Saya mulai percaya bahwa negeri ini punya metode sendiri untuk mengelola kepanikan publik. Bukan dengan menenangkan rakyat, melainkan dengan memberi mereka ketakutan baru.
Polanya hampir selalu sama.
Ketika harga kebutuhan pokok naik, lapangan kerja menyusut, dan rakyat mulai banyak bertanya kenapa hidup makin sulit, tiba-tiba ruang publik dipenuhi isu-isu ganjil. Kadang soal kriminal misterius. Kadang santet. Kadang Ninja. Sekarang pocong.
Dan anehnya, masyarakat selalu berhasil dibuat sibuk.
Belakangan media sosial ramai video pocong keliling kampung. Ada yang mengetuk rumah warga, berdiri di tengah jalan, mengejar pengendara motor, bahkan disebut membawa senjata tajam. Video-video itu beredar cepat sekali. Seolah-olah Indonesia sedang darurat mayat hidup.
Lucunya, beberapa hari kemudian polisi menangkap “pocong” itu. Ternyata cuma remaja tanggung yang ingin viral di TikTok.
Selesai?
Tidak sesederhana itu.
Sebab persoalannya bukan pada pocongnya, melainkan mengapa masyarakat begitu mudah percaya dan mengapa isu seperti ini selalu menemukan momentum ketika situasi ekonomi sedang tidak baik-baik saja.
Coba lihat keadaan hari ini.
Harga pangan naik perlahan tapi pasti. Daya beli masyarakat melemah. PHK terjadi di mana-mana. Kelas menengah mulai turun kasta diam-diam. Orang bekerja lebih keras hanya untuk mempertahankan hidup yang kualitasnya justru makin turun. Tetapi di tengah situasi seperti itu, ruang publik justru dijejali ketakutan-ketakutan receh yang menguras energi sosial.
Masyarakat dipaksa sibuk takut keluar malam.
Takut pocong.
Takut begal.
Takut penculik.
Takut orang asing.
Padahal mestinya yang lebih menakutkan adalah harga beras yang terus merangkak naik sementara gaji jalan di tempat.
Tetapi ketakutan memang alat politik paling murah.
Orang lapar bisa marah.
Orang miskin bisa melawan.
Tetapi orang takut biasanya akan diam.
Sejarah Indonesia sebenarnya penuh pola seperti ini. Dan tragedi Ninja 1998 mungkin salah satu contoh paling telanjang.
Saat krisis moneter menghancurkan Indonesia, rupiah ambruk dan rakyat kehilangan pegangan hidup, di banyak daerah Tapal Kuda Jawa Timur justru muncul isu Ninja misterius. Orang-orang berpakaian hitam disebut berkeliaran membunuh dukun santet, guru ngaji, sampai kiai pesantren. Warga ronda semalaman. Jalan-jalan desa ditutup. Orang asing dicurigai. Massa bergerak liar.
Yang menarik, sampai hari ini negara tidak pernah benar-benar mampu menjelaskan siapa sebenarnya “Ninja” itu.
Tidak ada penuntasan serius.
Tidak ada pengungkapan utuh.
Tidak ada keberanian membongkar siapa aktor yang bermain di balik kekacauan tersebut.
Akhirnya publik hanya mewarisi trauma tanpa pengetahuan.
Dan dalam kekosongan penjelasan itu, negara seperti membiarkan masyarakat hidup bersama ketakutan yang menggantung.
Saya sering merasa tragedi-tragedi seperti ini sengaja dibiarkan kabur. Sebab masyarakat yang bingung lebih mudah diarahkan daripada masyarakat yang paham.
Bayangkan jika energi publik waktu itu sepenuhnya diarahkan untuk mempertanyakan mengapa ekonomi runtuh, mengapa korupsi merajalela, atau siapa yang paling diuntungkan dari krisis nasional. Situasinya tentu berbeda.
Tetapi ketakutan berhasil mengalihkan fokus.
Rakyat sibuk berjaga malam.
Sibuk curiga pada tetangga.
Sibuk memburu musuh imajiner.
Dan pola itu tampaknya diwariskan sampai hari ini, hanya medianya yang berubah.
Dulu isu disebarkan lewat pos ronda dan bisik-bisik kampung. Sekarang lewat TikTok, reels Instagram, YouTube Shorts, dan grup WhatsApp keluarga yang isinya lebih menyeramkan daripada film horor.
Bedanya, sekarang ketakutan bahkan sudah dimonetisasi.
Semakin menyeramkan sebuah video, semakin tinggi view-nya.
Semakin panik masyarakat, semakin besar engagement-nya.
Ketakutan berubah menjadi industri konten.
Ironisnya, publik sering gagal membedakan mana ancaman nyata dan mana distraksi massal.
Padahal ancaman paling nyata justru ada di depan mata: ketimpangan ekonomi, mahalnya pendidikan, krisis pekerjaan, dan biaya hidup yang makin tidak masuk akal.
Tetapi isu-isu seperti itu kalah seksi dibanding video pocong berdiri di pinggir sawah dengan backsound dengung setan.
Mungkin karena membahas ekonomi menuntut berpikir panjang, sedangkan ketakutan jauh lebih instan.
Dan di era digital, hal instan selalu menang.
Saya tidak sedang mengatakan semua teror sosial adalah konspirasi negara. Itu terlalu malas secara intelektual. Tetapi saya juga tidak cukup naif untuk percaya bahwa kepanikan massal selalu terjadi secara alami tanpa ada pihak yang memanfaatkannya.
Dalam politik, ketakutan adalah instrumen kekuasaan yang sangat efektif. Publik yang takut biasanya mudah diarahkan untuk menerima kontrol lebih besar, mudah dipecah, dan mudah lupa pada persoalan utama.
Karena itu saya selalu curiga ketika setiap kondisi ekonomi memburuk, selalu muncul “hantu” baru di tengah masyarakat.
Kadang hantu itu bernama Ninja.
Kadang begal.
Kadang penculik anak.
Sekarang pocong.
Besok mungkin bentuk lain lagi.
Dan rakyat kembali sibuk memperdebatkan makhluk-makhluk itu sementara harga kebutuhan terus naik diam-diam tanpa demonstrasi sebesar rasa takut terhadap pocong.
Mungkin inilah ironi terbesar bangsa ini: kita terlalu mudah takut pada hantu, tetapi terlalu terbiasa hidup bersama ketidakadilan.
Padahal kalau dipikir-pikir, makhluk paling menyeramkan di negeri ini bukan pocong yang berkeliaran malam hari.
Melainkan situasi ketika masyarakat terus-menerus dipelihara dalam ketakutan agar lupa siapa sebenarnya yang membuat hidup mereka makin sulit.













