• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Second Chance at Education: Ketika Musisi Dunia Ganti Haluan, Kita Masih Terjebak Stigma Usia?

Marjoko oleh Marjoko
4 bulan yang lalu
in Opini
0
second change education

second change education

3
SHARES
8
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Konsep second chance at education atau kesempatan kedua dalam pendidikan telah lama menjadi salah satu keunggulan Amerika Serikat. Ide dasarnya sederhana tetapi sangat manusiawi, tidak semua orang menemukan tujuan hidupnya di usia muda, dan tidak semua perjalanan karier berjalan lurus. Karena itu, pintu pendidikan seharusnya selalu terbuka kapan pun seseorang siap untuk melangkah. Konsep ini bukan hanya teori; ia hidup dan terlihat nyata dalam banyak contoh figur publik dunia. Seorang mahasiswa Indonesia pernah mengungkapkan kegelisahannya kepada seorang profesor di Amerika karena merasa “terlambat” di usia 25 tahun. Namun sang profesor menenangkan, menjelaskan bahwa di Amerika, tidak ada kata terlambat. Sistem second chance memungkinkan orang yang pernah berhenti kuliah untuk kembali, memungkinkan orang usia 40–50 tahun untuk mengganti jurusan, bahkan memulai profesi baru. Pendidikan dipandang sebagai proses seumur hidup, bukan fase yang hanya berlaku di usia muda.

Fenomena kesempatan kedua ini juga tampak jelas dalam dunia hiburan internasional. Jennifer Lopez, atau J.Lo, misalnya, tiba-tiba mengejutkan banyak orang ketika memperoleh gelar PGA, yaitu keanggotaan Producers Guild of America. Ia tidak hanya dikenal sebagai penyanyi atau aktris, tetapi kini juga sebagai produser film profesional. Salah satu karyanya yang terbaru adalah film Atlas di Netflix, sebuah film bergenre kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan bahwa J.Lo tidak takut mengeksplorasi bidang kreatif baru. Di sisi lain, Jared Leto seorang musisi utama dari band 30 Seconds to Mars, mengukuhkan dirinya sebagai figur multitalenta. Selain tetap aktif bermusik, ia diam-diam terjun sebagai produser sekaligus aktor utama dalam film Tron: Ares, yang juga mengangkat tema AI. Menariknya, dua musisi dari latar belakang berbeda itu sama-sama menghasilkan karya film bertema kecerdasan buatan, ini menunjukkan bahwa eksplorasi karier tidak mengenal batas profesi. Ketika seseorang diberi ruang untuk belajar ulang, kemampuan mereka dapat meluas melampaui identitas awalnya.

Fenomena ini tidak berhenti di Amerika saja. Di Eropa, konsep serupa juga tampak dalam perjalanan para musisi besar. Seperti Adele, seorang diva internasional. kini Adele memilih fokus kuliah jurusan sastra Inggris dan vakum sejenak dari dunia permusikan. Bagi sebagian orang, ini terdengar lucu, seorang penyanyi besar yang memilih kembali menjadi mahasiswa seperti orang biasa. Namun bila dipahami lebih dalam, langkah Adele justru menunjukkan bahwa minat seseorang bisa berkembang di usia matang. Mungkin kelak ia menjadi dosen, mungkin tidak. Yang jelas, pendidikan bukan sesuatu yang memalukan ketika ditempuh pada usia dewasa. Ini justru menjadi ruang untuk memperdalam diri, memperluas sudut pandang, dan menemukan jati diri baru.

Pertanyaannya, mampukah Indonesia menerapkan konsep second chance education seperti ini? Secara budaya, Indonesia masih memiliki tantangan. Banyak masyarakat memegang pandangan bahwa jalur hidup yang “benar” adalah lulus SMA, masuk kuliah di usia 18 tahun, lalu bekerja. Ketika seseorang ingin kuliah di usia 30–40 tahun, sering muncul rasa malu atau takut dianggap gagal. Stigma ini membuat banyak orang ragu mengejar kembali pendidikan, meskipun sebenarnya mereka sangat membutuhkan peningkatan kompetensi. Selain stigma, faktor ekonomi juga menjadi hambatan. Pendidikan tinggi di Indonesia, terutama di perguruan tinggi swasta, dapat menjadi beban yang cukup besar bagi pekerja dewasa yang sudah berkeluarga.

Related Post

Tenang bukan karena takut, tapi karena yakin Allah Maha Adil.

GUDBAE: Gak Usah Drama, Biar Allah Eksekusi

14 Maret 2026
Kita boleh tertawa saat ancaman masih jauh, tapi sejarah selalu menghukum mereka yang mengira candaan adalah strategi bertahan hidup.

Kita Pernah Salah Soal Covid, Yakin Masih Mau Bercanda Soal Perang Dunia III?

3 Maret 2026

Bukan Kurang Uang, Tapi Terlalu Banyak “Kebutuhan” yang Diciptakan

10 Februari 2026

Quiet Confidence: Mengapa Orang yang Tenang Justru Paling Kuat Secara Mental

3 Februari 2026

Namun dibalik tantangan itu, Indonesia sebenarnya punya peluang besar. Kebutuhan upskilling dan reskilling kini meningkat seiring perubahan ekonomi dan digitalisasi. Perusahaan mencari pekerja yang mampu beradaptasi, dan pekerja dewasa menyadari bahwa mereka harus memperbarui kemampuan untuk tetap relevan. Selain itu, perkembangan pendidikan daring, kelas hybrid, program sertifikasi singkat, hingga kursus berbasis kompetensi menjadi akses baru yang lebih fleksibel bagi orang dewasa. Generasi muda Indonesia juga semakin terbiasa dengan gagasan bahwa belajar tidak berhenti setelah mendapatkan gelar.

Untuk mewujudkan konsep second chance education, Indonesia dapat mengambil beberapa langkah penting. Pertama, menghapus stigma sosial tentang usia belajar melalui kampanye literasi publik. Menjadi mahasiswa pada usia 35 atau 45 harus dipandang sebagai hal yang wajar. Kedua, perguruan tinggi perlu menyediakan struktur pendidikan fleksibel seperti kelas malam, kelas akhir pekan, dan program pembelajaran campuran yang dapat diikuti pekerja. Ketiga, pemerintah dan industri harus menyediakan skema pembiayaan khusus untuk pekerja dewasa. Keempat, program pendidikan harus diselaraskan dengan kebutuhan nyata dunia kerja sehingga orang yang kembali belajar memperoleh manfaat praktis. Kelima, Indonesia dapat mengadopsi sistem pengakuan pengalaman kerja menjadi kredit akademik, seperti yang dilakukan banyak negara maju.

Dengan perubahan kebijakan dan pergeseran mindset, Indonesia bukan hanya bisa mengadopsi konsep second chance education, tetapi sebenarnya membutuhkannya. Dunia kerja berubah cepat, teknologi berkembang pesat, dan minat manusia tidak statis. Jika J.Lo bisa menjadi produser film AI, jika Jared Leto bisa menjalani dua dunia sekaligus, dan jika Adele bisa kembali menjadi mahasiswa, maka orang Indonesia pun harus diberi kesempatan yang sama. Pendidikan tidak boleh menjadi pintu yang tertutup setelah usia muda. Ia harus menjadi jalan yang selalu dapat kita pilih kembali, setiap kali kita siap menjadi versi diri yang lebih matang.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: opinipendidikanselfdevelopmentselfupdate
Share1Tweet1Share
Marjoko

Marjoko

Seorang pecinta tulisan, pengulik desain grafis, and Good Daddy in every universe.

Related Posts

Tenang bukan karena takut, tapi karena yakin Allah Maha Adil.
Opini

GUDBAE: Gak Usah Drama, Biar Allah Eksekusi

oleh Nurul Mawaridah
14 Maret 2026
Kita boleh tertawa saat ancaman masih jauh, tapi sejarah selalu menghukum mereka yang mengira candaan adalah strategi bertahan hidup.
Opini

Kita Pernah Salah Soal Covid, Yakin Masih Mau Bercanda Soal Perang Dunia III?

oleh Marjoko
3 Maret 2026
Opini

Bukan Kurang Uang, Tapi Terlalu Banyak “Kebutuhan” yang Diciptakan

oleh Marjoko
10 Februari 2026
Next Post

Suasana TK Al Kautsar Mendadak Hening… Detik Berikutnya Bikin Merinding!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 menjadi penegas presisi hisab KHGT sekaligus simbol kuat arah baru persatuan kalender umat Islam dunia.

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026: Validasi Astronomis KHGT dan Momentum Menuju Kesatuan Umat

3 Maret 2026

Berita Duka: Ustaz Saiful Hadi Wafat, PDM Kota Pasuruan Kehilangan Sosok Teladan Dakwah

20 Februari 2026
Menghidupkan malam-malam akhir Ramadhan, Majelis Tabligh PDM Kota Pasuruan menyelenggarakan kajian i’tikaf di lima masjid yang tersebar di Kota Pasuruan.

Majelis Tabligh PDM Kota Pasuruan Gelar Rangkaian Kajian I’tikaf Ramadhan

6 Maret 2026
Menuju 2029, Bawaslu dan Muhammadiyah Kota Pasuruan resmi bersinergi kawal demokrasi bersih dan berintegritas.

Langkah Besar Menuju 2029: Bawaslu dan Muhammadiyah Kota Pasuruan Teken MoU Strategis

3 Maret 2026

Ustaz Miftakhul Jannah Mengajak Menjadi Manusia Bertakwa Pasca Ramadhan

20 Maret 2026

Momentum Idul Fitri 1447 H, Jamaah di Lapangan SLB Wironini Diajak Jaga “Ritme” Ibadah Pasca Ramadan

20 Maret 2026
Dosa adalah malware yang merusak sistem fitrah, dan Ramadhan adalah proses reset total atas virus-virus keburukan.

Khutbah Idul Fitri di Halaman Masjid Baiturrahman: Rekonstruksi Jiwa Menuju Fitrah Orisinal

20 Maret 2026
Kita besarkan Allah di tempat ibadah, tapi kita agungkan kekayaan, kekuasaan, dan kedudukan di luar sana.

Ustaz Nurul Humaidi Bongkar Fakta: Banyak Orang Bertakbir di Masjid Tapi Takabur di Luar! 

20 Maret 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan