Pasuruan, 10 Mei 2026 – Tantangan mendidik anak pada era modern tidak lagi terbatas pada lingkungan fisik, melainkan telah merambah ke dunia digital yang tanpa batas. Hal ini ditegaskan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep., FISQua., dalam Kajian Ahad Pagi yang digelar di Masjid Darul Arqom, Kota Pasuruan, Minggu (10/5/2026).
Dalam ceramahnya, Prof. Mundakir menekankan bahwa pembentukan karakter anak harus mencakup tiga dimensi utama, yakni moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral atau empati), dan yang paling krusial adalah moral action (tindakan moral).
“Karakter itu bukan hanya soal anak tahu mana yang baik, tapi bagaimana pengetahuan itu menjelma menjadi aksi nyata. Saat melihat teman sakit atau lingkungan kurang bersih, di situlah moral action harus muncul,” ujar Ketua MPKU PWM Jawa Timur tersebut di hadapan jamaah yang memadati Masjid Darul Arqom di Jalan KH Wachid Hasyim.
Mengutip Surat An-Nisa ayat 9, Prof. Mundakir mengingatkan para orang tua agar tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara ilmu, fisik, maupun akhlak. Ia menyoroti fenomena anak-anak saat ini yang lebih akrab dengan algoritma media sosial, YouTube, hingga game online dibandingkan dengan nilai-nilai agama.
Berdasarkan data yang disampaikan, hampir 80 persen populasi anak usia 5 hingga 17 tahun telah menggunakan internet. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menciptakan Residual Generation atau “Generasi Sisa” apabila tidak diimbangi dengan pendampingan yang ketat dari orang tua.
“Anak-anak sekarang lebih takut kehilangan kuota daripada lupa hafalan surat Al-Qur’an. Mereka lebih meniru influencer daripada guru atau ustadznya,” tegasnya.
Ia juga memaparkan berbagai risiko gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, hingga cyberbullying yang dapat mengintai anak-anak yang terlalu bebas berselancar di dunia maya tanpa kontrol orang tua. Selain itu, penggunaan gawai secara berlebihan dinilai dapat melemahkan daya juang (resilience) anak, membuat mereka menginginkan segala sesuatu secara instan, serta menurunkan kepekaan sosial.
Sebagai solusi, Prof. Mundakir mengajak para orang tua untuk kembali hadir secara utuh bagi anak-anak mereka melalui pendampingan aktif, mengetahui apa yang dibuka anak dan dengan siapa mereka berkomunikasi di media sosial, melatih daya juang dengan tidak memanjakan anak menggunakan fasilitas berlebihan, serta membangun komunikasi yang lemah lembut agar nilai-nilai kebaikan lebih mudah diterima.
Kegiatan rutin Ahad Pagi tersebut ditutup dengan sesi konsultasi kesehatan gratis bersama dr. Husni Muzakkir. Layanan itu diberikan sebagai bentuk kepedulian Masjid Darul Arqom terhadap kesehatan jamaah setelah mendapatkan asupan rohani.
Melalui kajian ini, para orang tua di Kota Pasuruan diharapkan lebih waspada terhadap dampak negatif teknologi, sembari tetap memanfaatkan sisi positifnya untuk mencetak generasi emas yang berakhlak mulia.












