, anak yatim, dan sesama manusia, maka ibadah tersebut berisiko menjadi aktivitas yang hampa secara spiritual.
Kajian ini juga menegaskan keunikan Al-Qur’an sebagai sumber ilmu dan petunjuk hidup. Berbeda dengan karya sastra yang hanya menyentuh emosi atau karya ilmiah yang hanya mengandalkan rasio, Al-Qur’an berbicara kepada keseluruhan dimensi manusia: akal, hati, ruh, dan naluri sekaligus. Karena itu, wahyu tidak hanya memberi informasi, tetapi juga membentuk kesadaran dan orientasi hidup manusia.
Pada akhirnya, Surah Al-Zalzalah menghadirkan pesan fundamental bahwa sekecil apa pun amal manusia tidak akan hilang dari perhitungan Allah SWT.
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Al-Zalzalah: 7–8)
Ayat tersebut menjadi fondasi etika Islam bahwa seluruh tindakan memiliki konsekuensi moral. Tidak ada amal yang benar-benar tersembunyi, karena bumi, waktu, dan kehidupan manusia sendiri akan menjadi saksi di hadapan Allah SWT pada hari pembalasan kelak.












