• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

Nashrul Muminin oleh Nashrul Muminin
1 menit yang lalu
in Opini
0
Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Ilustrasi dibuat menggunakan AI

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Fenomena “mood-moodan” pada perempuan sering menjadi perbincangan dalam relasi sosial maupun percintaan, bahkan tidak jarang dijadikan stereotip yang disederhanakan sebagai “tidak stabil” atau “susah dimengerti”.

Padahal jika ditelaah secara ilmiah dan psikologis, perubahan mood bukanlah sesuatu yang muncul tanpa sebab, melainkan hasil interaksi kompleks antara kondisi emosi, cara berpikir, pengalaman relasi, serta faktor biologis dan sosial yang saling memengaruhi.

Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan bisa tampak ceria, lalu berubah menjadi diam, sensitif, atau lebih tertutup dalam waktu singkat, dan perubahan ini sering kali tidak disertai penjelasan verbal yang mudah dipahami oleh pasangan, sehingga menimbulkan kebingungan dalam komunikasi.

Dalam perspektif psikologi emosi, manusia memiliki sistem regulasi emosi yang dipengaruhi oleh pengalaman hidup, tekanan lingkungan, dan kondisi internal yang tidak selalu stabil setiap waktu. Perempuan dalam beberapa kajian psikologi cenderung memiliki sensitivitas emosional yang lebih tinggi terhadap stimulus sosial, terutama yang berkaitan dengan relasi interpersonal seperti perhatian, komunikasi, dan respons pasangan.

Related Post

Profesor bisa salah, juri bisa keliru, karena manusia tidak pernah sepenuhnya objektif berpikir/Ilustrasi AI

Peserta Sudah Benar, Tapi Dikalahkan Ego Juri? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

17 Mei 2026
Pakai AI bukan curang, asal kamu tetap berpikir kritis dan gak bergantung sepenuhnya/Ilustrasi Shutterstock.com

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

4 Mei 2026

Belajar dari Film yang Tiba-tiba Laku Keras: Kelas Menengah Bukan Lemah, Mereka Hanya Lelah

11 April 2026

Bedah Gaya Komunikasi dr. Gia dan dr. Tirta: Antara “Softspoken” dan “Hardspoken”, Mana yang Lebih Manjur?

11 April 2026

Sensitivitas ini bukan kelemahan, tetapi bentuk kepekaan yang membuat emosi lebih mudah terpicu oleh hal-hal kecil yang mungkin tidak disadari oleh pihak lain. Ketika ada perasaan tidak nyaman, kecewa kecil, atau ekspektasi yang tidak terpenuhi, emosi tersebut tidak selalu langsung diungkapkan, tetapi disimpan dalam batin hingga akhirnya muncul dalam bentuk perubahan suasana hati.

Salah satu sebab utama munculnya “mood-moodtan” adalah akumulasi emosi yang tidak tersampaikan secara langsung. Dalam banyak hubungan, perempuan sering memilih untuk tidak langsung mengungkapkan rasa kecewa atau tidak nyamannya demi menjaga suasana tetap baik atau menghindari konflik.

Namun ketika emosi tersebut terus menumpuk, maka akan muncul titik jenuh emosional yang akhirnya termanifestasi dalam perubahan sikap, seperti menjadi lebih diam, mudah tersinggung, atau terlihat menjauh. Dalam konteks ini, perubahan mood sebenarnya adalah bentuk “bahasa emosional tidak langsung” yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang belum terselesaikan secara komunikasi.

Selain faktor psikologis, perubahan mood juga dipengaruhi oleh faktor biologis dan hormonal yang secara ilmiah diakui dapat memengaruhi suasana hati. Fluktuasi hormon seperti estrogen dan progesteron dapat memengaruhi energi, sensitivitas, dan stabilitas emosi seseorang dalam periode tertentu.

Namun penting dipahami bahwa faktor biologis ini bukan satu-satunya penyebab, melainkan bagian dari sistem yang lebih luas yang mencakup pikiran, lingkungan sosial, serta kualitas hubungan interpersonal yang sedang dijalani. Dengan kata lain, tubuh dan emosi bekerja secara terintegrasi, sehingga perubahan kecil dalam salah satu aspek dapat berdampak pada suasana hati secara keseluruhan.

Dalam kajian psikologi komunikasi relasional, perempuan sering menggunakan komunikasi emosional tidak langsung sebagai cara untuk menyampaikan perasaan. Artinya, tidak semua emosi disampaikan melalui kata-kata eksplisit, tetapi melalui perubahan ekspresi, nada bicara, atau sikap diam.

Ketika komunikasi dalam hubungan tidak berjalan efektif—misalnya merasa tidak didengar, tidak dipahami, atau tidak dihargai—maka perubahan mood menjadi bentuk respons non-verbal terhadap situasi tersebut. Inilah yang sering disalahartikan sebagai “tidak jelas”, padahal sebenarnya merupakan bentuk komunikasi yang tidak tersampaikan secara verbal.

Jika dilihat dari sisi sebab dan akibat dalam hubungan, perubahan mood yang tidak dipahami dengan baik sering menimbulkan kesalahpahaman. Laki-laki yang cenderung mengandalkan komunikasi langsung dan logis sering merasa kebingungan karena tidak mendapatkan penjelasan yang eksplisit, sementara perempuan yang sedang berada dalam kondisi emosional tertentu belum tentu siap menjelaskan secara detail apa yang sedang dirasakan.

Akibatnya, terjadi jarak komunikasi: satu pihak merasa diabaikan, sementara pihak lain merasa tidak dimengerti. Jika pola ini terus berulang, maka hubungan dapat mengalami kelelahan emosional yang perlahan mengurangi kedekatan.

Dalam perspektif Islam, emosi manusia dipandang sebagai bagian dari fitrah yang tidak dapat dihilangkan, tetapi harus diarahkan agar tetap berada dalam koridor akhlak yang baik. Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا
“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah: 83)

Ayat ini menunjukkan bahwa komunikasi dalam kondisi apa pun harus tetap dijaga agar tidak melukai perasaan orang lain. Perubahan mood tidak dilarang dalam Islam, tetapi cara mengekspresikannya tetap harus memperhatikan adab dan dampaknya terhadap hubungan sosial. Dalam ayat lain, Allah juga menekankan pentingnya kelembutan dalam interaksi:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah, engkau bersikap lemah lembut kepada mereka.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini menegaskan bahwa relasi yang sehat dibangun di atas dasar kelembutan, bukan hanya tuntutan logika atau penilaian sepihak terhadap emosi seseorang.

Dalam kajian fikih Islam, perubahan emosi manusia tidak dianggap sebagai sesuatu yang bermasalah secara hukum. Dalam kaidah fikih disebutkan bahwa manusia pada dasarnya bersifat dinamis dan mengalami perubahan keadaan. Ulama fikih juga menjelaskan bahwa kondisi perempuan secara biologis dan psikologis dapat memengaruhi suasana hati, dan hal ini dipahami sebagai bagian dari fitrah, bukan kesalahan.

Dalam literatur fikih seperti Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd, terlihat bagaimana syariat sangat memahami kondisi perempuan dalam berbagai aspek kehidupan, yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang realistis dalam memandang dinamika manusia, termasuk emosinya.

Sementara dalam konteks hukum negara Indonesia, perlindungan terhadap kondisi psikologis dan martabat manusia dijamin dalam UUD 1945 Pasal 28G ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, dan martabatnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam relasi sosial, setiap individu berhak dipahami secara adil, termasuk dalam kondisi emosionalnya. Selain itu, Pasal 28D ayat (1) juga menegaskan hak atas perlakuan yang adil dan kepastian, yang dalam konteks hubungan dapat dimaknai sebagai hak untuk tidak disalahpahami hanya karena perubahan suasana hati.

Jika disimpulkan secara mendalam, fenomena “mood-moodan” pada perempuan bukanlah bentuk ketidakstabilan tanpa sebab, melainkan hasil dari interaksi kompleks antara emosi yang terpendam, sensitivitas relasional, faktor biologis, serta dinamika komunikasi dalam hubungan.

Perubahan mood pada dasarnya adalah bentuk bahasa emosional yang tidak selalu terucap, sehingga yang dibutuhkan bukan penilaian atau generalisasi, tetapi pemahaman yang lebih empatik terhadap cara seseorang mengekspresikan perasaannya. Karena dalam relasi manusia, yang sering menjadi masalah bukan perubahan mood itu sendiri, melainkan ketidakmampuan memahami makna di balik perubahan tersebut.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: perempuanPsikologiselfupdate
ShareTweetShare
Nashrul Muminin

Nashrul Muminin

Related Posts

Profesor bisa salah, juri bisa keliru, karena manusia tidak pernah sepenuhnya objektif berpikir/Ilustrasi AI
Opini

Peserta Sudah Benar, Tapi Dikalahkan Ego Juri? Ini Penjelasan Ilmiahnya!

oleh Marjoko
17 Mei 2026
Pakai AI bukan curang, asal kamu tetap berpikir kritis dan gak bergantung sepenuhnya/Ilustrasi Shutterstock.com
Opini

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

oleh Marjoko
4 Mei 2026
Belajar dari film kelas menengah yang laku keras: bertahan hidup ternyata lebih heroik daripada menang
Opini

Belajar dari Film yang Tiba-tiba Laku Keras: Kelas Menengah Bukan Lemah, Mereka Hanya Lelah

oleh Marjoko
11 April 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
MI Muhammadiyah Kunjungan ke P3GI

Museum Gula yang Baru Diresmikan Diserbu Siswa MI Muhammadiyah, Ada Praktik Tanam Tebu

19 Mei 2026
Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

27 Mei 2026
Malam takbiran Idul Adha 1447 H menghadirkan gema Allahu Akbar yang menyatukan hati umat Islam dalam keikhlasan, pengorbanan, rasa syukur, serta harapan agar hidup senantiasa dipenuhi keberkahan dan ketakwaan kepada Allah SWT. (foto: Nashrul Mu'minin/pasmu.id)

Hari Raya Orang muslim melalui Takbir Idul Adha 1447 H/ 2026 M

27 Mei 2026
Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Kuliah Belasan Juta, tapi Susah Dapat Kerja: Ada yang Salah dengan Kampus Kita?

27 Mei 2026
Idul Adha bukan sekadar tentang kurban, tapi tentang keberanian menempatkan Allah di atas segala cinta dunia.(foto: pasmu.id)

Slamet Suharto: Pengorbanan Sebagai Jalan Peradaban

27 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan