• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Budaya “Sok Sibuk” di Era Digital: Produktif atau Sekadar Takut Tertinggal?

Dary Yumna Joesi oleh Dary Yumna Joesi
32 detik yang lalu
in Opini
0
Di era digital, banyak orang tidak lagi takut gagal—mereka lebih takut terlihat tidak sibuk/Ilustrasi shutterstock.com

Di era digital, banyak orang tidak lagi takut gagal—mereka lebih takut terlihat tidak sibuk/Ilustrasi shutterstock.com

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Di era digital, ada satu kalimat yang hampir selalu terdengar dalam percakapan sehari-hari: “Lagi sibuk banget.” Kalimat itu kini bukan sekadar penjelasan tentang aktivitas seseorang, melainkan telah berubah menjadi simbol status sosial baru. Semakin sibuk seseorang terlihat, semakin dianggap penting, sukses, dan produktif. Ironisnya, budaya ini justru melahirkan generasi yang kelelahan secara mental, tetapi belum tentu benar-benar menghasilkan sesuatu yang bermakna.

Fenomena ini muncul karena masyarakat modern hidup dalam sistem yang memuja produktivitas tanpa batas. Media sosial menjadi panggung utama untuk mempertontonkan kesibukan tersebut. Foto laptop yang masih menyala tengah malam, rapat daring yang berlangsung tanpa jeda, hingga unggahan tentang lembur seolah menjadi bukti dedikasi terhadap pekerjaan. Tanpa disadari, banyak orang mulai merasa bersalah ketika memiliki waktu luang. Istirahat dianggap kemunduran, sementara kesibukan diperlakukan seperti prestasi.

Masalahnya, tidak semua kesibukan berarti produktif. Banyak orang sebenarnya terjebak dalam aktivitas yang hanya memberi ilusi bekerja keras. Memeriksa ponsel setiap beberapa menit, menghadiri rapat yang tidak efektif, atau membuat daftar tugas panjang tanpa menyelesaikan pekerjaan utama hanyalah bentuk “kesibukan semu”. Kita terlihat aktif, tetapi sebenarnya bergerak di tempat. Fenomena ini sering disebut active laziness, yaitu kondisi ketika seseorang terus melakukan hal-hal kecil agar merasa sibuk, padahal sedang menghindari tugas besar yang lebih penting.

Budaya sibuk juga berkaitan erat dengan rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO). Di media sosial, kehidupan orang lain tampak selalu bergerak maju: ada yang membangun bisnis, mengikuti kursus, bekerja lembur, atau mencapai target baru setiap hari. Akibatnya, banyak orang merasa harus terus bergerak agar tidak dianggap kalah. Padahal, yang terlihat di media sosial sering kali hanya potongan terbaik dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh tentang tekanan, stres, atau kelelahan yang mereka alami.

Related Post

Islam menyatukan iman, ilmu, dan etika dalam setiap evolusi transportasi demi kemaslahatan umat/Ilustrasi Joesi

Sering Kita Naiki, Apakah Transportasi Darat, Udara, hingga Air Sudah Sesuai dengan Syariat Islam? Ini Jawabannya!

17 Mei 2026
Ilustrasi Dari Mimbar ke Konten Pendek/Generate by AI

Dari Mimbar ke Konten Pendek, Tantangan Dakwah atau Peluang di Era Algoritma?

16 Mei 2026

Era Digital Bisa Hancurkan Karakter Anak? Ini Penjelasan Prof. Mundakir di Pasuruan

10 Mei 2026

Media Daerah Muhammadiyah Krisis SDM, Tapi Agus Wahyudi Bocorkan Jurus Rahasia Atasi Krisis Digital

11 Oktober 2025

Lebih jauh lagi, obsesi untuk selalu sibuk perlahan menghilangkan kemampuan manusia untuk menikmati jeda. Waktu kosong kini dianggap sesuatu yang harus segera diisi. Saat menunggu antrean, orang langsung membuka media sosial. Ketika memiliki waktu senggang, mereka merasa perlu mencari aktivitas tambahan agar tetap terlihat produktif. Padahal, dalam dunia psikologi, kebosanan justru memiliki fungsi penting bagi kreativitas. Banyak ide besar lahir ketika seseorang memiliki ruang untuk berpikir tanpa distraksi.

Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk bekerja tanpa henti. Ketika tubuh dipaksa terus aktif, kualitas fokus menurun, kreativitas melemah, dan kesehatan mental terganggu. Tidak mengherankan jika kasus burnout meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak pekerja muda merasa lelah secara emosional meskipun usia mereka masih produktif. Mereka hidup dalam tekanan untuk terus bekerja, terus belajar, dan terus terlihat berhasil.

Yang menarik, jika melihat sejarah, simbol kesuksesan dahulu justru identik dengan waktu luang. Orang yang mampu menikmati hidup tanpa terus bekerja dianggap telah mencapai kestabilan ekonomi dan sosial. Namun sekarang logika itu terbalik. Kesibukan menjadi “medali kehormatan” baru. Semakin sedikit waktu istirahat seseorang, semakin tinggi pula pengakuan yang ia dapatkan. Padahal, bekerja tanpa batas bukanlah tanda keberhasilan, melainkan bisa menjadi tanda buruknya manajemen hidup.

Karena itu, masyarakat perlu mulai mengubah cara pandang terhadap produktivitas. Produktif bukan berarti bekerja selama 24 jam sehari. Produktif berarti mampu menghasilkan sesuatu yang bernilai tanpa harus mengorbankan kesehatan fisik dan mental. Seseorang yang mampu menyelesaikan pekerjaan secara efektif lalu memiliki waktu untuk keluarga, istirahat, atau menikmati hobi sebenarnya jauh lebih sehat dibanding orang yang terus-menerus sibuk tetapi kehilangan kualitas hidupnya.

Belajar berkata “tidak” juga menjadi keterampilan penting di era sekarang. Tidak semua peluang harus diambil, tidak semua pekerjaan harus diterima, dan tidak semua waktu harus diisi aktivitas. Ada kalanya seseorang perlu berhenti sejenak untuk memulihkan energi dan mengevaluasi arah hidupnya. Istirahat bukan bentuk kemalasan, melainkan bagian penting dari proses bekerja yang sehat.

Selain itu, media sosial perlu digunakan dengan lebih bijak. Banyak orang terjebak membandingkan dirinya dengan standar produktivitas orang lain yang belum tentu realistis. Padahal setiap individu memiliki ritme hidup berbeda. Tidak semua orang harus memiliki jadwal padat untuk dianggap berhasil. Kadang, hidup yang seimbang justru lebih sulit dicapai dibanding sekadar terlihat sibuk.

Pada akhirnya, budaya “sok sibuk” menunjukkan bahwa masyarakat modern sedang mengalami krisis makna. Banyak orang tidak lagi bekerja untuk hidup, tetapi hidup untuk bekerja dan terlihat produktif di mata orang lain. Jika tren ini terus dibiarkan, manusia akan kehilangan kemampuan paling sederhana namun paling penting: menikmati hidup itu sendiri.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti memandang kesibukan sebagai ukuran nilai diri. Dunia tidak akan runtuh hanya karena seseorang mengambil waktu istirahat, menolak pekerjaan tambahan, atau memilih menikmati akhir pekan tanpa membuka laptop. Justru dalam jeda itulah manusia bisa kembali menemukan kreativitas, kesehatan mental, dan hubungan sosial yang selama ini terabaikan.

Di tengah dunia yang bergerak terlalu cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak mungkin adalah bentuk keberanian yang paling langka hari ini.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: Digitalmodernproduktif
ShareTweetShare
Dary Yumna Joesi

Dary Yumna Joesi

Mechanical Engineering graduate specializing in materials, manufacturing, and energy conversion, currently serving as an Automotive Engineering teacher and school data administrator (operator) at SMK Muhammadiyah 1 Pasuruan. \,,/ Just Enjoyneering this life \,,/

Related Posts

Islam menyatukan iman, ilmu, dan etika dalam setiap evolusi transportasi demi kemaslahatan umat/Ilustrasi Joesi
Sejarah

Sering Kita Naiki, Apakah Transportasi Darat, Udara, hingga Air Sudah Sesuai dengan Syariat Islam? Ini Jawabannya!

oleh Dary Yumna Joesi
17 Mei 2026
Ilustrasi Dari Mimbar ke Konten Pendek/Generate by AI
Opini

Dari Mimbar ke Konten Pendek, Tantangan Dakwah atau Peluang di Era Algoritma?

oleh Aman Ridho
16 Mei 2026
Mendidik Karakter Anak di Era Digital: Membangun Moral Action di Tengah Gempuran Algoritma
Kabar

Era Digital Bisa Hancurkan Karakter Anak? Ini Penjelasan Prof. Mundakir di Pasuruan

oleh Firnas Muttaqin
10 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026

Cemerlang! Nanda Arkana, Siswa SD Al Kautsar Kota Pasuruan, Raih Medali Emas Olimpiade Matematika Nasional

27 April 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Jamal mewakili tim mendapakan piala di podium

Tapak Suci Kota Pasuruan Raih Juara Umum II di Kejurkot Pencak Silat 2026

26 April 2026
Di era digital, banyak orang tidak lagi takut gagal—mereka lebih takut terlihat tidak sibuk/Ilustrasi shutterstock.com

Budaya “Sok Sibuk” di Era Digital: Produktif atau Sekadar Takut Tertinggal?

22 Mei 2026
MI Muhammadiyah Kunjungan ke P3GI

Museum Gula yang Baru Diresmikan Diserbu Siswa MI Muhammadiyah, Ada Praktik Tanam Tebu

19 Mei 2026
foto bersama siswa berprestasi bersama wali murid, kepala sekolah serta jajaran PDM Kota Pasuruan/foto Fiqo pasmu.id

SMK Mutu Pasuruan Siapkan Generasi Siap Industri, Ini Pesan Ketua PDM Kota Pasuruan di Era Distrupsi

19 Mei 2026
Tahsin Al-Qur'an Ibu-Ibu Jamaah Masjid Al-Ukhuwah

Ibu-Ibu Jamaah Masjid Al Ukhuwah Aktif Tahsin Al-Qur’an dan Hidupkan Kebersamaan Jamaah

19 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan