• Kabar
  • Fakta Islam
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Unik
  • Cerpen

Topik Populer

  • Palestina
  • Dakwah
  • Perang Dagang

Ikuti kami

  • 12.8k Fans
  • 1.3k Followers
  • 2.4k Followers
  • 7.1k Subscribers
Pasmu
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
KONTRIBUSI
ArtMagz
No Result
View All Result
  • Login
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah
Home Opini

Islam dan Musik: Perdebatan Lama yang Perlu Disikapi dengan Kedewasaan

Dary Yumna Joesi oleh Dary Yumna Joesi
1 minggu yang lalu
in Opini
0
Perdebatan musik dalam Islam seharusnya disikapi bijak, mengutamakan substansi moral dibanding sekadar penghakiman formalistik semata/ilustrasi: shutterstock.com

Perdebatan musik dalam Islam seharusnya disikapi bijak, mengutamakan substansi moral dibanding sekadar penghakiman formalistik semata/ilustrasi: shutterstock.com

6
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter
[post-views]

Perdebatan tentang musik dalam Islam tampaknya tidak pernah benar-benar selesai. Di satu sisi, ada kelompok yang memandang musik sebagai sesuatu yang dekat dengan kelalaian dan berpotensi menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual. Di sisi lain, ada pula pandangan yang menilai musik sebagai bagian dari seni dan ekspresi budaya yang dapat menjadi sarana kebaikan. Polemik ini kembali relevan di tengah kehidupan modern ketika musik hampir tidak bisa dipisahkan dari aktivitas sehari-hari masyarakat.

Hari ini, musik hadir di mana-mana. Dari pusat perbelanjaan, transportasi umum, media sosial, hingga ruang-ruang pribadi melalui layanan streaming digital, manusia hidup dalam lingkungan yang dipenuhi suara dan irama. Generasi muda tumbuh bersama musik, bahkan menjadikannya bagian dari identitas dan cara berekspresi. Dalam situasi seperti ini, pertanyaan tentang bagaimana Islam memandang musik menjadi semakin penting untuk dibahas secara jernih dan proporsional.

Sayangnya, pembahasan mengenai musik dalam sebagian diskusi keagamaan sering kali terjebak dalam dua kutub ekstrem. Ada yang langsung mengharamkan seluruh bentuk musik tanpa melihat konteks dan dampaknya. Sebaliknya, ada pula yang membebaskan semuanya atas nama seni dan hiburan tanpa mempertimbangkan nilai moral maupun spiritual yang terkandung di dalamnya. Padahal, tradisi intelektual Islam sejak dahulu justru menunjukkan adanya keragaman pandangan yang cukup luas.

Dalam khazanah fikih Islam, memang terdapat ulama yang memandang alat musik tertentu sebagai sesuatu yang makruh bahkan haram. Pendapat ini biasanya didasarkan pada penafsiran ayat dan hadis yang mengaitkan musik dengan perilaku melalaikan atau kemaksiatan. Pandangan tersebut lahir dari kekhawatiran bahwa musik dapat menjadi pintu menuju gaya hidup hedonis, mabuk-mabukan, pergaulan bebas, atau hilangnya kesadaran spiritual.

Related Post

Teknologi transportasi terbaik bukan mobil tercanggih, melainkan sistem publik yang membuat manusia berhenti bergantung kendaraan pribadi. (Ilustrasi: Shutterstock.com)

Menembus Macet Masa Depan: Teknologi Hebat Tidak Akan Cukup Tanpa Perubahan Cara Berpikir

28 Mei 2026
Islam menyatukan iman, ilmu, dan etika dalam setiap evolusi transportasi demi kemaslahatan umat/Ilustrasi Joesi

Sering Kita Naiki, Apakah Transportasi Darat, Udara, hingga Air Sudah Sesuai dengan Syariat Islam? Ini Jawabannya!

17 Mei 2026

Kekuatan Gotong Royong Digital: Membuat Linux Menjadi Tulang Punggung Internet Saat Ini

9 Februari 2026

iPhone dan Siklus Tik-Tok, Inovasinya Macet, Tapi Ekosistemnya Bikin Sulit Move On

1 November 2025

Namun, di sisi lain, banyak ulama besar yang mengambil pendekatan lebih moderat. Imam Al-Ghazali, misalnya, dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa musik pada dasarnya hanyalah suara. Dampaknya bergantung pada isi, tujuan, dan kondisi orang yang mendengarkannya. Pendapat serupa juga ditemukan dalam pandangan Ibnu Hazm maupun sejumlah ulama kontemporer seperti Syekh Yusuf Al-Qaradawi. Mereka melihat bahwa hukum musik tidak bisa dipukul rata karena musik sendiri memiliki bentuk, pesan, dan pengaruh yang berbeda-beda.

Pandangan moderat ini sebenarnya lebih relevan dengan realitas masyarakat modern. Musik tidak selalu identik dengan kemaksiatan. Banyak karya musik yang justru mengandung pesan moral, kemanusiaan, dan spiritualitas. Lagu-lagu bernuansa religi, selawat, atau musik dengan lirik yang mengajak pada optimisme dan kebaikan terbukti mampu menyentuh emosi manusia secara positif. Dalam banyak kasus, musik bahkan digunakan sebagai media dakwah yang efektif untuk menjangkau generasi muda.

Meski demikian, bukan berarti semua jenis musik dapat diterima tanpa kritik. Kekhawatiran sebagian ulama terhadap musik tetap memiliki dasar yang perlu dipahami. Industri hiburan modern memang sering mengeksploitasi musik untuk kepentingan komersial yang jauh dari nilai etika. Tidak sedikit lagu yang mempromosikan gaya hidup bebas, vulgaritas, kekerasan, hingga budaya konsumtif. Ketika musik hanya dijadikan alat untuk membangkitkan syahwat atau melalaikan manusia dari tanggung jawab sosial dan ibadah, kritik terhadap musik menjadi sesuatu yang masuk akal.

Karena itu, persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada musik itu sendiri, melainkan pada bagaimana musik digunakan dan dikonsumsi. Musik dapat menjadi sarana refleksi, hiburan sehat, dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Namun musik juga bisa menjadi alat yang mendorong pelarian diri, kecanduan, dan penurunan moral jika dikonsumsi tanpa batas.

Dalam konteks ini, umat Islam perlu membangun cara pandang yang lebih dewasa dan substantif. Perdebatan tentang halal atau haram seharusnya tidak berhenti pada simbol dan bentuk luar semata, tetapi juga mempertimbangkan dampak nyata terhadap kehidupan manusia. Jika sebuah musik membuat seseorang lebih tenang, lebih bersyukur, lebih semangat bekerja, atau lebih dekat dengan nilai kebaikan, sulit untuk menyederhanakannya sebagai sesuatu yang sepenuhnya buruk. Sebaliknya, jika musik membuat seseorang lalai terhadap ibadah, terjerumus pada perilaku destruktif, atau kehilangan kontrol diri, maka di situlah letak persoalannya.

Sikap bijak juga penting untuk menjaga persatuan di tengah masyarakat Muslim yang beragam. Perbedaan pandangan ulama tentang musik adalah bagian dari dinamika intelektual Islam yang sudah berlangsung selama berabad-abad. Tidak ada manfaatnya menjadikan isu ini sebagai bahan saling menyalahkan atau menghakimi. Orang yang memilih menjauhi musik demi kehati-hatian beragama patut dihormati. Begitu pula mereka yang menikmati musik secara sehat dan bertanggung jawab tidak seharusnya langsung dicap jauh dari agama.

Yang lebih penting adalah bagaimana umat Islam mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan realitas budaya modern. Islam tidak hadir untuk mematikan seni, tetapi untuk memberikan arah moral agar seni tetap membawa manfaat bagi manusia. Dalam sejarah Islam sendiri, seni suara, syair, dan tradisi estetika berkembang cukup kuat di berbagai peradaban Muslim.

Pada akhirnya, musik hanyalah alat. Nilainya sangat ditentukan oleh pesan yang dibawa, lingkungan yang menyertainya, dan cara manusia memanfaatkannya. Di tengah dunia yang semakin bising dan penuh distraksi, umat Islam justru dituntut untuk memiliki kemampuan memilah mana hiburan yang menenangkan jiwa dan mana yang hanya memperpanjang kelalaian.

Di atas semua itu, umat Islam tentu sepakat bahwa suara paling indah tetaplah lantunan ayat suci Al-Qur’an. Dari sanalah ketenangan hati yang sejati berasal. Namun bukan berarti seluruh bentuk seni harus dimusuhi. Yang diperlukan adalah kebijaksanaan dalam menempatkan musik secara proporsional: tidak berlebihan dalam mengagungkannya, tetapi juga tidak tergesa-gesa mengharamkan semuanya tanpa melihat konteks dan substansinya.

Donation

Buy author a coffee

Donate
Topik: halal harammusicteknologi
Share2Tweet2Share
Dary Yumna Joesi

Dary Yumna Joesi

Mechanical Engineering graduate specializing in materials, manufacturing, and energy conversion, currently serving as an Automotive Engineering teacher and school data administrator (operator) at SMK Muhammadiyah 1 Pasuruan. \,,/ Just Enjoyneering this life \,,/

Related Posts

Teknologi transportasi terbaik bukan mobil tercanggih, melainkan sistem publik yang membuat manusia berhenti bergantung kendaraan pribadi. (Ilustrasi: Shutterstock.com)
Opini

Menembus Macet Masa Depan: Teknologi Hebat Tidak Akan Cukup Tanpa Perubahan Cara Berpikir

oleh Dary Yumna Joesi
28 Mei 2026
Islam menyatukan iman, ilmu, dan etika dalam setiap evolusi transportasi demi kemaslahatan umat/Ilustrasi Joesi
Sejarah

Sering Kita Naiki, Apakah Transportasi Darat, Udara, hingga Air Sudah Sesuai dengan Syariat Islam? Ini Jawabannya!

oleh Dary Yumna Joesi
17 Mei 2026
Opini

Kekuatan Gotong Royong Digital: Membuat Linux Menjadi Tulang Punggung Internet Saat Ini

oleh Marjoko
9 Februari 2026
Next Post
Di usia ke-79, PII ditantang bukan sekadar melahirkan alumni berjabatan, tetapi kader yang mampu menjawab paradoks Indonesia: negeri kaya raya yang rakyatnya belum sepenuhnya sejahtera/foto: Suharsono pasmu.id

Refleksi 79 Tahun PII: Menanti Jiwa Kader di Tengah Kekayaan Negeri yang Tergadai

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Ilustrasi Hutan Wakaf Muhammadiyah/Generate by AI

Muhammadiyah akan Bangun Hutan di Lahan Wakaf, Lengkap dengan Vegetasi dan Laboratorium Ekologi

14 Mei 2026
Prestasi membanggakan SD Al Kautsar dalam Ujian TKA 2025–2026, wujud generasi islami, berkarakter, dan berprestasi. (Ilustrasi: pasmu.id)

Siswa SD Al Kautsar Tunjukkan Hasil Terbaik di Ujian TKA

29 Mei 2026
Pekerja rehab Masjid Darul Arqom kaget temukan sarang tawon di lubang kubah kecil, lalu lapor takmir hingga BPBD diterjunkan/Foto Agus pasmu.id

Proyek Rehab Masjid Darul Arqom Terganggu, Pekerja Temukan Sarang Tawon Raksasa di Lubang Kubah Kecil

17 Mei 2026
Iduladha yang disertai pelaksanaan khutbah oleh para khatib di berbagai titik wilayah Kota Pasuruan/Ilustrasi AI

Catat 6 Lokasi Sholat Idul Adha di Kota Pasuruan dan Imbauan Penting Ini!

18 Mei 2026
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa generasi hebat lahir dari doa dan ikhtiar berkelanjutan nyata. (foto: Marjoko/pasmu.id)

Dr. Taufiqullah, M.Pd.I. Paparkan Pola Asuh Nabi Ibrahim AS dalam Pengajian Ahad Pagi Masjid Al-Ukhuwah

31 Mei 2026
Mengungkap keterkaitan Islam, energi, dan frekuensi antara keyakinan spiritual serta perspektif ilmiah modern. (foto: ilustrasi/shutterstock.com)

Benarkah Zikir Mengubah Energi Tubuh? Rahasia Hubungan Islam, Frekuensi, dan Getaran yang Jarang Dibahas

31 Mei 2026
PSG Juara dengan drama adu finalti. (foto: Istimewa)

Dari Gol Cepat Havertz hingga Tangisan Adu Penalti: Final Liga Champions PSG vs Arsenal

31 Mei 2026
Profesionalisme pendidik dibangun melalui keteladanan, pengelolaan emosi, pembelajaran berkelanjutan, dan komunikasi sehat. (foto: Nurul Waridah/pasmu.id)

KURMA Edisi Mei 2026: Profesionalisme Aktor Pendidikan dalam Sikap, Peran, dan Keteladanan

30 Mei 2026

© 2026 PasMu - Media Pencerahan

Navigate Site

  • Home
  • Privacy Policy
  • Tentang Kami

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

PasMU cerdas

PasMU Cerdas adalah kecerdasan buatan (AI) yang siap membantu kamu menjawab pertanyaan seputar Islam. Tapi perlu diketahui bahwa jawaban yang kami berikan belum tentu 100% benar.

No Result
View All Result
  • Kabar
  • Kajian
  • Opini
  • Sejarah
  • Fakta Islam
  • Khutbah

© 2026 PasMu - Media Pencerahan