• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Menembus Macet Masa Depan: Teknologi Hebat Tidak Akan Cukup Tanpa Perubahan Cara Berpikir

Dary Yumna Joesi oleh Dary Yumna Joesi
34 detik yang lalu
in Opini
0
Teknologi transportasi terbaik bukan mobil tercanggih, melainkan sistem publik yang membuat manusia berhenti bergantung kendaraan pribadi. (Ilustrasi: Shutterstock.com)

Teknologi transportasi terbaik bukan mobil tercanggih, melainkan sistem publik yang membuat manusia berhenti bergantung kendaraan pribadi. (Ilustrasi: Shutterstock.com)

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Kemacetan lalu lintas telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat modern, terutama di kota-kota besar. Ironisnya, di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat, masalah ini justru terasa semakin kompleks. Banyak orang membayangkan bahwa kemajuan teknologi transportasi akan otomatis menghapus kemacetan. Mobil listrik, kendaraan otonom berbasis kecerdasan buatan, hingga sistem transportasi pintar sering dipromosikan sebagai jawaban atas kekacauan jalan raya. Namun, pertanyaannya adalah: apakah teknologi benar-benar menyelesaikan akar masalah, atau hanya mempercantik sistem lama yang sebenarnya masih bermasalah?

Menurut saya, teknologi transportasi memang membawa kemajuan besar, tetapi tidak semua inovasi otomatis menciptakan solusi nyata. Ada kecenderungan masyarakat dan industri untuk terlalu fokus pada kecanggihan kendaraan pribadi, padahal inti persoalannya terletak pada pola mobilitas manusia itu sendiri. Selama setiap orang tetap ingin bepergian menggunakan kendaraan pribadi, kemacetan akan tetap terjadi, seberapa modern pun teknologinya.

Contoh paling jelas adalah kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV). Kehadiran mobil dan motor listrik memang memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Polusi udara dapat ditekan, konsumsi bahan bakar fosil berkurang, dan kualitas udara kota berpotensi membaik. Dari sisi keberlanjutan lingkungan, ini adalah langkah yang sangat penting.

Namun, kendaraan listrik memiliki keterbatasan mendasar: ia tidak mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Satu mobil listrik tetap membutuhkan ruang parkir, tetap memenuhi jalan raya, dan tetap berkontribusi terhadap kepadatan lalu lintas. Jika jutaan kendaraan berbahan bakar bensin diganti menjadi jutaan kendaraan listrik tanpa perubahan sistem transportasi, maka hasil akhirnya hanyalah kemacetan yang lebih ramah lingkungan. Dengan kata lain, EV menyelesaikan masalah emisi, tetapi belum tentu menyelesaikan masalah mobilitas.

Related Post

Perdebatan musik dalam Islam seharusnya disikapi bijak, mengutamakan substansi moral dibanding sekadar penghakiman formalistik semata/ilustrasi: shutterstock.com

Islam dan Musik: Perdebatan Lama yang Perlu Disikapi dengan Kedewasaan

25 Mei 2026
Islam menyatukan iman, ilmu, dan etika dalam setiap evolusi transportasi demi kemaslahatan umat/Ilustrasi Joesi

Sering Kita Naiki, Apakah Transportasi Darat, Udara, hingga Air Sudah Sesuai dengan Syariat Islam? Ini Jawabannya!

17 Mei 2026

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

4 Mei 2026

Kekuatan Gotong Royong Digital: Membuat Linux Menjadi Tulang Punggung Internet Saat Ini

9 Februari 2026

Hal yang sama juga dapat dilihat pada perkembangan kendaraan otonom atau Autonomous Vehicles (AV). Teknologi ini terdengar sangat menjanjikan. Kendaraan yang dikendalikan AI diyakini mampu mengurangi kecelakaan akibat human error, menjaga jarak aman secara konsisten, dan mengatur arus lalu lintas lebih efisien. Secara teori, jalan raya masa depan akan menjadi lebih tertib karena kendaraan dapat saling terhubung dan berkomunikasi.

Tetapi ada asumsi penting yang sering diabaikan: teknologi bekerja optimal hanya jika lingkungannya juga siap. Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, kualitas infrastruktur jalan masih menjadi tantangan besar. Marka jalan yang memudar, sistem lalu lintas yang tidak konsisten, hingga perilaku berkendara yang kurang disiplin dapat menghambat efektivitas AI. Selain itu, muncul pertanyaan etis dan psikologis: apakah masyarakat benar-benar siap mempercayakan keselamatan mereka sepenuhnya kepada algoritma?

Di sisi lain, ada risiko bahwa kendaraan otonom justru meningkatkan jumlah perjalanan. Ketika berkendara menjadi lebih nyaman dan tidak melelahkan, orang bisa semakin sering menggunakan mobil pribadi. Bahkan, kendaraan tanpa pengemudi berpotensi beroperasi tanpa penumpang, misalnya hanya untuk menjemput pemiliknya atau mencari parkir. Jika ini terjadi dalam skala besar, jalan raya bisa menjadi lebih padat dibanding sekarang.

Karena itu, menurut saya, solusi paling rasional untuk masa depan transportasi bukanlah membuat mobil pribadi semakin canggih, melainkan membuat transportasi publik semakin menarik. Kota yang sukses mengurangi kemacetan umumnya bukan kota dengan mobil paling modern, tetapi kota dengan sistem transportasi publik yang efisien, terintegrasi, dan nyaman.

Konsep seperti Mobility as a Service (MaaS) menjadi sangat relevan dalam konteks ini. MaaS memungkinkan masyarakat menggunakan berbagai moda transportasi—kereta, bus, ojek online, sepeda listrik, hingga skuter—melalui satu aplikasi dan satu sistem pembayaran. Pendekatan ini jauh lebih strategis karena fokusnya bukan pada kepemilikan kendaraan, tetapi pada kemudahan mobilitas.

Selain itu, perkembangan micro-mobility seperti sepeda listrik dan skuter elektrik juga dapat membantu menyelesaikan masalah perjalanan jarak pendek. Banyak kemacetan terjadi karena penggunaan mobil untuk perjalanan yang sebenarnya bisa ditempuh beberapa kilometer saja. Jika fasilitas pedestrian dan jalur sepeda diperbaiki, masyarakat akan memiliki alternatif yang lebih praktis dan sehat.

Namun, keberhasilan teknologi transportasi tetap bergantung pada kebijakan pemerintah dan perubahan budaya masyarakat. Teknologi hanyalah alat. Jika orientasi pembangunan kota masih berpusat pada kendaraan pribadi, maka inovasi secanggih apa pun hanya akan menjadi solusi sementara. Pemerintah perlu berani memprioritaskan transportasi umum, memperluas integrasi antarmoda, dan membangun ruang kota yang lebih ramah pejalan kaki.

Di sisi masyarakat, perubahan pola pikir juga penting. Selama mobil pribadi dianggap simbol status sosial dan kenyamanan utama, transisi menuju sistem transportasi kolektif akan berjalan lambat. Padahal, kota modern yang efisien bukanlah kota yang dipenuhi mobil mewah, melainkan kota yang mampu membuat warganya bergerak cepat tanpa harus memiliki kendaraan sendiri.

Pada akhirnya, masa depan transportasi bukan sekadar soal teknologi paling mutakhir, tetapi soal bagaimana manusia memilih menggunakannya. Mobil listrik, AI, dan kendaraan otonom memang memiliki potensi besar, tetapi mereka bukan jawaban tunggal atas kemacetan. Solusi yang lebih mendasar adalah menciptakan sistem mobilitas yang mendorong orang untuk berbagi ruang jalan secara lebih efisien.

Jika teknologi digunakan untuk memperkuat transportasi publik dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, maka masa depan kota akan menjadi lebih bersih, lebih cepat, dan lebih manusiawi. Tetapi jika teknologi hanya dipakai untuk membuat lebih banyak mobil pribadi yang lebih mahal dan lebih pintar, maka kita mungkin tetap akan terjebak di lampu merah yang sama—hanya dengan dashboard yang lebih canggih.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: AIakan imitasimasa depanteknologi
ShareTweetShare
Dary Yumna Joesi

Dary Yumna Joesi

Mechanical Engineering graduate specializing in materials, manufacturing, and energy conversion, currently serving as an Automotive Engineering teacher and school data administrator (operator) at SMK Muhammadiyah 1 Pasuruan. \,,/ Just Enjoyneering this life \,,/

Related Posts

Perdebatan musik dalam Islam seharusnya disikapi bijak, mengutamakan substansi moral dibanding sekadar penghakiman formalistik semata/ilustrasi: shutterstock.com
Opini

Islam dan Musik: Perdebatan Lama yang Perlu Disikapi dengan Kedewasaan

oleh Dary Yumna Joesi
25 Mei 2026
Islam menyatukan iman, ilmu, dan etika dalam setiap evolusi transportasi demi kemaslahatan umat/Ilustrasi Joesi
Sejarah

Sering Kita Naiki, Apakah Transportasi Darat, Udara, hingga Air Sudah Sesuai dengan Syariat Islam? Ini Jawabannya!

oleh Dary Yumna Joesi
17 Mei 2026
Pakai AI bukan curang, asal kamu tetap berpikir kritis dan gak bergantung sepenuhnya/Ilustrasi Shutterstock.com
Opini

Ancaman atau Peluang? Rahasia yang Perlu Diketahui Produktivitas Naik 40% Berkat AI

oleh Marjoko
4 Mei 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
MI Muhammadiyah Kunjungan ke P3GI

Museum Gula yang Baru Diresmikan Diserbu Siswa MI Muhammadiyah, Ada Praktik Tanam Tebu

19 Mei 2026
Teknologi transportasi terbaik bukan mobil tercanggih, melainkan sistem publik yang membuat manusia berhenti bergantung kendaraan pribadi. (Ilustrasi: Shutterstock.com)

Menembus Macet Masa Depan: Teknologi Hebat Tidak Akan Cukup Tanpa Perubahan Cara Berpikir

28 Mei 2026
Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Mengapa Perempuan Sering ‘Mood-Moodan?’ Analisis Psikologi Emosi dan Komunikasi Relasional

27 Mei 2026
Malam takbiran Idul Adha 1447 H menghadirkan gema Allahu Akbar yang menyatukan hati umat Islam dalam keikhlasan, pengorbanan, rasa syukur, serta harapan agar hidup senantiasa dipenuhi keberkahan dan ketakwaan kepada Allah SWT. (foto: Nashrul Mu'minin/pasmu.id)

Hari Raya Orang muslim melalui Takbir Idul Adha 1447 H/ 2026 M

27 Mei 2026
Ilustrasi dibuat menggunakan AI

Kuliah Belasan Juta, tapi Susah Dapat Kerja: Ada yang Salah dengan Kampus Kita?

27 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan